River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Senin, 25 November 2019

SBI dan BKSDA Kalsel Tanda Tangani Kerjasama Dibidang Konservasi dan Riset Bekantan

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARBARU - Bertempat di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) Kalimantan Selatan, digelar agenda Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi antara BKSDA Kalsel dengan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Sahabat Bekantan dan BKSDA
Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc dan Amalia Rezeki Saat Melakukan Penandatanganan Kerjasama

Acara penandatanganan dilakukan oleh Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc selaku Kepala BKSDA Kalsel dengan Amalia Rezeki, SPd, MPd sebagai ketua SBI, dengan dihadiri oleh unsur pimpinan kedua belah pihak berserta para undangan, kemarin.

Penandatanganan perjanjian kerjasama dengan SBI ini menurut Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc merupakan kelanjutan dari kemiteraan konservasi dengan SBI yang sudah terbangun sejak tahun 2015 lalu dan dilakukan peningkatan lagi dibidang penelitian dan pengembangan.

“Kami sangat mengapresiasi SBI yang selama ini membangun komitmen bersama dalam implementasi kemitraan konservasi melalui kegiatan pelestarian bekantan dan pemulihan ekosistem habitat bekantan di Kalsel ", jelas Mahrus.



Kerjasama yang akan berlangsung selama 5 tahun ini meliputi kawasan konservasi habitat bekantan di Kalsel. Teknis kegiatan disusun dalam Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT).


"Semoga dalam ruang lingkup kerjasama yang disepakati memberikan dampak positif bagi bagi upaya pelestarian bekantan di Kalsel, dan menumbuhkan kepedulian serta partisipasi semua pemangku kepentingan untuk turut berkontribusi dalam pelestarian bekantan," katanya.


Sementara itu Amalia Rezeki ketua SBI menyampaikan bentuk kerjasama antara SBI dan BKSDA Kalsel merupakan sinergisitas positif yang terbangun antara masyarakat dan pemerintah.



"Kami berterimakasih selama ini selalu dibina dalam setiap kegiatan terkait konservasi baik satwa liar maupun pemulihan habitat", kata Amalia Rezeki peraih penghargaan dibidang lingkungan ASEAN Youth Eco Champion Award 2019 di Cambodia, Selasa (19/11/2019).


Saat ini SBI bangun kawasan Stasiun Riset Bekantan dan Ekosistem Lahan Basah di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala,_Kalsel. Untuk itu dalam klausal perjanjian kerjasama ini tidak hanya dibidang konservasi bekantan dan pemulihan habitat, tapi juga dibidang riset


Penulis: Syaiful Anwar

Primatolog Spanyol Terpukau dengan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak Barito Kuala

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARMASIN - Stasiun Riset Bekantan atau yang juga dikenal sebagai stasiun riset ekosistem lahan basah yang dikelola bersama antara Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin memiliki peran penting sebagai tempat penelitian ilmiah ekosistem lahan basah.
stasiun riset bekantan
Amalia Rezeki bersama Elena dan Christ di Stasiun Riset Bekantan
Terutama dengan keberadaan monyet si hidung panjang Bekantan (Nasalis larvatus) dan primata lainnya seperti Lutung kelabu (Trachypithecus cristatus) serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Keberadaan primata endemik pulau Kalimantan seperti Bekantan ini, telah menarik dua pegiat konservasi primata dari Spanyol, Elena dan Chris adalah peneliti primata yang juga pegiat dalam konservasi primata di Spanyol dan Belanda.

Kedatangannya ke Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Barito Kuala ini atas rekomendasi teman- temannya yang sedang meneliti monyet Yaki di Sulawesi.

"Amazing.Stasiun Riset ini sederhana, tapi menyimpan keragaman hayati yang cukup banyak, baik Primata, Mamalia dan berbagai jenis burung air serta nektar. Tempat yang bagus untuk melakukan penelitian dan konservasi. Kami salut dengan SBI bersama Universitas Lambung Mangkurat membangun kawasan ini sebagai sarana riset dan konservasi," jelas Elena, Rabu (13/11/2019).

Menurut Amalia Rezeki, founder dari SBI foundation, sejak diresmikan sebagai Stasiun Riset oleh Prof Dr H Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc yang juga Rektor ULM bersama Prof.Tim Roberts dari University Of New Castle - Australia 2018 lalu, telah menghasilkan lebih dari 12 karya ilmiah yang dipublikasikan, baik secara Nasional maupun Internasional.



"Penelitian tersebut berkontribusi penting bagi ilmu pengetahuan tentang ekosistem lahan basah, yang menjadi visi-misi ULM. Sebagai perguruan tinggi terkemuka dan berdaya saing dibidang Lahan Basah," kata Amalia yang juga dosen Pendidikan Biologi ULM.


Lebih lanjut, perempuan peraih ASEAN Eco Champion Award 2019 ini, menerangkan kehadiran Elena dan Chris bagi SBI cukup penting, karena membangun kolaborasi dalam upaya pelestarian primata. Mengingat mereka memiliki pengalaman yang cukup dan bekerja disebuah lembaga konservasi Internasional yang berusia hampir 40 tahun.

" Kami sangat mengapresiasi kerja keras Amalia dan timnya yang berjuang tidak saja melestarikan Bekantan, akan tetapi membangun kawasan stasiun riset diluar kawasan konservasi dan merehabilitasi hutan mangrove sebagai habitat beragam satwa dan biota lahan basah. Ini kerja besar dari sebuah tim yang kecil. Kami ingin membantunya dengan ilmu yang kami miliki dan membuka jaringan Internasional," ujar Chris dengan penuh semangat bercampur haru.

Chris sangat terinspirasi karena banyak aspek yang ditangani dalam kegiatan konservasi ini.

"Ini benar-benar project yang menginspirasi dan kegiatan restorasi mangrove yang dilakukan sangat membantu baik untuk bekantan tetapi juga dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal. Kami sangat mendukung Amalia Project," tambahnya.

