River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Amalia Rezeki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalia Rezeki. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2023

SBI Terima Kalpataru

Banjarmasin – Penyelamtan bekantan yang terancam punah di Kalimantan Selatan oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) berbuah Kalpataru 2022 yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan dari Pemerintah Republik Indonesia.

Amalia rezeki

“Alhamdulilah Kalpataru ini untuk semua orang yang peduli terhadap pelestarian bekantan sebagai maskot fauna Kalimantan Selatan,” kata Ketua SBI Amalia Rezeki di Banjarmasin.

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, menyelamatkan bekantan tidaklah mungkin tanpa menyelamatkan habitat alaminya. Untuk itu, dia memulai dengan program wakaf lahan melalui aksi beli kembali lahan.

Sejengkal demi sejengkal lahan bekas habitat bekantan yang telah beralih fungsi, dibeli kembali oleh SBI kemudian direstorasi melalui penanaman pohon mangrove (bakau) reparian jenis rambai yang jadi pakan utama bekantan.

Selain sebagai habitat bekantan, kata Amel, hutan mangrove rambai mampu menyerap karbon empat kali lipat lebih besar dari hutan tropis lainnya. Hal ini penting bagi mitigasi pemanasan global yang memicu perubahan iklim dan bencana iklim.

“Untuk itulah kata kunci kami adalah selamatkan bekantan selamatkan peradaban manusia,” tuturnya.

Amel menyebut apa yang pihaknya lakukan selaras dengan program pemerintahan Presiden Joko Widodo di bidang pemulihan ekonomi nasional melalui program restorasi mangrove yang diharapkan meningkatkan pendapatan masyarakat dengan kegiatan pembibitan dan penanaman mangove, budi daya perikanan, ekowisata, dan pengelolaan produk buah yang bisa menjadi kuliner khas daerah setempat.

Makanya selain fokus pada upaya konservasi dan penelitian terhadap primata unik endemik Kalimantan yang keberadaannya terancam punah di Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, tim SBI yang dikomando Amel juga membangun Taman Buah Lokal Mekar Lestari di Desa Wisata Muara Kanoco, Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala.

Di lokasi ini, ditanami aneka jenis buah lokal lahan basah dan pesisir sungai termasuk buah kasturi yang merupakan maskot flora Kalimantan Selatan dan telah dinyatakan punah status konservasinya oleh Lembaga Konservasi Dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature).

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Alue Dohong menyerahkan penghargaan Kalpataru tahun 2022 kepada 10 orang penerima dan penghargaan Nirwasita Tantra tahun 2021 kepada 42 orang kepala daerah.

Salah satu penerimanya Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) di Kalimantan Selatan. SBI berawal dari komunitas yang memberikan perhatian serius pada program perlindungan dan pelestarian bekantan dengan misi “Save Our Mascot” dan tahun 2018 melalui program “Bekantan Goes Global”.

Amel mewakili seluruh tim SBI menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah memberikan penghargaan Kalpataru.

Dia menyatakan Menteri LHK Siti Nurbaya telah memberikan dukungan serta binaan dengan baik, sehingga menjadi inspirasi dan semangat timnya untuk terus bergerak dalam memuliakan alam dan planet bumi ini, dengan cara yang sederhana.

“Kepada Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, semangat beliau melalui revolusi hijaunya telah merasuk dalam jiwa kami. Capaian ini tidak lepas dari peran gubernur Paman Birin,” tuturnya.

Terima kasih juga disampaikannya kepada Walikota Banjarmasin Ibnu Sina serta Hj Noormiliyani AS, Bupati Barito Kuala atas kolaborasi serta dukungan yang luar biasa selama ini.

Dukungan penuh Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Sutarto Hadi dan seluruh civitas akademica terhadap pelestarian monyet hidung panjang itu juga sangat berjasa bagi perjuangan SBI, sehingga Amel dan timnya begitu terbantu.

