River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2025

SBI Tanam 4.000 Bibit Rambai untuk Pulihkan Mangrove Pulau Curiak

Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) kembali melakukan upaya pemulihan ekosistem mangrove dengan menanam sebanyak 4.000 bibit pohon rambai (Sonneratia caseolaris) di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Tanam Mangrove


Founder SBI Foundation, Dr. Amalia Rezeki, menyampaikan bahwa kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari PT Toyota Astra Motor (TAM) bersama mitra Benih Baik yang turut hadir dari Jakarta. Menurutnya, langkah ini menjadi kontribusi nyata dalam mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga kelestarian lahan basah yang juga menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar sungai.

Selain itu, Pulau Curiak dikenal sebagai habitat bekantan, primata endemik Kalimantan yang statusnya dilindungi oleh Undang-Undang. “Kami sangat mengapresiasi komitmen TAM yang konsisten mendukung konservasi bekantan dan rehabilitasi mangrove riparian di Pulau Curiak,” ucap Amel, sapaan akrabnya.

Amel, yang juga dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menjelaskan bahwa mangrove memiliki peran strategis dalam menyerap emisi karbon. Kapasitas penyimpanan karbon pohon mangrove bahkan tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan hutan tropis pada umumnya.

Pada kesempatan yang sama, SBI juga melaksanakan kegiatan Sekolah Konservasi yang diikuti 25 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Selatan. Para peserta belajar mengenai konservasi keanekaragaman hayati, melakukan pengamatan satwa langsung di alam, hingga ikut menanam pohon rambai.

Perwakilan TAM, Suranywaty Tjandrasa, mengaku terkesan dengan perkembangan program restorasi mangrove dan konservasi bekantan di Pulau Curiak. “Kami berharap inisiatif ini terus berlanjut, karena bekantan adalah ikon fauna Kalimantan Selatan dan hanya hidup di Kalimantan,” ungkapnya.

Sebelumnya, pada 2023 TAM bersama SBI dan Benih Baik juga telah menanam 11.000 bibit rambai yang kini tumbuh subur dan menjadi bagian penting dari ekosistem setempat, termasuk sebagai sumber pakan bekantan.

Sementara itu, Co-Founder Yayasan Benih Baik Indonesia, Khristiana Anggit Mustikaningrum, menilai pembangunan ekosistem di Pulau Curiak sangat menginspirasi. Ia juga menekankan pentingnya program sekolah konservasi sebagai sarana menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pelestarian lingkungan.

Senin, 01 September 2025

25 Mahasiswa Ikuti Sekolah Konservasi Alam Sahabat Bekantan Indonesia


Barito Kuala, Kalsel
– Global Nature Conservation School Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) kembali menggelar Sekolah Konservasi Alam pada Jumat, 29 Agustus 2025 di Stasiun Riset Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kegiatan ini diikuti sekitar 25 mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan komunitas pecinta alam di Kalsel.

Sekolah Konsrvasi

Koordinator Sekolah Konservasi, Dewita, menjelaskan bahwa kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Dr. Amalia Rezeki, seorang biologist conservation dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus pendiri Sahabat Bekantan Indonesia, serta Ramadhan Jayusman, S.Si, perwakilan dari Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark.

Menurut Dewita, Sekolah Konservasi merupakan wahana edukasi yang memfasilitasi proses pembelajaran untuk membangun semangat kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Program ini diberi nama Global Nature Conservation School, yang digagas oleh Dr. Amalia Rezeki. Ia dikenal sebagai akademisi ULM dan praktisi konservasi yang telah lama mengabdikan diri pada pelestarian bekantan, primata endemik sekaligus maskot Kalimantan Selatan.

“Melalui sekolah konservasi ini, kami ingin menanamkan spirit peduli lingkungan kepada generasi muda, agar mereka bisa menjadi bagian dari gerakan pelestarian alam yang berkelanjutan,” tutur Dewita.