Menurut Ambar Pertiwi, kepala Stasiun Riset Bekantan, bahwa stasiun riset ini sekarang lebih menjadi laboratorium alam. Serta memiliki daya tarik tersendiri bagi mahasiswa dan peneliti, untuk belajar tentang ekosistem lahan basah untuk kemajuan ilmu pengetahuan, kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat disekitarnya.


Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Elpianur Achmad

Rabu, 30 Oktober 2019

SBI Bentuk Satgas Bekantan Hadapi Darurat Iklim

Maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, membuat aktivis lingkungan berinisiatif membentuk sebuah satuan tugas (satgas) menyelamatkan Bekantan. Tugas satgas ini untuk menyelamatkan satwa dari karhutla.
Zainal Abidin koordinator satgas Bekantan dari yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Banjarmasin mengatakan, satuan yang dipimpinnya untuk menyelamatkan Bekantan atau yang dikenal dalam bahasa ilmiahnya Nasalis larvatus dari ancaman kebakaran hutan dan kabut asap.
“Seperti diketahui, telah terjadi beberapa kali bekantan menjadi korban karhutla di Kalsel. Akibat kebakaran hutan dan kabut asap ditambah lagi musim kering yang cukup panjang, membuat kawanan bekantan stres dan bermigrasi ketempat yang lebih aman,” jelas Zainal Abidin disela kegiatan patroli kawasan disekitar Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Barito Kuala. Belum lama tadi. Namun menurut Zainal, sebagian bekantan ada yang terjebak di kawasan perkebunan dan permukiman.
“Seperti yang terjadi di sungai Rutas di Kabupaten Tapin. Kejadian karhutla seperti tahun 2015 terulang kembali. Seekor bekantan jantan dewasa tertabrak kendaraan ketika menyebrang jalan. Begitu juga di Batulicin, Amuntai dan daerah terdampak lainnya di Kalsel,” ungkapnya.
Saat ini tim satgas bekantan fokus menjaga kawasan Pulau Curiak. Mengingat dikawasan tersebut, walau bukan merupakan kawasan lindung, tetapi dilokasi tersebut berdiri stasiun riset bekantan milik SBI foundation yang di dalamnya terdapat populasi bekantan yang dekat dengan persawahan warga dan sangat rentan kebakaran lahan serta konflik satwa dengan manusia.
“Untuk mengamankan kawasan stasiun riset yang dihuni oleh bekantan ini, kami hampir setiap hari melakukan patroli kawasan bersama tim satgas bekantan. Disamping itu kami juga melakukan sosialisasi serta edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran lahan,” tutur Zainal.
Dikatakan Zainal bahwa sekarang sedikitnya ada sekitar 21 ekor bekantan dan terbagi menjadi dua kelompok yang menghuni kawasan stasiun riset. Disamping itu juga terdapat primata eksotik lainnya yang dilindungi seperti Lutung kelabu ( Trachypithecus cristatus ) dengan populasi tidak kurang dari 15 ekor yang juga menghuni kawasan tersebut.
“Kegiatan ini bersifat internal dari SBI dalam rangka menjaga kawasan, khususnya di stasiun riset bekantan dan sekitarnya,” pungkasnya.
Sementara itu Abdan anggota satgas yang berada di pos stasiun riset menyebut, untuk menghindari upaya migrasi dari kawanan primata ikon kebanggaan provinsi Kalsel ini. Tim satgas menyediakan pakan tambahan difeeding area dan bak air tawar bersih untuk memenuhi asupan kawanan bekantan dan lutung kelabu.
“Ini terpaksa kami lakukan, karena luasan kawasan Pulau Curiak yang kecil dan daya dukung pakannya semakin berkurang akibat pohon rambai sebagai sumber pakan utamanya merangas. Namun kamu bersyukur sudah dua hari ini mulai turun hujan membasahi kawasan stasiun riset,” sebutnya. (apahabar.com, BANJARMASIN)

Senin, 21 Oktober 2019

Berbicara di Forum ASEAN, Ini yang Dirasakan Amalia Rezeki Dosen Muda ULM

BANJARMASIN POST.CO.ID - Keterlibatannya dalam kegiatan konservasi alam dan pariwisata khususnya bekantan, membuat sosok Amalia Rezeki kini kerap tampil di forum internasional.

Setelah beberapa waktu lalu berbicara di hadapan duta besar, diplomatik dan pelaku usaha wisata negara bagian Baltik, serta undangan pemerintah Estonia, Ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) ini kembali diundang di forum ASEAN.

Amelia berbicara di forum terhormat seperti ASEAN, Seminar on Environment for Future Generations di Sofitel Angkor Phokeethra Golf & Spa Resort Vithei Charles De Gaulle, Khum Svay Dang Kum,cSiem Reap, Cambodia.

Pendiri Sahabat Bekantan Indonesia
Amalia Rezeki, Pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI)
Ada kebanggaan tersendiri bagi Amelia Rezeki dosen Dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin dapat berbicara di forum terhormat seperti ASEAN.
"Alhamdulillah saya berkesempatan berbicara dihadapan para delegasi negara negara ASEAN dengan mengusung tema " Environment for Future Generations " kata dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat ( ULM ) Banjarmasin saat dihubungi di Siem Reap, Cambodia, Senin (7/10/2019) malam.
Sahabat Bekantan Indonesia
Amalia Rezeki, Saat menjadi pembicara di forum ASEAN

Akrabnya, antusias peserta seminar negara-negara ASEAN sangat tinggi dan mereka sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh dirinya bersama Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia ( SBI ) dalam mengelola lingkungan melalui pelestarian bekantan dan hutan mangrove rambai yang melibatkan masyarakat lokal disekitar kawasan habitat bekantan di Kalsel.
"Saya sangat terharu dan mengapresiasi mereka yang hadir di seminar tersebut, karena mereka datang dari berbagai negara anggota ASEAN yang pada umumnya generasi muda yang peduli lingkungan," kata peraih penghargaan nasional wanita inspiratif dibidang lingkungan She Can Award 2015.