SBI hanya sebuah perjalanan panjang dari komunitas kecil yang peduli lingkungan dan planet bumi ini. Bergerak dari sekumpulan mahasiswa yang cinta akan negeri ini dan memilih mengabdi di bidang lingkungan dengan cara memuliakan alam.

Kemudian kepada yang warga Desa Marabahan Baru, Anjir Serapat Muara 1 dan Anjir Serapat Muara, Amel sangat berterima kasih.

“Mari kita bangun desa kita dari desa tertinggal menjadi desa maju dan makmur serta lestari. Bersama kita bisa. Salam lestari Indonesiaku,” ucapnya. (Ant)

Minggu, 11 Juli 2021

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021, Pelestari Bekantan Ini Dapat Dua Penghargaan

BANJARMASIN POST.CO.ID -  Di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 ini, kembali sang pelopor pelestari bekantan, yang juga dosen muda Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Amalia Rezeki meraih penghargaan pejuang konservasi bekantan.

Amalia rezeki

Kali ini Amel, panggilan akrabnya, mendapatkan dua penghargaan sekaligus yakni dari Pj Gubernur Kalsel Safrizal ZA berupa Apresiasi  Sasangga Banua Pada Pejuang Lingkungan Hidup Pelestari Bekantan dan Penghargaan Pelopor Konservasi Bekantan yang diserahkan oleh Hj Noomiliyani AS, SH, Bupati Barito Kuala (Batola)

“Saya sangat terharu dan bersyukur mendapat apresiasi dari pemerintah daerah ini. Walaupun sebelumnya saya telah menerima penghargaan yang sama secara nasional dan juga internasional. Tapi apresiasi ini sangat berkesan dan menyentuh bagi saya, yang mendapat perhatian dari pemerintah daerah saya sendiri," kata kandidat doktor dibidang konservasi Bekantan ini, Senin (7/6/2021).

BANJARMASIN POST.CO.ID -  Di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 ini, kembali sang pelopor pelestari bekantan, yang juga dosen muda Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Amalia Rezeki meraih penghargaan pejuang konservasi bekantan.

Kali ini Amel, panggilan akrabnya, mendapatkan dua penghargaan sekaligus yakni dari Pj Gubernur Kalsel Safrizal ZA berupa Apresiasi  Sasangga Banua Pada Pejuang Lingkungan Hidup Pelestari Bekantan dan Penghargaan Pelopor Konservasi Bekantan yang diserahkan oleh Hj Noomiliyani AS, SH, Bupati Barito Kuala (Batola)

“Saya sangat terharu dan bersyukur mendapat apresiasi dari pemerintah daerah ini. Walaupun sebelumnya saya telah menerima penghargaan yang sama secara nasional dan juga internasional. Tapi apresiasi ini sangat berkesan dan menyentuh bagi saya, yang mendapat perhatian dari pemerintah daerah saya sendiri," kata kandidat doktor dibidang konservasi Bekantan ini, Senin (7/6/2021).

Seperti diketahui sejak 2013 yang waktu itu Amel masih sebagai mahasiswa, sudah aktif terjun ke dunia pelestarian lingkungan dan kemudian.

Baru tahun 2016 ia mendirikan lembaga konservasi bekantan dengan diawali upaya rescue si Monyet Berhidung Mancung ini, yang juga dikenal sebagai maskot provinsi Kalimantan Selatan. 

Sudah cukup banyak bekantan yang direscue dan setelah dirawat, kemudian dilepas liarkan kembali olehnya bersama BKSDA Kalsel, sebuah lembaga pemerintah dibawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang menaungi kegiatannya dibidang konservasi.

Kini, Amel yang merupakan pendiri Yayasan Sahabat Bekantan itu, telah membangun Stasiun Riset Bekantan dan Ekosistem Lahan Basah dikawasan Pulau Curiak, Barito Kuala yang keberadaannya cukup mendunia. 

“Adapun tujuan didirikannya Stasiun Riset Bekantan, adalah untuk kegiatan riset dan upaya melestarikan bekantan terhadap degradasi populasi bekantan, terutama diluar kawasan konservasi. Karena habitat bekantan diluar kawasan konservasi sangat rentan dari kerusakan habitat, akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan dan perburuan liar," katanya.

