River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Stasiun Riset Bekantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stasiun Riset Bekantan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Oktober 2021

Nur Asia Uno Beri Nama Baby Bekantan Pulau Curiak Batola

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Nur Asia Uno, isteri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menyematkan nama bagi seekor anak bekantan yang lahir di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Barito Kuala, Jumat (15/10/2021).

Bayi Bekantan Pulau Curiak

Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan sertifikat kelahiran bekantan tersebut oleh Nur Asia Uno.

“Baby bekantan ini, saya beri nama Amel Junior. Sebagai bentuk apresiasi kepada Amalia Rezeki terhadap dedikasinya melestarikan bekantan Pulau Curiak. Semoga bekantan Pulau Curiak tetap lestari dan semakin mendunia “, ujar Nur Asia Uno, Jumat (15/10).

Nur Asia Uno di Kalsel


Kehadiran Nur Asia Uno ke Stasiun Riset Bekantan yang dikelola oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini secara khusus untuk melihat perkembangan bekantan di Pulau Curiak.

Nur Asia Uno sangat mengapresiasi kinerja tim SBI yang mampu mengelola dan mengembangkan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak dan meningkatkan populasi bekantan di kawasan tersebut, dengan terus berkembangnya kelahiran anak bekantan.

"Sekali lagi saya sangat mengapresiasi kerja keras tim SBI yang selama ini telah berupaya menjaga dan melestarikan bekantan di Kalsel. Ini tentu membawa kabar gembira bagi kita semua. Dengan kelahiran bekantan ini semoga bisa membantu meningkatkan populasi bekantan Indonesia," paparnya.

Lebih lanjut Nur Asia Uno juga salut dengan SBI yang tidak saja konsen pada pelestarian bekantan, tetapi juga mengembangkan ekowisata bekantan, dalam rangka mendukung program pemerintah di bidang pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Apalagi wisata minat khusus yang dikembangkan SBI sudah mendunia.

Terpisah, Amalia Rezeki founder SBI mengatakakan, Nur Asia Uno sangat peduli terhadap lingkungan dan pelestarian bekantan.

"Beliau juga tercatat sebagai donatur pelestarian bekantan yang dikelola SBI foundation ini," katanya.

Menurut Amel, panggilan akrabnya, ini adalah kelahiran kedua dari baby bekantan yang berada di kawasan Stasiun Riset Bekantan sepanjang tahun 2021.

Bekantan di kawasan ini, sekarang terbagi menjadi tiga kelompok dengan jumlah populasinya sekitar 29 ekor.

“Mulanya ketika kami masuk dan mengelola kawasan yang kini menjadi Stasiun Riset Bekantan pada tahun 2014, hanya terdapat 14 individu bekantan dan pada saat ini sudah terjadi penambahan populasi bekantan secara signifikan mencapai 100 persen. Ini pertumbuhan populasi bekantan yang luar biasa," jelas kandidat doktor bekantan dari Universitas Lambung Mangkurat ini.

Bayi mungil Bekantan wajahnya masih hitam kebiru-biruan saat terlihat berada dalam pelukan Mimin induknya, betina dari kelompok Bravo.

"Kehadiran baby bekantan ini membawa kabar gembira buat kita semua. Ini menunjukkan SBI mampu mengelola kawasan Pulau Curiak yang kecil dan berada di luar kawasan konservasi, tapi mampu menumbuhkembangkan populasi bekantan di alam liar," tandasnya.


Senin, 15 Februari 2021

Komisi III DPRD Kalteng kunjungi Stasiun Riset Satwa Pulau Curiak

KUNJUNGAN anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah dari komisi III di Stasiun Riset ini, merupakan bagian kegiatan kunjungan kerja mereka yang bertempat di gedung serba guna Kecamatan Anjir Muara.

kunjungan anggota DPRD Kalteng ke stasiun riset bekantan


Di Stasiun Riset pulau curiak ini anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, bisa mempelajari bagaimana melestarikan habitat satwa bekantan yang kini statusnya mulai langka, sebagaimana di tempat mereka juga terdapat satwa yang di lindungi salah satunya Urang Utan.