Amel menambahkam, dirinya berharap ini menjadi inspirasi bersama juga bagi generasi muda di Indonesia, khususnya masyarakat Kalsel untuk saling meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan alam.

Kehadiran Amel di forum ASEAN ini atas undangan panitia ASEAN Environment Day 2019 untuk mengisi acara seminar sebagai narasumber sekaligus penerima penghargaan ASEAN Youth Eco-Champions Award 2019 yang pertama kali diadakan oleh ASEAN, yang akan diserahkan pada selasa malam (8/10/2019).
Amel pun mengucapkan terima kasih, keberangkatannya ke Kamboja didukung penuh oleh ASEAN Secretariat, Kementerian LHK-RI, dan Universitas Lambung Mangkurat.

(banjarmasin post.co.id/syaiful anwar)

Amalia Rezeki, Pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia Raih Penghargaan Internasional

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dosen muda Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Amalia Rezeki mendapatkan penghargaan tingkat internasional.
ASEAN Youth Eco-champion Award
Amalia Rezki, Saat menerima penghargaan ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) di Kamboja
Perempuan yang akrab disapa Amalia ini tidaklah asing di dunia konservasi Bekantan (nasalis larvatus) karena sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai perempuan inspiratif di bidang lingkungan baik regional maupun nasional.

Kali ini Amalia mendapatkan penghargaan ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) 2019 yang dilaksanakan di negara Kamboja pada Selasa (8/10/2019) malam.
Penghargaan ini terbilang sangatlah bergengsi di bidang lingkungan hidup antar negara di ASEAN dan menjadi penghargaan pertamanya di tingkat internasional.
Perempuan penyelamat bekantan ini menerima penghargaan AYECA 2019 yang diserahkan oleh MS Yukari Sato,state minister, minister of the environment Japan dan Tun Sa Im, Ministry of education, youth and sport di Sokhalay Angkor Resort & Spa, Siem Reap, Cambodia.

"Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, atas Karunia dan Rahmat-Nya, hari ini saya bisa berdiri di podium yang terhormat ini, mewakili ratusan juta angkatan muda Indonesia untuk menerima penghargaan di bidang lingkungan antar negara ASEAN di Siem Reap, Cambodia," jelas Amalia saat dihubungi.

Sebagai seorang dosen biologi, kecintaan Amalia terhadap lingkungan dan bekantan, satwa berhidung mancung itu sudah tak perlu diragukan lagi.

Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk melestarikan dan melindungi bekantan yang juga sebagai ikon kebanggaan Kalsel tersebut.

Dia adalah perempuan pertama di Indonesia yang mendedikasikan diri dengan sungguh-sungguh dan konsisten melindungi bekantan dari kepunahan, melalui aksinya di bidang lingkungan dan perbaikan habitat.

Dalam mendukung upayanya tersebut Amalia mendirikan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), dengan misi selamatkan bekantan - Selamatkan Peradaban Manusia.
Usahanya ini tidak terlepas dari pembinaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, melalui BKSDA dan Dinas Kehutanan Kalsel serta dukungan penuh Prof Sutarto Hadi,selaku Rektor ULM.

Menurutnya dedikasi terhadap pelestarian bekantan, bukanlah untuk sebuah apresiasi, melainkan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara, keilmuan serta keimanan sebagai khalifah di muka bumi dan untuk keberlanjutan generasi mendatang.

"Apresiasi yang saya terima adalah bukti keseriusan kami dalam menjaga lingkungan alam serta pelestarian bekantan di Kalsel. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, apresiasi ini saya persembahkan untuk ayah saya yang telah mendahului saya disurga dan ibu saya yang saat ini mungkin merasa sepi, karena saya tinggal sendirian untuk mengadiri acara ini, dan all crew SBI yang saya cintai, juga tentunya almamater saya ULM, Banua serta generasi muda kita di Indonesia," jelas Amalia.

Sementara itu, menanggapi keberhasilan dosen mudanya menerima penghargaan Internasional di bidang lingkungan ini, Sutarto Hadi, mengucapkan selamat dan merasa bangga.

"Luar biasa, sangat membanggakan. ULM bersyukur memiliki dosen yang memiliki prestasi dalam bidang lingkungan dan mendapat pengakuan Internasional. Prestasi ini menjadi bukti bahwa ULM telah menjadi universitas yang terkemuka dan berdaya saing. Saya berharap capaian ini menjadi motivasi bagi dosen lainnya. Demikian pula mahasiswa dan generasi muda dapat menarik pelajaran. Jangan lelah untuk berjuang untuk masa depan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik," tuturnya.
Saat ini Amalia bersama timnya sedang mendirikan sekolah konservasi serta stasiun riset bekantan dan ekosistem lahan basah di kawasan Pulau Curiak, kabupaten Barito Kuala, Kalsel.

Dia juga sedang gencar mengkampanyekan program "Buy Back The Land" yaitu membeli kembali lahan yang dulunya menjadi habitat bekantan untuk dihutankan kembali bagi rumah bekantan serta kehidupan ekosistem lahan basah yang lestari.
(Banjarmasinpost.co.id/Frans Rumbon)

Amalia the bekantan conservationist receives ASEAN award

Banjarmasin, South Kalimantan (ANTARA) - A young Biology lecturer of Lambung Mangkurat University (ULM), who is famous as a bekantan (Nasalis larvatus) conservationist, Amalia Rezeki, received the prestigious award of AYECA in Cambodia, Tuesday night (Oct 8, 2019).