Disamping itu Amel bertekat mendukung kampusnya, Universitas Lambung Mangkurat,  menjadi pusat riset bekantan dan ekosistem lahan basah didunia.

Serta menjadikan Kalsel sebagai destinasi ekowisata bekantan dunia, untuk menunjang pembangunan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.

Sementara itu, Prof Dr H Sutarto Hadi, MSc, MSi, Rektor Universitas Lambung Mangkurat, sangat mengapresiasi dosen muda berprestasi nya, yang telah menghasilkan karya-karya luar biasa, baik dibidang konservasi maupun riset lahan basah termasuk pengabdian masyarakat.

“Alhamdulillah, aksi nyata yang jelas dan terbukti. Insya Allah penghargaan yang diterima barokah dan membawa kebaikan bagi kita semua. Terus semangat dan berkarya untuk almamater dan negeri ini. Terimakasih kontribusinya Amel dan tim dari SBI yang berkolaborasi dengan ULM dalam mengimplementasikan Tridharma Perguruan tinggi dengan baik,” tutur Sutarto.


Senin, 15 Februari 2021

Amalia Rezeki dosen muda ULM figur inspiratif konservasi tampil di Australia

Banjarmasin (ANTARA) - Amalia Rezeki Biologist Conservation dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan akan tampil di The Conservation Biology Research Group-University Newcastle-Australia, untuk menyampaikan pesan inspiratif melalui video online, terkait konservasi lingkungan.

amel bekantan


"Saya dihubungi panitia Biomes Online Exhibition, untuk dapat berpartisipasi dalam eksibisi yang tahun ini diselenggarakan secara online dikarenakan pandemi Covid-19," kata Amalia Rezeki dosen muda ULM yang juga Kandidat Doktor bidang Lingkungan itu di Banjarmasin, Kamis.

Dalam rangka memperingati Hari National Biodiversity Australia, Ia diminta menyampaikan pesan inspiratif bersama beberapa tokoh inspiratif didunia konservasi biodiversitas, termasuk Prof. Dr. Birute Galdikas, primatolog dan pelestari orangutan - Tanjung Puting asal Amerika.

Amalia Rezeki yang juga dikenal sebagai founder Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Foundation atau pelestari bekantan di Indonesia ini, sebagai figur inspiratif dalam pemberdayaan masyarakat, yang berkontribusi pada peran penting konservasi keaneka ragaman hayati yang akan tampil pada 4 - 27 September 2020.

Ia adalah satu-satunya perempuan Indonesia dibidang konservasi primata yang akan ikut memberi pesan inspiratif tersebut.

Amel sebutan akrab Amalia Rezeki, mengatakan ia sangat bersyukur dan terimakasih atas apresiasi masyarakat dunia, khususnya di Australia yang memberi ruang dan support kepadanya dalam upaya konservasi keaneka ragaman hayati, khususnya primata endemik Kalimantan yang dikenal unik dan kelangkaannya, yaitu bekantan.

"Perhatian masyarakat Australia terhadap pelestarian keaneka ragaman hayati, memang sangat tinggi. Mahasiwa yang memiliki minat studi dibidang biologi konservasi juga banyak," tuturnya.


Hal ini terbukti ketika pertengahan tahun lalu saya berkesempatan memberikan kuliah umum di Universitas New Castle, antusias para mahasiswa untuk bertanya luar biasa. Mereka juga sangat mengapresiasi upaya kita dalam melestarikan bekantan.

Bahkan secara spontan mereka juga mengumpulkan dana untuk berdonasi bagi kegiatan konservasi yang kami lakukan di Kalimantan Selatan.

Sementara itu panitia eksibisi menyampaikan terimakasih atas kesediaan Amel untuk turut berkontribusi pada acara tersebut.