Mereka juga bisa mempelajari tentang bagaimana melestarikan alam, seperti dengan melestarikan mangrove rambai dan pepohonan lainnya untuk mahluk hidup yang ada disekitarnya.

Dalam kesempatan ini anggota komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Juga menyerahkan bibit pohon mangrove rambai yang merupakan pakan utama satwa bekantan pada Sahabat Bekantan Indonesia (SBI ) yang diterima oleh Camat Anjir Muara sebagai kenang-kenangan.

Demikian pula Camat Anjir Muara dan Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Kunjungi Stasiun Riset satwa salah satu habibtat satwa bekantan yang merupakan maskotnya Provinsi Kalimantan Selatan Di Pulau Curiak Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Batola. Selasa (15/12/20).

Kunjungan anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah dari komisi III di Stasiun Riset ini, merupakan bagian kegiatan kunjungan kerja mereka yang bertempat di gedung serba guna Kecamatan Anjir Muara.

Di Stasiun Riset pulau curiak ini anggota DPRD Provinsi Kalimantan tengah, bisa mempelajari bagaimana melestarikan habitat satwa bekantan yang kini statusnya mulai langka, sebagaimana di tempat mereka juga terdapat satwa yang di lindungi salah satunya urang Utan.

Mereka juga bisa mempelajari tentang bagaimana melestarikan alam, seperti dengan melestarikan mangrove rambai dan pepohonan lainnya untuk mahluk hidup yang ada disekitarnya.

Dalam kesempatan ini anggota komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, juga menyerahkan bibit pohon mangrove rambai yang merupakan pakan utama satwa bekantan pada Sahabat Bekantan Indonesia (SBI ) yang diterima oleh camat anjir muara sebagai kenang-kenangan.

Demikian pula camat anjir muara dan ketua sahabat bekantan indonesia, juga menyerahkan boneka satwa bekan dan buka tentang pengetahuan pelestarian satwa bekantan dan hutan mangrove.

Ketua komisi III DPRD Prov.Kalteng Duwel rawing mengatakan, kunjungan ini juga merupakan untuk melihat pulihnya sektor wisata di kalimantan selatan, salah satunya objeknya pelestarian satwa yang dilindungi yaitu satwa bekantan. Dan di daerah juga ada satwa yang dilindungi yaitu Urang Utan.

Selanjut pihaknya akan memberi masukan pada pemerintah provinsi kalteng, yaitu tentang pengeloan tempat wisata yaitu objek wisata alam yang lebih maju selangkah dari tempat mereka, tambahnya.

Ketua sahabat bekantan indonesia, Amalia Rezeki mengungkapkan, adanya kunjungan komisi III Provinsi Kalimantan Tengah, merupakan silaturahmi yang bagus untuk mengembangkan parawisata yang bagus salah satunya tentang hewan primata. Dimana wilayah mereka mengembangkan orang hutan dan di kalsel bekantan, jadi sama-sama belajar untuk dunia wisata,Ungkapnya.ketua sahabat bekantan Indonesia, juga menyerahkan boneka satwa bekan dan buka tentang pengetahuan pelestarian satwa bekantan dan hutan mangrove.

Ketua komisi III DPRD Prov.Kalteng Duwel rawing mengatakan, kunjungan ini juga merupakan untuk melihat pulihnya sektor wisata di kalimantan selatan, salah satunya objeknya pelestarian satwa yang dilindungi yaitu satwa bekantan. Dan di daerah juga ada satwa yang dilindungi yaitu Urang Utan.

Selanjut pihaknya akan memberi masukan pada pemerintah Provinsi Kalteng, yaitu tentang pengeloan tempat wisata yaitu objek wisata alam yang lebih maju selangkah dari tempat mereka, tambahnya.