Terselenggaranya kegiatan ini tidak lepas dari dukungan PT Toyota Astra Motor (TAM) dan mitra Yayasan Benih Baik dari Jakarta. Kolaborasi ini memperkuat komitmen berbagai pihak dalam mendukung upaya konservasi alam di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, Khristiana Anggit Mustikaningrum, Co-Founder Yayasan Benih Baik Indonesia, menekankan pentingnya peran sekolah konservasi dalam mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

“Anak-anak muda adalah kunci masa depan. Melalui sekolah konservasi, mereka bisa belajar langsung dari para pakar sekaligus terlibat dalam aksi nyata menjaga bumi,” ungkapnya.

Dengan semangat kolaborasi dan edukasi, Sekolah Konservasi Alam diharapkan mampu melahirkan agen-agen muda konservasi yang siap menjaga warisan alam Kalimantan Selatan untuk generasi mendatang.

Minggu, 22 Juni 2025

Sekolah konservasi di Pulau Curiak

Banjarmasin (ANTARA) - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar sekolah konservasi di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala.

"Sekolah konservasi diikuti 50 mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Barito Kuala," kata Founder SBI Foundation, Amalia Rezeki di Banjarmasin, Rabu

Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, berbagi pengalaman dan berharap generasi muda dapat mendukung program pemerintah terkait upaya perbaikan lingkungan dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Terutama melindungi habitat alami satwa liar yang berada di luar kawasan konservasi, khususnya bekantan yang merupakan maskot kebanggaan Provinsi Kalimantan Selatan.

"Kita harus memuliakan alam secara harmoni melalui pemulihan ekosistem lahan basah dan hutan tropis lainnya secara terpadu berbasiskan penguatan kapasitas masyarakat," ujarnya.

Peraih Youth ASEAN Eco Champion Award 2019 di Kamboja ini menekankan upaya menyelamatkan hutan dan keragaman hayati berarti telah menyelamatkan peradaban manusia.

Koordinator aksi lingkungan sekolah konservasi, Dewita menjelaskan kegiatan itu mencakup penanaman bibit mangrove di kawasan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak.

Temasuk aksi bersih-bersih sampah plastik di area sungai sekitar dan aksi konservasi keragaman hayati.

Dia menyebut sekolah konservasi merupakan bagian dari upaya generasi muda turut dalam memulihkan ekosistem mangrove sekaligus mendukung agenda keberlanjutan lingkungan secara berkelanjutan.

Sementara itu Ketua IMM Barito Kuala Nadia Afsari mengatakan kegiatan tour de ecology IMM dengan tema Wujudkan Moralitas Lingkungan Beroriantasi Keislaman yang dikemas dalam sekolah konservasi tersebut dalam rangkaian Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang diperingati setiap 22 Mei.

"Kami ingin meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya keanekaragaman hayati bagi keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan di bumi," ucapnya.

Hadir pada acara tersebut, Helda, sebagai Duta Bekantan dan Raudah Putri selaku Pariwisata Kalsel 2024, serta Ramadhan Jayusman dari Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark sebagai narasumber.

Sumber artikel : https://www.antaranews.com/berita/4863725/sahabat-bekantan-indonesia-gelar-sekolah-konservasi-di-pulau-curiak


Sabtu, 16 Oktober 2021

Nur Asia Uno: Pelestarian bekantan dikampanyekan di IMFW 2021

Istri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, Nur Asia Uno, mengaku pelestarian bekantan bakal dikampanyekan di pergelaran mode internasional bertajuk "Indonesia Modest Fashion Week (IMFW) 2021" dengan tema "Save Bekantan".

Indonesian Modest Fashion Week (IMFW)

"Tujuannya agar masyarakat dunia mengenal lebih jauh tentang bekantan dan pelestariannya di Amerika Serikat, maka akan dikampanyekan melalui ajang pergelaran mode di beberapa negara, seperti;Rusia dan Italia," terang dia di Banjarmasin, Sabtu.

Selaku penggagas IMFW, Mpok Nur, begitu biasa Nur Asia Uno disapa, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama melindungi bekantan yang saat ini populasinya di alam terancam punah. 

IMFW


“Bekantan ini binatang sangat langka dan hanya ada di Pulau Kalimantan, jadi kalau bukan kita yang bisa menyelamatkannya siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi. 

Bekantan ini adalah mahluk Allah SWT yang dianugerahkan kepada kita untuk dilindungi,” tuturnya.