“Terima kasih atas bantuannya! Amalia ini adalah tambahan yang bagus dan saya sangat menghargai Anda meluangkan waktu untuk syutingnya “, kata Rose Upton panitia penyelenggara Biomes Online Exhibition - The Conservation Biology Research Group - University New Castle - Australia.

Biomes Exibition 2020 akan diselenggarakan pada tanggal 4 - 27 September 2020 di University Of Newcastle - New South Wales - Australia. Eksibisi ini merupakan kolaborasi antara Sekolah Ilmu Lingkungan dan Kehidupan, Sekolah Industri Kreatif, dan Sekolah Psikologi di Universitas Newcastle, yang sejalan dengan festival online internasional Ars Electronica, Kepler's Gardens.

Senin, 21 Desember 2020

Gigih Selamatkan Bekantan, Amelia Raih Local Heroes Award Tribun Network

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Berlangsung haru dan meriah, event nasional 'Reinventing Local Heroes Award' yang digelar Tribun Network dan Tribun Institute menjadi ajang paling berkesan bagi peserta. 

Penghargaan-penghargaan Amalia Rezeki

Kegiatan yang digelar pada Kamis (17/12/2020) tersebut menampilkan orang-orang yang mempunyai komitmen tinggi terhadap kemajuan daerah sesuai dengan keahlian masing-masing. Acara yang dilaksanakan secara virtual ini mendapat sambutan hangat karena ratusan partisipan hadir dalam kegiatan yang digelar selama 2 jam lebih itu. Tidak sedikit pula partisipan merasa haru sehingga air mata pun menetes tak terasa karena sepak terjang mereka selama ini mendapat penghargaan tingkat nasional. 

Amalia Rezeki dari Kalimantan Selatan, ia bahkan merasa bangga dan sangat terkesan karena aktivitas penyelamat Bekantan sekaligus perintis restorasi mangrove rambai yang selama ini dilakukannya mendapat pengakuan secara nasional. Dosen muda Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini bisa dikatakan perempuan pertama yang mendedikasikan diri melindungi bekantan dari kepunahan melalui berbagai aksinya. 

Wakil dari Kalimantan Selatan lainnya, Muhammad Arifin melalui Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang didirikannya bisa 'menampung' anak-anak di sekitar yang tidak bisa sekolah dan kekurangan biaya. Dengan Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar ini pula Arifin tidak hanya menampung para remaja dan pemuda yang terhambat sekolahnya, tapi juga memperhatikan pendidikannya. 

Melihat banyaknya orang-orang berjasa pada kondisi sosial lingkungannya ini menjadi alasan Tribun Network dan Tribun Institute memberikan penghargaan kepada 21 Local Heroes terpilih dari seluruh penjuru Indonesia. 

CEO Tribun Network, Dahlan Dahi dalam sambutannya mengatakan penghargaan ini sebagai penghargaan kepada insan di daerah yang memiliki pengaruh positif bagi daerah masing-masing. "Selama ini penghargaan hanya di pusat. Orang tokoh lokal tapi tidak bisa dilihat oleh Jakarta. Panggung mutiara lokal dilihat nasional hingga internasional," katanya saat membuka acara pembukaan Reinventing Local Heroes Award, secara virtual, Kamis (17/12/2020). 

Dahlan berharap dengan adanya penghargaan ini semakin banyak pihak terinspirasi, terdorong dan termotivasi untuk berkontribusi bagi banyak orang. "Selamat kepada penerima penghargaan. Semoga ini dapat mendorong untuk terus berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan. The real heroes," ujar dia.

Senin, 25 November 2019

SBI dan BKSDA Kalsel Tanda Tangani Kerjasama Dibidang Konservasi dan Riset Bekantan

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARBARU - Bertempat di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) Kalimantan Selatan, digelar agenda Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi antara BKSDA Kalsel dengan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Sahabat Bekantan dan BKSDA
Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc dan Amalia Rezeki Saat Melakukan Penandatanganan Kerjasama

Acara penandatanganan dilakukan oleh Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc selaku Kepala BKSDA Kalsel dengan Amalia Rezeki, SPd, MPd sebagai ketua SBI, dengan dihadiri oleh unsur pimpinan kedua belah pihak berserta para undangan, kemarin.