Ketua sahabat bekantan indonesia, Amalia Rezeki mengungkapkan, adanya kunjungan komisi III Provinsi Kalimantan Tengah, merupakan silaturahmi yang bagus untuk mengembangkan parawisata yang bagus salah satunya tentang hewan primata. Dimana wilayah mereka mengembangkan orang hutan dan di kalsel bekantan, jadi sama-sama belajar untuk dunia wisata, ungkapnya.***

artikel dari : Suara Banua 


Senin, 25 November 2019

Primatolog Spanyol Terpukau dengan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak Barito Kuala

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARMASIN - Stasiun Riset Bekantan atau yang juga dikenal sebagai stasiun riset ekosistem lahan basah yang dikelola bersama antara Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin memiliki peran penting sebagai tempat penelitian ilmiah ekosistem lahan basah.
stasiun riset bekantan
Amalia Rezeki bersama Elena dan Christ di Stasiun Riset Bekantan
Terutama dengan keberadaan monyet si hidung panjang Bekantan (Nasalis larvatus) dan primata lainnya seperti Lutung kelabu (Trachypithecus cristatus) serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Keberadaan primata endemik pulau Kalimantan seperti Bekantan ini, telah menarik dua pegiat konservasi primata dari Spanyol, Elena dan Chris adalah peneliti primata yang juga pegiat dalam konservasi primata di Spanyol dan Belanda.

Kedatangannya ke Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Barito Kuala ini atas rekomendasi teman- temannya yang sedang meneliti monyet Yaki di Sulawesi.

"Amazing.Stasiun Riset ini sederhana, tapi menyimpan keragaman hayati yang cukup banyak, baik Primata, Mamalia dan berbagai jenis burung air serta nektar. Tempat yang bagus untuk melakukan penelitian dan konservasi. Kami salut dengan SBI bersama Universitas Lambung Mangkurat membangun kawasan ini sebagai sarana riset dan konservasi," jelas Elena, Rabu (13/11/2019).

Menurut Amalia Rezeki, founder dari SBI foundation, sejak diresmikan sebagai Stasiun Riset oleh Prof Dr H Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc yang juga Rektor ULM bersama Prof.Tim Roberts dari University Of New Castle - Australia 2018 lalu, telah menghasilkan lebih dari 12 karya ilmiah yang dipublikasikan, baik secara Nasional maupun Internasional.



"Penelitian tersebut berkontribusi penting bagi ilmu pengetahuan tentang ekosistem lahan basah, yang menjadi visi-misi ULM. Sebagai perguruan tinggi terkemuka dan berdaya saing dibidang Lahan Basah," kata Amalia yang juga dosen Pendidikan Biologi ULM.


Lebih lanjut, perempuan peraih ASEAN Eco Champion Award 2019 ini, menerangkan kehadiran Elena dan Chris bagi SBI cukup penting, karena membangun kolaborasi dalam upaya pelestarian primata. Mengingat mereka memiliki pengalaman yang cukup dan bekerja disebuah lembaga konservasi Internasional yang berusia hampir 40 tahun.

" Kami sangat mengapresiasi kerja keras Amalia dan timnya yang berjuang tidak saja melestarikan Bekantan, akan tetapi membangun kawasan stasiun riset diluar kawasan konservasi dan merehabilitasi hutan mangrove sebagai habitat beragam satwa dan biota lahan basah. Ini kerja besar dari sebuah tim yang kecil. Kami ingin membantunya dengan ilmu yang kami miliki dan membuka jaringan Internasional," ujar Chris dengan penuh semangat bercampur haru.

Chris sangat terinspirasi karena banyak aspek yang ditangani dalam kegiatan konservasi ini.

"Ini benar-benar project yang menginspirasi dan kegiatan restorasi mangrove yang dilakukan sangat membantu baik untuk bekantan tetapi juga dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal. Kami sangat mendukung Amalia Project," tambahnya.

Menurut Ambar Pertiwi, kepala Stasiun Riset Bekantan, bahwa stasiun riset ini sekarang lebih menjadi laboratorium alam. Serta memiliki daya tarik tersendiri bagi mahasiswa dan peneliti, untuk belajar tentang ekosistem lahan basah untuk kemajuan ilmu pengetahuan, kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat disekitarnya.


Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Elpianur Achmad