Sementara Jeny Tjahyawati sebagai Founder Indonesia Modest Fashion Week dan Ketua Umum Indonesia Modest Fashion Desainer (IMFD) mengungkapkan Indonesia Ajang Mode Tahun 2021 ingin menghadirkan kolaborasi fesyen dengan lingkungan alam di Miami, Amerika Serikat.

Atas Arahan;Mpok Nur, ungkap dia, pada pergelaran IMFW yang dibuat secara khusus desain baju ikon bekantan untuk Save Bekantan.

IMFW yang digelar tahun ini diikuti 12 perancang busana Tanah Air, baik dari Jakarta, Bandung, Surabaya, termasuk melibatkan desainer lokal asal Kalimantan Selatan.

Pengambilan gambar untuk fesyen dilakukan di Siring Taman Maskot Bekantan di Banjarmasin dan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala.

Perhelatan itu mendapat dukungan penuh Pemerintah Kota Banjarmasin dengan menggandeng Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) 2021 Go Global.

Kedatangan Nur Asia Uno ke Bekantan Resceu Center di Banjarmasin dan Riset Bekantan di Pulau Curiak di Barito Kuala secara khusus ingin melihat upaya pelestarian bekantan yang dilakukan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan bertemu dengan Amalia Rezeki sebagai pendiri SBI.

Dia memberi apresiasi yang tinggi kepada Amalia Rezeki atas dedikasinya menyelamatkan maskot fauna Kalimantan Selatan itu. 

Ia berharap upaya mulia ini bisa ditularkan kepada generasi muda agar lebih peduli terhadap lingkungan dan pelestarian alam.

Komitmen untuk mempertahankan terhadap pelestarian bekantan, ia menawarkan kepada pembina SBI dan berjanji untuk terus mendukung pelestarian yang populasinya di alam hampir punah dan masuk dalam daftar merah lembaga konservasi internasional (IUCN).


Baca di Antara News

Ekowisata bekantan dukung program pembangunan pariwisata berkelanjutan

Banjarmasin (ANTARA) - Istri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Nur Asia Uno mengatakan ekowisata bekantan di Kalimantan Selatan sangat mendukung program pemerintah di bidang pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Nur Asia Uno di Stasiun riset bekantan

"Kami salut dengan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang tidak saja peduli pada pelestarian bekantan, tetapi juga mengembangkan ekowisata bekantan yang sudah mendunia," kata dia di Banjarmasin, Jumat.

Istri Menparecraf Kunjungi Pulau Curiak


Nur Asia mengapresiasi kinerja tim SBI yang telah mampu mengelola dan mengembangkan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel, dan meningkatkan populasi bekantan di kawasan tersebut dengan terus berkembangnya kelahiran anak bekantan.

Kehadiran Nur Asia Uno ke Stasiun Riset Bekantan yang dikelola SBI bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) secara khusus untuk melihat perkembangan bekantan di Pulau Curiak.

Menariknya, istri dari Menparekraf Sandiaga Uno itu sempat menyematkan nama bagi seekor anak bekantan yang baru lahir. Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan sertifikat kelahiran bekantan tersebut olehnya.

"Bayi bekantan ini saya beri nama Amel Junior. Sebagai bentuk apresiasi kepada Amalia Rezeki terhadap dedikasinya melestarikan bekantan. Semoga bekantan Pulau Curiak tetap lestari dan semakin mendunia," ujar Nur Asia.

Sementara pendiri SBI Amalia Rezeki menuturkan sosok Nur Asia sangat peduli terhadap lingkungan dan pelestarian bekantan. Bahkan dia juga tercatat sebagai donatur pelestarian bekantan yang dikelola SBI.

Menurut Amalia, "Amel Junior" merupakan kelahiran kedua dari bekantan yang berada di kawasan Stasiun Riset Bekantan sepanjang tahun 2021. Bekantan di kawasan itu sekarang terbagi menjadi tiga kelompok dengan jumlah populasinya sekitar 29 ekor.

Bayi mungil bekantan wajahnya masih hitam kebiru-biruan terlihat berada dalam pelukan Mimin induknya dari kelompok Bravo.