Bekantan Conservationist
Amalia Rezeki, Bekantan (Nasalis larvatus) conservationist.
The ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) recognises young citizens, aged 18-35 years, from ASEAN Member States (AMS) who have made outstanding contributions to protecting the environment. The award is presented to two youth eco-champions per AMS. There are two categories based on age: Junior Category (Aged 18-25) Senior Category (Aged 26-35)
Amalia Rezeki
Amalia Rezeki, received the prestigious award of AYECA in Cambodia, Tuesday night (Oct 8, 2019)
This is the first time for her to receive an international award. Amalia Rezeki has previously gained many regional and national awards.

She was not alone to Cambodia, but accompanied by Susy Herawati and Windarty from the Ministry of Environment and Forestry (LHK) of the Republic of Indonesia.

The bekantan rescue received the 2019 AYECA 2019 from Japan State Minister, Minister of Environment MS Yukari Sato and Tun Sa Im, Ministry of education, Youth and Sport in Siem Reap, Cambodia.

"I am very grateful to Allah Subhanahu wa Ta'ala for His Gift and Mercy today I am standing on the honorable podium representing hundreds of millions of Indonesia's young generation to receive award in the field of environment among ASEAN countries in Siem Reap, Cambodia," she noted, As a biology lecturer, Amalia Rezeki's love for proboscis monkey has no doubt. Most of her life is dedicated to preserving and protecting the long-nosed animal which is an icon of South Kalimantan.
She is the first woman in Indonesia who has dedicated herself sincerely and consistently since five years to protect the proboscis monkey from extinction.

In supporting this effort Amalia founded the Sahabat Bekantan Indonesia (Indonesian Bekantan Friends Foundation), with a mission to Save Bekantan. This effort is inseparable from guidance from the Ministry of Environment and Forestry through the South Kalimantan Natural Resources Conservation Agency (BKSDA).

For her, the dedication to the preservation of proboscis monkey is not an appreciation, but a form of responsibility as a citizen, science, and faith as the vicegerent of the earth and for the sustainability of future generations. "As a key species, saving bekantan for us is saving the planet," said Amalia Rezeki.

ULM Rector Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, MSc. congratulated and proud of Amalia Rezeki, who is a young lecturer with outstanding achievements.

"Excellent, very proud. ULM is grateful to have lecturers who have achievements in the environmental and received international recognition. This achievement is proof that ULM has become a leading and competitive university," he said.

 Editor: Mahdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019


Jumat, 16 Agustus 2019

Amalia Rezeki Promosikan Ekowisata Konservasi Bekantan Kalimantan Selatan di Estonia

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARMASIN - Suatu kehormatan bagi Ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Amalia Rezeki yang juga pegiat konservasi alam dan Pariwisata berkelanjutan ini, ketika diundang berbicara di forum internasional.
Bekantan Conservation
Amalia Rezeki Saat Jadi Pembicara di Estonia

Dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini berbicara di hadapan duta besar, diplomatik dan pelaku usaha wisata negara bagian Baltik, serta undangan pemerintah Estonia dldi Nordic Hotel Forum Tallin - Estonia, Senin, 12 Agustus 2019.

Amel, panggilan akrab Amalia, membawa pesan pelestarian bekantan serta pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kalimantan Selatan.


"Suatu kehormatan dan pengalaman yang luar biasa bagi saya dapat berbicara diforum terhormat ini. Saya sangat berterimakasih kepada pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang mendukung penuh kehadiran saya diforum ini. Sebuah sinergisitas yang positif dalam membawa pesan pembangunan berkelanjutan dan pelestarian alam," ucapnya ketika dihubungi di Tallin - Estonia, Selasa (13/8/2019).

Perempuan berjilbab ini berangkat ke Estonia tidak sendiri, ia bersama tim penari dari Kalsel yang membawa misi pariwisata Visit Kalsel 2020.

Selama satu minggu ia mempromosikan pariwisata Kalsel didua negara Finlandia dan Estonia. Baik potensi taman buminya (geopark) serta gerakan revolusi hijau dan konservasi bekantan ikon kebanggaan provinsi Kalsel yang menjadi bagian dari aksi rawat bumi dan pelestarian alam.

Menurut Amel, menyelamatkan bekantan diawali dengan tindakan menyelamatkan habitatnya. Seperti diketahui habitat bekantan pada umumnya berada dikawasan lahan basah, khususnya hutan mangrove dengan vegetasi utamanya pohon rambai yang banyak dijumpai disepanjang pinggiran sungai di Kalimantan Selatan.

"Di sisi lain hutan mangrove dapat menyimpan karbon lebih banyak dari hampir semua ekosistem di bumi. Penyimpanan karbon pada ekosistem mangrove berpotensi sebagai mitigasi pemanasan global, menjadikan indikator penting bagi pelestarian hutan mangrove dan ekosistem lahan basah didalamnya," jelas Amel.

Di bidang pariwisata, menurut dia, saat ini wisata kehidupan liar ( Wildlife Tourism ) atau wisata minat khusus menjadi sangat populer didunia. Wisata ini juga memberikan kontribusi positif tidak saja secara ekonomis, akan tetapi juga memberikan kontribusi yang besar bagi konservasi keanekaragaman hayati.

Oleh karena itu, wisata alam bisa dikatakan sebagai wujud pembangunan berkelanjutan dalam bentuk wisata, dengan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi yang mendapat perhatian secara proporsional. Kosta Rica sebuah negara termaju dibidang wisata kehidupan liarnya, telah memberikan kontribusi 10 persen bagi pemasukan negaranya.

Salah satu wisata alam liar yang bisa ditawarkan di Kalsel, adalah wisata primata. Memang wisata ini tidak sepopuler wisata terumbu karang dengan keragaman ikan serta biota lautnya, ataupun wisata pengamatan burung (birdwatching) yang merupakan bisnis besar dinegara Eropa dan Amerika.