Penandatanganan perjanjian kerjasama dengan SBI ini menurut Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc merupakan kelanjutan dari kemiteraan konservasi dengan SBI yang sudah terbangun sejak tahun 2015 lalu dan dilakukan peningkatan lagi dibidang penelitian dan pengembangan.

“Kami sangat mengapresiasi SBI yang selama ini membangun komitmen bersama dalam implementasi kemitraan konservasi melalui kegiatan pelestarian bekantan dan pemulihan ekosistem habitat bekantan di Kalsel ", jelas Mahrus.



Kerjasama yang akan berlangsung selama 5 tahun ini meliputi kawasan konservasi habitat bekantan di Kalsel. Teknis kegiatan disusun dalam Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT).


"Semoga dalam ruang lingkup kerjasama yang disepakati memberikan dampak positif bagi bagi upaya pelestarian bekantan di Kalsel, dan menumbuhkan kepedulian serta partisipasi semua pemangku kepentingan untuk turut berkontribusi dalam pelestarian bekantan," katanya.


Sementara itu Amalia Rezeki ketua SBI menyampaikan bentuk kerjasama antara SBI dan BKSDA Kalsel merupakan sinergisitas positif yang terbangun antara masyarakat dan pemerintah.



"Kami berterimakasih selama ini selalu dibina dalam setiap kegiatan terkait konservasi baik satwa liar maupun pemulihan habitat", kata Amalia Rezeki peraih penghargaan dibidang lingkungan ASEAN Youth Eco Champion Award 2019 di Cambodia, Selasa (19/11/2019).


Saat ini SBI bangun kawasan Stasiun Riset Bekantan dan Ekosistem Lahan Basah di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala,_Kalsel. Untuk itu dalam klausal perjanjian kerjasama ini tidak hanya dibidang konservasi bekantan dan pemulihan habitat, tapi juga dibidang riset


Penulis: Syaiful Anwar

Primatolog Spanyol Terpukau dengan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak Barito Kuala

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARMASIN - Stasiun Riset Bekantan atau yang juga dikenal sebagai stasiun riset ekosistem lahan basah yang dikelola bersama antara Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin memiliki peran penting sebagai tempat penelitian ilmiah ekosistem lahan basah.
stasiun riset bekantan
Amalia Rezeki bersama Elena dan Christ di Stasiun Riset Bekantan
Terutama dengan keberadaan monyet si hidung panjang Bekantan (Nasalis larvatus) dan primata lainnya seperti Lutung kelabu (Trachypithecus cristatus) serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Keberadaan primata endemik pulau Kalimantan seperti Bekantan ini, telah menarik dua pegiat konservasi primata dari Spanyol, Elena dan Chris adalah peneliti primata yang juga pegiat dalam konservasi primata di Spanyol dan Belanda.

Kedatangannya ke Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Barito Kuala ini atas rekomendasi teman- temannya yang sedang meneliti monyet Yaki di Sulawesi.

"Amazing.Stasiun Riset ini sederhana, tapi menyimpan keragaman hayati yang cukup banyak, baik Primata, Mamalia dan berbagai jenis burung air serta nektar. Tempat yang bagus untuk melakukan penelitian dan konservasi. Kami salut dengan SBI bersama Universitas Lambung Mangkurat membangun kawasan ini sebagai sarana riset dan konservasi," jelas Elena, Rabu (13/11/2019).

Menurut Amalia Rezeki, founder dari SBI foundation, sejak diresmikan sebagai Stasiun Riset oleh Prof Dr H Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc yang juga Rektor ULM bersama Prof.Tim Roberts dari University Of New Castle - Australia 2018 lalu, telah menghasilkan lebih dari 12 karya ilmiah yang dipublikasikan, baik secara Nasional maupun Internasional.