Wisata primata mulai tumbuh dan berkembang pesat sejak dipopulerkan oleh Dr Russel Mittermeier, ahli primata dunia yang juga ketua Primate Specialist Group IUCN, sebuah lembaga konservasi dunia. Bersama 10 pakar primata dunia Dr Russel Mittermeier membahas 25 spesies primata dunia yang sangat berisiko mengalami kepunahan, serta dengan potensi dan prospek pengembangan wisatanya.

Rwanda dan Uganda adalah merupakan contoh negara yang telah berhasil mengembangkan wisata primata dengan Gorilanya.

Cukup besar devisa negara yang dapat diraupnya melalui kegiatan wisata primata tersebut.

Dan di Indonesia sendiri, wisata primata juga sudah dikenal seperti di Taman Nasional Tanjung Puting dengan orangutannya yang telah lama dikenalkan oleh ahli primata Prof Dr Birute Galdikas dari University Of California - Amerika Serikat.

Bekantan salah satu primata terunik didunia, adalah sebuah potensi yang semestinya dapat digali menjadi industri wisata alam liar, khususnya berbasis konservasi dan riset.

" Sejak awal tahun 2014 lalu kami telah juga mengembangkan sektor wisata primata, khususnya bekantan. Wisata minat khusus yang kami tawarkan berupa paket summer course, internship dan wisata petualangan lainnya ", tutur Amalia Rezeki yang juga dikenal sebagai mahasiswa program doktoral dibidang lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat.

Pengembangan wisata alam liar, khususnya primata bekantan saat ini, mulai dirasakan manfaatnya bagi pemerintah daerah, dengan mulai meningkatnya kunjungan wisatawan, baik lokal maupun asing. Kegiatan wisata primata bekantan adalah mengamati prilaku bekantan, ekosistem hutan mangrovenya dan susur sungai serta yang tidak kalah menariknya ialah kegiatan wildlife photography yang saat ini banyak digandrungi wisatawan asing. (banjarmasin post.co.id/syaiful anwar)


Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Amalia Rezeki Promosikan Ekowisata Konservasi Bekantan Kalimantan Selatan di Estonia.


Dari Helsinki, Amalia Rezeki Kirim Pesan Menjadikan Konservasi Alam Sebagai Sikap Hidup

BANJARMASINPOST.CO.ID - Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) diperingati setiap tahunnya pada tanggal 10 Agustus. Peringatan tersebut ditujukan dalam upaya untuk menjaga kesinambungan kegiatan konservasi alam, memasyarakatkannya, dan menjadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup dan budaya bangsa.
Bekantan Konservation
Amalia Rezeki Saat memaparkan
 "Ecotourism and Wildlife Conservation of South Kalimantan " dihadapan forum undangan

Kegiatan HKAN tahun ini bagi Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia ( SBI ) agak berbeda, karena rangkaian kegiatannya dilaksanakan tanpa dihadiri Amalia Rezeki Ketua SBI, yang saat ini sedang berada di Finlandia dan Estonia.

Kepergiannya membawa misi konservasi dan pembangunan pariwisata berkelanjutan Kalimantan Selatan, pada acara rangkaian kegiatan Asean Day.

Amel, panggilan akrab Amalia, akan berbicara tentang "Ecotourism and Wildlife Conservation of South Kalimantan " dihadapan forum undangan yang terdiri dari ASEAN Embassies, korp diplomatik dan Pemerintah Estonia serta tamu undangan lainnya. Keberangkatannya ke Finlandia ini didukung sepenuhnya dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Amalia mengatakan, saat ini dunia termasuk Indonesia menghadapi berbagai isu lingkungan terutama isu perubahan iklim dengan terjadinya pemanasan global.

"Peringatan HKAN kali ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pelestarian dan pemanfaatan alam lewat pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Untuk itu dari Helsinki - Finlandia saya mengajak semua pihak agar bijak dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam. ", kata dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat - Banjarmasin ini saat dihubungi di Helsinki, Sabtu (10/8/2019).

Dia menambahkan, saat ini Pemerintah Provinsi Kalsel sedang giat-giatnya mengembangkan pembangunan pariwisata berkelanjutan. Pontensi alam seperti geopark, kawasan konservasi dan kekayaan keragaman hayati didalamnya adalah merupakan aset dan daya tarik tersendiri bagi pembangunan pariwisata berkelanjutan yang menjadi trend wisata dunia.

Kalsel menyatakan akan terus mendorong pengembangan wisata alam sebagai pemanfaatan hutan yang berkelanjutan. Geopark (taman bumi) adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi dan melibatkan masyarakat setempat berperan serta melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam, termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada di dalamnya. Saat ini sudah ada 67 titik yang akan dijadikan wisata alam.

Sementara itu Ambar Pertiwi kordinator kegiatan peringatan HKAN dari SBI, mengatakan ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh SBI, seperti pameran foto Biodiversitas Indonesia, diskusi konservasi di Bekantan Rescue Center Banjarmasin dan rawat bumi melalui aksi penanaman pohon mangrove rambai (Sonneratia caseolaris) dikawasan Stasiun Riset Bekantan - Pulau Curiak - Barito Kuala. (banjarmasinpost.co.id/syaiful anwar)

Si Ambar, Keluarga Baru Bekantan Pulau Curiak

BANJARMASIN POST.CO.ID. BANJARMASIN - Perasaan gembira terpancar di wajah Amalia Rezeki ketua Sahabat Bekantan Indonesia ( SBI ) bersama timnya saat patroli kawasan di Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, menemukan Juwita, bekantan betina muda melahirkan bayi binatang berhidung mancung yang sangat imut dan lucu.
Sahabat Bekantan
Mengamati si Ambar, Bayi Bekantan Yang Baru Saja Lahir di Pulau Curiak

Wajahnya yang masih hitam kebiru-biruan terlihat berada dalam pelukan Juwita induk betina muda dari kelompok Bravo.

" Kehadiran baby bekantan ini membawa kabar gembira buat kita semua. Mengingat bekantan adalah merupakan spesies kunci yang keberadaannya terancam punah dan maskot provinsi Kalimantan Selatan yang saat ini menjadi ikon andalan wisata minat khusus yang sedang kami kembangkan bersama pemerintah daerah," ucap Amalia Rezeki, Sabtu (3/8/2019).


Dalam dua tahun ini saja, sudah tiga kali Amalia menemukan bekantan kawasan stasiun riset melahirkan. Untuk yang pertama diberi nama Newie oleh Prof. Tim Roberts dari Universitas New Castel Australia yang berkunjung pada bulan Desember tahun lalu dan yang kedua diberi nama Memel yang lahir pada April 2019.


Sedangkan bekantan yang baru lahir 1 Agustus 2019 ini diberi nama "Ambar". Nama Ambar diapresiasikan kepada Agustina Ambar Pertiwi, seorang peneliti muda yang juga mendedikasikan diri pada pelestarian bekantan, sekaligus beliau adalah kepala stasiun riset bekantan.

Zulfa Asma Vikra, ketua Forum Konservasi Kalimantan Selatan, menyambut gembira atas kelahiran anak bekantan tersebut.

"Saya sangat mengapresia kerja keras tim SBI yang selama ini berupaya menjaga dan melestarikan bekantan di Kalsel. Kelahiran bekantan di Stasiun Riset ini tentu membawa kabar gembira bagi kita semua. Dengan kelahiran bekantan ini semoga bisa membantu meningkatkan populasi bekantan Indonesia seperti yang diamanahkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI sebesar 10 persen dalam kurun waktu 5 tahun," jelas Zulva yang juga anggota DPRD Provinsi Kalsel.


Pada awalnya ketika dilakukan penelitian pertama populasi bekantan ditahun 2014, hanya 14 individu. Kini dikawasan stasiun riset bekantan terdapat sekitar 22 individu bekantan, yang terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama diberi nama alpha dan kelompok kedua diberi nama bravo. (banjarmasin post.co.id/syaiful anwar)



Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Si Ambar, Bayi Bekantan yang Lahir 1 Agustus 2019 di Stasiun Riset Pulau Curiak Kalsel.

Jumat, 05 Juli 2019

Watch Bekantan Swimm For Their Supper In Rare Video




Proboscis monkey might be best known for their giant, bulbous noses, but scientists are sniffing out another of these monkey’s unique attributes: their swimming abilities. To discover more about these water-loving primates, conservation biologist Amalia Rezeki recently spent a few weeks on Indonesian Borneo's Bakut Island filming the animals and their behavior in mangrove forests. (Read about swimming pigs and other surprising animals that love water.) "The main primate in the area that people think of are orangutans. We thought that a video about these monkeys' swimming abilities would help bring some positive attention," says Rezeki, who works with Sahabat Bekantan Indonesia, a nonprofit that works to protect proboscis monkeys, also called bekantan. Due to loss of their mangrove habitat and hunting, proboscis monkeys are listed as endangered, with fewer than 7,000 animals left in the wild. Rezeki's expedition discovered several monkeys on the island, suggesting the species is still hanging on.

Bekantan Goes Global

Mimpi besar Amalia Rezeki bersama timnya di Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang dicanangkan oleh Prof. Dr. H.Sutarto Hadi, M.Sc.,M.Si, rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang juga pembina SBI ini pada peringatan hari bekantan tahun lalu, "

wetland
Prof. Dr. H.Sutarto Hadi, M.Sc.,M.Si, rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) 
Bekantan Dari Banua Untuk Dunia " sepertinya mulai terlihat capaiannya. Perjuangan SBI untuk menjadikan, Kalsel sebagai pusat riset, konservasi dan ekowisata bekantan didunia mulai dirasakan. Baru-baru ini Amalia Rezeki ketua SBI, yang juga dosen muda difakultas pendidikan biologi ULM diundang ke Australia untuk beberapa tangkaian kegiatan, seperti Konferensi Internasional, workshop dan mengisi kuliah umum disalah satu perguruan tinggi terkemuka dinegeri kangguru tersebut, yaitu University Of New Castle dengan tema " Selamatkan Bekantan - Selamatkan Peradaban Manusia".

Proboscis Monkey Conservation
Amalia Rezeki - Prof. Julian dari Inggris

Disisi lain SBI telah membangun kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi diluar negeri, bersama Universitas Lambung Mangkurat dalam bidang riset ekosistem lahan basahnya yang merupakan habitat bekantan. SBI yang juga mitra binaan BKSDA Kalsel dibidang konservasi mengembangkan kegiatan wisata minat khusus, melalui Summer Course dan internship serta volunteer konservasi.

Probosicis Monkey Conservation
Kunjungan dari University College London

Proboscis Monkey Conservation Seminar

Proboscis Monkey Conservation
Amalia Rezeki Biologist Conservation

Proboscis Monkey Conservation Seminar, Wednesday 19Th, June. 4.30PM - 7 PM University Of Newcastle - Australia.

The Bekantan Savior is Amalia Rezeki

Proboscis Monkey Conservation
Amalia Rezeki Founder Of SBI foundation
The days of this young woman are spent educating prospective "unsung fighters" since 2014. Her goal is to get good deeds by sharing knowledge with students.

Amalia Rezeki, lecturer at the Faculty of Biology at the Lambung Mangkurat University (ULM), does not want to waste even her spare time.


Time for her is a capital given by Allah Subhanahu wa Taala (glorified and exalted be He) that its benefits has multiplied through her love for others, the environment, and other living things, such as bekantan.


As a biology lecturer, Amalia Rezeki's love for proboscis monkey (Nasalis larvatus) has no doubt. Most of her life is dedicated to preserving and protecting the long-nosed animal which is an icon of South Kalimantan.