"Penelitian tersebut berkontribusi penting bagi ilmu pengetahuan tentang ekosistem lahan basah, yang menjadi visi-misi ULM. Sebagai perguruan tinggi terkemuka dan berdaya saing dibidang Lahan Basah," kata Amalia yang juga dosen Pendidikan Biologi ULM.


Lebih lanjut, perempuan peraih ASEAN Eco Champion Award 2019 ini, menerangkan kehadiran Elena dan Chris bagi SBI cukup penting, karena membangun kolaborasi dalam upaya pelestarian primata. Mengingat mereka memiliki pengalaman yang cukup dan bekerja disebuah lembaga konservasi Internasional yang berusia hampir 40 tahun.

" Kami sangat mengapresiasi kerja keras Amalia dan timnya yang berjuang tidak saja melestarikan Bekantan, akan tetapi membangun kawasan stasiun riset diluar kawasan konservasi dan merehabilitasi hutan mangrove sebagai habitat beragam satwa dan biota lahan basah. Ini kerja besar dari sebuah tim yang kecil. Kami ingin membantunya dengan ilmu yang kami miliki dan membuka jaringan Internasional," ujar Chris dengan penuh semangat bercampur haru.

Chris sangat terinspirasi karena banyak aspek yang ditangani dalam kegiatan konservasi ini.

"Ini benar-benar project yang menginspirasi dan kegiatan restorasi mangrove yang dilakukan sangat membantu baik untuk bekantan tetapi juga dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal. Kami sangat mendukung Amalia Project," tambahnya.

Menurut Ambar Pertiwi, kepala Stasiun Riset Bekantan, bahwa stasiun riset ini sekarang lebih menjadi laboratorium alam. Serta memiliki daya tarik tersendiri bagi mahasiswa dan peneliti, untuk belajar tentang ekosistem lahan basah untuk kemajuan ilmu pengetahuan, kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat disekitarnya.


Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Elpianur Achmad

Senin, 21 Oktober 2019

Berbicara di Forum ASEAN, Ini yang Dirasakan Amalia Rezeki Dosen Muda ULM

BANJARMASIN POST.CO.ID - Keterlibatannya dalam kegiatan konservasi alam dan pariwisata khususnya bekantan, membuat sosok Amalia Rezeki kini kerap tampil di forum internasional.

Setelah beberapa waktu lalu berbicara di hadapan duta besar, diplomatik dan pelaku usaha wisata negara bagian Baltik, serta undangan pemerintah Estonia, Ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) ini kembali diundang di forum ASEAN.

Amelia berbicara di forum terhormat seperti ASEAN, Seminar on Environment for Future Generations di Sofitel Angkor Phokeethra Golf & Spa Resort Vithei Charles De Gaulle, Khum Svay Dang Kum,cSiem Reap, Cambodia.

Pendiri Sahabat Bekantan Indonesia
Amalia Rezeki, Pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI)
Ada kebanggaan tersendiri bagi Amelia Rezeki dosen Dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin dapat berbicara di forum terhormat seperti ASEAN.
"Alhamdulillah saya berkesempatan berbicara dihadapan para delegasi negara negara ASEAN dengan mengusung tema " Environment for Future Generations " kata dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat ( ULM ) Banjarmasin saat dihubungi di Siem Reap, Cambodia, Senin (7/10/2019) malam.
Sahabat Bekantan Indonesia
Amalia Rezeki, Saat menjadi pembicara di forum ASEAN

Akrabnya, antusias peserta seminar negara-negara ASEAN sangat tinggi dan mereka sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh dirinya bersama Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia ( SBI ) dalam mengelola lingkungan melalui pelestarian bekantan dan hutan mangrove rambai yang melibatkan masyarakat lokal disekitar kawasan habitat bekantan di Kalsel.
"Saya sangat terharu dan mengapresiasi mereka yang hadir di seminar tersebut, karena mereka datang dari berbagai negara anggota ASEAN yang pada umumnya generasi muda yang peduli lingkungan," kata peraih penghargaan nasional wanita inspiratif dibidang lingkungan She Can Award 2015.