She is the first woman in Indonesia who has dedicated herself sincerely and consistently since five years to protect the proboscis monkey from extinction.

In supporting this effort Amalia founded the Indonesian Bekantan Friends Foundation (SBI), with a mission to save proboscis monkey (Save Bekantan). This effort is inseparable from guidance from the Ministry of Environment and Forestry through the South Kalimantan Natural Resources Conservation Agency (BKSDA).


The dedication to the preservation of proboscis monkey is not an appreciation, but a form of responsibility as a citizen, science, and faith as the vicegerent of the earth and for the sustainability of future generations.


"As a key species, saving bekantan for us is saving the planet," said Amalia Rezeki, who is also a final semester student at the environmental doctoral program of ULM.

First in the world
The recipient of the 2015 She Can Award in the field of Bekantan rescue turned out to not only set up a rescue center, but also built a proboscis monkey research station and wetland ecosystem in the Curiak Island - Barito Kuala. For this she collaborated with her almamater college.

This simple research station was inaugurated by ULM Rector Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si, M.Sc. and Prof. Timothy Roberts Killgour from the University of New Castle Australia in 2018.

Previously, the single daughter and her friends built a Bekantan research laboratory which is now an internship for veterinary students from various universities not only from within the country, but also from abroad.

On the other hand Amalia realized that saving proboscis monkeys could not only protect it as an animal, but the importance of preserving the habitat and carrying capacity area for its survival.

For this reason, since 2014, she has carried out the Rambai (Sonneratia caseolaris) Mangrove Forest Restoration movement by releasing land that was once the habitat of proboscis monkeys and then changed its function to reforest.

This effort received support from various stakeholders. Thousands of rambai trees which are the main food and stands of proboscis habitat, she planted with his friends and students as well as the local community.

In this area she also founded the world's first Rambai Mangrove Center (MRC). The area that is not so wide is made as mangrove houses, as information centers and mangrove rambai nurseries.


In addition, there is a mangrove arboretum which is a pilot area for typical wetland plants. For her efforts she received much appreciation from universities abroad.


Every year there are several foreign universities that send students to learn about the conservation of proboscis monkeys and wetland ecosystems.


Amalia's struggle in preserving proboscis monkey was apparently not spared from various obstacles and trials. Weakening efforts from parties who are not happy with this business often occur, not only threatening the mind, but also physically.

Perseverance and patience that keeps her from protecting the proboscis monkey from extinction. "Tears can be exhausted by this tyranny, but our sweat will not stop dripping wet the body in an effort to save proboscis monkey and planet earth," said Amalia with teary eyes.

Her sincerity and patience yielded results that should be grateful for together. The fruit of her struggle with the team at SBI, is now starting to grow a real concern, both from the government and the community.

Amalia Rezeki
Proboscis Monkey Conservation
Now people are starting to take care of proboscis monkeys and their habitat. Likewise, the regional government began issuing regulations for saving bekantan, including developing sustainable tourism based on bekantan as a vehicle for recreation and education.

For her tireless efforts to preserve the proboscis monkey, the biology education lecturer and the SBI team on Foresters Day 2019 received an award from the Indonesian Ministry of Environment and Forestry through the South Kalimantan BKSDA which was handed over by the Governor of South Kalimantan H. Sahbirin Noor as a conservationist for bekantan.



Sumber : Antara News

Proboscis Monkey Seminar

Prof. Tim Robert - UON
Australia
However, a tour along the mangrove-bedecked waterways of the Bornean forests is almost certain to yield photos of the unique proboscis monkeys, also known as bekantan. Its prominent nose, particularly pendulous in adult males, easily identifies this species.
The bigger the nose a male bekantan has, the likelier it is that he will have a large, multi-female harem.

Their specialised digestive system allows them to feed primarily on mangrove leaves and give them a pot-bellied appearance.

Due to loss of their mangrove habitat and hunting, proboscis monkeys are listed as endangered, with fewer than 7000 left in the wild.

Visiting Borneo in 2018, my students and I spent time with a remarkable person who is raising awareness of the sorry plight of the proboscis monkey. Amalia Rezeki is a conservation biologist at the University of Lambung Mangkurat in Banjarmasin, South Kalimantan who runs Sahabat Bekantan Indonesia, a non-profit that works to protect the proboscis monkeys.

Amalia has dedicated most of her life to preserving the long-nosed animal. She has built a proboscis monkey research station and a sanctuary for the rewilded animals on an island in the Barito River.
She is collaborating in a bekantan research project with Charles Lee from UON Singapore, and Matt Hayward and myself from UON.

Her tireless efforts to preserve the proboscis monkey are bearing fruit, with local people starting to take care of proboscis monkeys and their habitat, and the regional government issuing regulations for saving bekantan, including developing sustainable tourism based on bekantan as a vehicle for recreation and education.

I'm delighted to report Amalia Rezeki will visit us at UON and will present a seminar at NewSpace on June 19.
photo of proboscis monkey
Bekantan Research Station

Backup artist will be yours truly, speaking about orangutans and oil palms.
Emeritus Professor Tim Roberts is from the School of Environmental and Life Sciences at the University of Newcastle.

Senin, 01 Juli 2019

Ketua Sahabat Bekantan Amel Beri Kuliah Umum di New Castle University Building Australia

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARMASIN - Ada kebahagian tersendiri buat Ketua Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Kalsel, Amelia Rezeki memberi kuliah umum, di New Castle University Building di Hunter Street and Auckland, St.Newcastle, Australia.
Ketua SBI berikan kuliah umum di Australia
Amalia Rezeki - Beri kuliah umum di University of Newcastle Australia
"Saya memberi kuliah umum dari pukul 5.30 - 07.00, diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara, dengan mengusung tema selamatkan bekantan - selamatkan peradaban manusia," kata dosen Biologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin iji saat dihubungi di Australia, Rabu (19/6/2019) malam.