Amel menambahkam, dirinya berharap ini menjadi inspirasi bersama juga bagi generasi muda di Indonesia, khususnya masyarakat Kalsel untuk saling meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan alam.

Kehadiran Amel di forum ASEAN ini atas undangan panitia ASEAN Environment Day 2019 untuk mengisi acara seminar sebagai narasumber sekaligus penerima penghargaan ASEAN Youth Eco-Champions Award 2019 yang pertama kali diadakan oleh ASEAN, yang akan diserahkan pada selasa malam (8/10/2019).
Amel pun mengucapkan terima kasih, keberangkatannya ke Kamboja didukung penuh oleh ASEAN Secretariat, Kementerian LHK-RI, dan Universitas Lambung Mangkurat.

(banjarmasin post.co.id/syaiful anwar)

Amalia Rezeki, Pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia Raih Penghargaan Internasional

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dosen muda Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Amalia Rezeki mendapatkan penghargaan tingkat internasional.
ASEAN Youth Eco-champion Award
Amalia Rezki, Saat menerima penghargaan ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) di Kamboja
Perempuan yang akrab disapa Amalia ini tidaklah asing di dunia konservasi Bekantan (nasalis larvatus) karena sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai perempuan inspiratif di bidang lingkungan baik regional maupun nasional.

Kali ini Amalia mendapatkan penghargaan ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) 2019 yang dilaksanakan di negara Kamboja pada Selasa (8/10/2019) malam.
Penghargaan ini terbilang sangatlah bergengsi di bidang lingkungan hidup antar negara di ASEAN dan menjadi penghargaan pertamanya di tingkat internasional.
Perempuan penyelamat bekantan ini menerima penghargaan AYECA 2019 yang diserahkan oleh MS Yukari Sato,state minister, minister of the environment Japan dan Tun Sa Im, Ministry of education, youth and sport di Sokhalay Angkor Resort & Spa, Siem Reap, Cambodia.

"Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, atas Karunia dan Rahmat-Nya, hari ini saya bisa berdiri di podium yang terhormat ini, mewakili ratusan juta angkatan muda Indonesia untuk menerima penghargaan di bidang lingkungan antar negara ASEAN di Siem Reap, Cambodia," jelas Amalia saat dihubungi.

Sebagai seorang dosen biologi, kecintaan Amalia terhadap lingkungan dan bekantan, satwa berhidung mancung itu sudah tak perlu diragukan lagi.

Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk melestarikan dan melindungi bekantan yang juga sebagai ikon kebanggaan Kalsel tersebut.

Dia adalah perempuan pertama di Indonesia yang mendedikasikan diri dengan sungguh-sungguh dan konsisten melindungi bekantan dari kepunahan, melalui aksinya di bidang lingkungan dan perbaikan habitat.

Dalam mendukung upayanya tersebut Amalia mendirikan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), dengan misi selamatkan bekantan - Selamatkan Peradaban Manusia.
Usahanya ini tidak terlepas dari pembinaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, melalui BKSDA dan Dinas Kehutanan Kalsel serta dukungan penuh Prof Sutarto Hadi,selaku Rektor ULM.

Menurutnya dedikasi terhadap pelestarian bekantan, bukanlah untuk sebuah apresiasi, melainkan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara, keilmuan serta keimanan sebagai khalifah di muka bumi dan untuk keberlanjutan generasi mendatang.

"Apresiasi yang saya terima adalah bukti keseriusan kami dalam menjaga lingkungan alam serta pelestarian bekantan di Kalsel. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, apresiasi ini saya persembahkan untuk ayah saya yang telah mendahului saya disurga dan ibu saya yang saat ini mungkin merasa sepi, karena saya tinggal sendirian untuk mengadiri acara ini, dan all crew SBI yang saya cintai, juga tentunya almamater saya ULM, Banua serta generasi muda kita di Indonesia," jelas Amalia.