Dijelaskan Amel, panggilan akrabnya, antusias masyarakat Australia sangat tinggi dan mereka sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia dalam menyelamatkan Bekantan dari kepunahan.

"Saya sangat terharu dengan mereka yang jauh sekali jaraknya dengan Indonesia, dan mengapresiasi mereka yg hadir di kuliah umum, karena mereka datang dr berbagai negara, baik Asia, Eropa maupun Australia sendiri," kata peraih penghargaan nasional She Can Award 2015

Namun, lanjut dia, sangat peduli terhadap Bekantan. "Saya harap ini menjadi spirit bersama juga bagi orang Indonesia khususnya masy Kalsel untuk saling meningkatkan kepedulian terhadap maskotnya," pungkasnya.

Amel pun mengucapkan terima kasih, keberangkatanya ke Australia didukung penuh oleh Universitas Lambung Mangkurat.

https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/06/19/ketua-sahabat-bekantan-amel-beri-kuliah-umum-di-new-castle-university-building-australia.
Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Elpianur Achmad


Senin, 11 Februari 2019

Tulang Pinggul Tergeser, Bekantan Ini Harus Menerima 10 Jahitan

PROKAL.COYayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) berupaya menyelamatkan seekor bekantan agar pulih dari cederanya. Satwa Liar Maskot Banua itu telah mengalami musibah kecelakaan tertabrak pengendara ketika menyeberang Jalan Trans Kalimantan Handil Bakti, Batola, Rabu (6/2).
Kondisi awal bekantan tanpa nama ini terlihat lesu dan hanya bisa terbaring. Ketua SBI, Amelia Rizki menjelaskan berdasarkan arahan BKSDA Kalsel, pihaknya langsung membawanya untuk dilakukan tindakan medis. Ketika pemeriksaan dokter, bekantan tersebut didiagnosis dislokasi atau pergeseran tulang pinggul, sehingga mengalami lumpuh.





"Ada beberapa luka robek di kaki dan di bahu. Terpaksa diberikan tindakan bedah minor, luka hewan itu harus ditutup 10 jahitan," beber Amelia.
Akibat kecelakaan, bekantan jantan tersebut mengalami pembekakan abdomen. Perutnya mengalami kembung melebihi batas normal. Dikhawatirkan ada pembekakan di dalam.
"Menurut dokter akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memulihkan pergeseran pinggulnya itu," ujarnya.
Menurut Amelia, respons bekantan kemarin pagi cukup bagus. Sudah bisa makan walaupun perlu bantuan. Kenapa? Jangankan makan, duduk saja tidak bisa. Tulang pinggulnya masih lemah dan tak bisa duduk dengan baik.
"Alhamdulillah siang tadi nafsu makan lebih baik lagi, dan mulai aktif. Kami masih menunggu arahan BKSAD untuk tindakan apa selanjutnya," tuturnya.
Amelia ingat sebenarnya kasus bekantan tertabrak seperti ini cukup sering terjadi. Namun tak separah seperti ini. Di kawasan Handil Bakti ada beberapa titik kawasan tempat bekantan itu. Posisi mereka terjebak oleh pemukiman.
"Memang habitat bekantan sudah sangat terdesak. Mereka banyak migrasi karena mengalami traumatik atau stres sehingga berani menyeberangi jalan dalam kondisi lalu lintas ramai," jelasnya.
Sejatinya satwa liar seperti ini melihat manusia saja sudah berpikir untuk kabur. Mereka menghindar sedini mungkin agar tidak kontak dengan manusia.
Ketika terpaksa masuk ke pemukiman untuk migrasi berarti sudah sangat terdesak. Disebutnya, habitat bekantan terpantau saat ini di kawasan Handil Bakti hanya satu kelompok. Berjumlah 7 hingga 10 ekor. Sebelumnya dua kelompok.
"Bekantan ini sangat sensistif. Selain kasus tertabrak ini, ada juga bekantan yang tersengat aliran tegangan tinggi. Jumlahnya ada 5 kasus, satu tewas dan sisanya masih bisa selamat. Temuan-temuan itu kami tindak lanjuti dari informasi masyarakat melalui media sosial, telepon, dan lainnya," tambahnya.(at/dye)


Rabu, 09 Januari 2019

Relawan Italia Bantu Bangun Titian Rumah Mangrove

Bekantan.org - Alhamdulillah kemarin (9 januari 2019), pembangunan jembatan titian rumah mangrove rambai di Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak Barito Kuala akhirnya rampung. Selesainya pembangunan titian ini tentunya tidak lepas dari bantuan banyak pihak baik materi maupun tenaga. Menariknya, salah satu bantuan tersebut berasal dari relawan dari Benua Eropa, yakni Italia. 

Memasang Titian

aktivitas SBI
Dua Relawan Italia Membantu Pemasangan Titian Rumah Mangrove
Bersama SBI, dan Warga Lokal
 Selama dua hari relawan Italia bersama warga lokal dan crew SBI bahu-membahu mengerjakan  pembangunan titian. Antusias dan semangat relawan ini patut diacungi jempol, mereka begitu bersemangat dan tetap bekerja bahkan tidak memperdulikan hujan lebat yang mengguyur kawasan ini. 

jembatan mangrovetitian mangrove

Dua orang dari Italia ini bukan satu-satunya relawan yang turut andil dalam upaya konservasi Bekantan, ada banyak relawan dari berbagai negara yang sudah pernah mengikuti kegiatan bersama Sahabat Bekantan Indonesia di antaranya Canada, Brazil, Australia, Jepang, Amerika, Jerman, Swedia dan negara-negara lainnya. Tidak hanya akan memberikan pengalaman seru dan unik, kegiatan ini tentunya sangat positif terutama untuk pelestarian Bekantan.  Kapan giliran anda?