Sementara itu, menanggapi keberhasilan dosen mudanya menerima penghargaan Internasional di bidang lingkungan ini, Sutarto Hadi, mengucapkan selamat dan merasa bangga.

"Luar biasa, sangat membanggakan. ULM bersyukur memiliki dosen yang memiliki prestasi dalam bidang lingkungan dan mendapat pengakuan Internasional. Prestasi ini menjadi bukti bahwa ULM telah menjadi universitas yang terkemuka dan berdaya saing. Saya berharap capaian ini menjadi motivasi bagi dosen lainnya. Demikian pula mahasiswa dan generasi muda dapat menarik pelajaran. Jangan lelah untuk berjuang untuk masa depan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik," tuturnya.
Saat ini Amalia bersama timnya sedang mendirikan sekolah konservasi serta stasiun riset bekantan dan ekosistem lahan basah di kawasan Pulau Curiak, kabupaten Barito Kuala, Kalsel.

Dia juga sedang gencar mengkampanyekan program "Buy Back The Land" yaitu membeli kembali lahan yang dulunya menjadi habitat bekantan untuk dihutankan kembali bagi rumah bekantan serta kehidupan ekosistem lahan basah yang lestari.
(Banjarmasinpost.co.id/Frans Rumbon)

Amalia the bekantan conservationist receives ASEAN award

Banjarmasin, South Kalimantan (ANTARA) - A young Biology lecturer of Lambung Mangkurat University (ULM), who is famous as a bekantan (Nasalis larvatus) conservationist, Amalia Rezeki, received the prestigious award of AYECA in Cambodia, Tuesday night (Oct 8, 2019).

Bekantan Conservationist
Amalia Rezeki, Bekantan (Nasalis larvatus) conservationist.
The ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) recognises young citizens, aged 18-35 years, from ASEAN Member States (AMS) who have made outstanding contributions to protecting the environment. The award is presented to two youth eco-champions per AMS. There are two categories based on age: Junior Category (Aged 18-25) Senior Category (Aged 26-35)
Amalia Rezeki
Amalia Rezeki, received the prestigious award of AYECA in Cambodia, Tuesday night (Oct 8, 2019)
This is the first time for her to receive an international award. Amalia Rezeki has previously gained many regional and national awards.

She was not alone to Cambodia, but accompanied by Susy Herawati and Windarty from the Ministry of Environment and Forestry (LHK) of the Republic of Indonesia.

The bekantan rescue received the 2019 AYECA 2019 from Japan State Minister, Minister of Environment MS Yukari Sato and Tun Sa Im, Ministry of education, Youth and Sport in Siem Reap, Cambodia.

"I am very grateful to Allah Subhanahu wa Ta'ala for His Gift and Mercy today I am standing on the honorable podium representing hundreds of millions of Indonesia's young generation to receive award in the field of environment among ASEAN countries in Siem Reap, Cambodia," she noted, As a biology lecturer, Amalia Rezeki's love for proboscis monkey has no doubt. Most of her life is dedicated to preserving and protecting the long-nosed animal which is an icon of South Kalimantan.
She is the first woman in Indonesia who has dedicated herself sincerely and consistently since five years to protect the proboscis monkey from extinction.

In supporting this effort Amalia founded the Sahabat Bekantan Indonesia (Indonesian Bekantan Friends Foundation), with a mission to Save Bekantan. This effort is inseparable from guidance from the Ministry of Environment and Forestry through the South Kalimantan Natural Resources Conservation Agency (BKSDA).

For her, the dedication to the preservation of proboscis monkey is not an appreciation, but a form of responsibility as a citizen, science, and faith as the vicegerent of the earth and for the sustainability of future generations. "As a key species, saving bekantan for us is saving the planet," said Amalia Rezeki.

ULM Rector Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, MSc. congratulated and proud of Amalia Rezeki, who is a young lecturer with outstanding achievements.

"Excellent, very proud. ULM is grateful to have lecturers who have achievements in the environmental and received international recognition. This achievement is proof that ULM has become a leading and competitive university," he said.

 Editor: Mahdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019