Amalia mengakui awal pihaknya masuk dan mengelola kawasan itu tahun 2014 hanya terdapat 14 individu bekantan dan pada saat ini sudah terjadi penambahan populasi bekantan secara signifikan mencapai 100 persen.

Pertumbuhan populasi bekantan yang luar biasa tidak hanya menunjukkan SBI mampu mengelola kawasan Pulau Curiak yang kecil dan berada di luar kawasan konservasi, tapi juga mampu menumbuhkembangkan populasi bekantan di alam liar.

Baca di situs ANTARA.


Nur Asia Uno Dukung Pelestarian Bekantan Melalui Indonesia Modest Fashion Week

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN -Komitmen Nur Asia Uno, istri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), untuk pelestarian bekantan (Nasalis larvatus) tidak diragukan lagi.

Nur Asia Uno

Dirinya tercatat sebagai donatur, sekaligus penggagas perhelatan Indonesia Modest Fashion Week (IMFW) 2021 dengan tema Save Bekantan, yang akan dikampanyekan melalui ajang pergelaran mode di beberapa negara, seperti Amerika, Rusia dan Italia.

Untuk mengenal lebih jauh tentang bekantan dan upaya pelestariannya, Nur Asia Uno rela terbang ke Banjarmasin dan melihat langsung upaya pelestarian bekantan yang dilakukan oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan berjumpa dengan Amalia Rezeki, selaku founder SBI.

“Sengaja saya datang ke Banjarmasin untuk melihat langsung bekantan dan upaya pelestariannya yang dilakukan oleh Amalia Rezeki bersama tim-nya. Saya berkunjung ke Bekantan Rescue Center di Banjarmasin dan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak di Barito Kuala," jelas Mpok Nur, panggilan akrab istri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini, Sabtu (16/10/2021).

Lebih lanjut Mpok Nur, memberi apresiasi yang tinggi kepada Amalia Rezeki atas dedikasinya menyelamatkan bekantan.

Ia juga berharap, upaya mulia ini bisa ditularkan kepada generasi muda, agar generasi akan datang lebih peduli terhadap lingkungan dan pelestarian alam.

Wujud komitmennya terhadap pelestarian bekantan, Mpok Nur bersedia didaulat sebagai pembina SBI.

Dirinya berjanji akan terus mendukung upaya pelestarian Bekantan yang populasinya dialam hampir punah dan masuk dalam daftar merah lembaga konservasi internasional-IUCN.

Mpok Nur mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama melindungi bekantan yang saat ini populasinya di alam terancam punah.

“Kita sedang mengkampanyekan kepada masyarakat Indonesia, bekantan ini adalah binatang sangat langka dan hanya ada di Pulau Kalimantan. Kalau bukan kita yang menyelamatkannya, siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi. Bekantan ini adalah makhluk Allah SWT yang dianugerahkan kepada kita untuk dilindungi,” jelasnya.

Sementara itu, Jeny Tjahyawati Founder Indonesia Modest Fashion Week dan ketua umum Indonesia Modest Fashion Desainer IMFD mengungkapkan Indonesia Modest Fashion Week 2021 ingin membawa kolaborasi fashion dengan lingkungan alam, di Miami, USA.

Menurut Jeny, Mpok Nur adalah pembina dari IMFW, beliau sangat konsen dengan pelestarian alam dan lingkungan.

“Untuk itu kali ini temanya Save Bekantan. Jadi, kita membuat design baju ikon Bekantan untuk Save Bekantan," katanya.

IMFW yang digelar tahun ini, diikuti oleh 12 designer Indonesia baik dari Jakarta, Bandung, Surabaya, termasuk melibatkan designer lokal asal Kalsel.

Pengambilan gambar untuk fashion dilakukan di Siring Taman Bekantan di Banjarmasin dan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Barito Kuala.

Perhelatan ini mendapat dukungan penuh pemerintah kota Banjarmasin, dengan menggandengkan Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) 2021 go global.

Source : Banjarmasin Post


Minggu, 11 Juli 2021

Fakultas Kehutanan ULM tanam mangrove rambai untuk habitat bekantan

Banjarmasin (ANTARA) - Program Pascasarjana Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melakukan penanaman bibit mangrove rambai untuk habitat bekantan yang merupakan maskot fauna Lokasi penanaman kali ini pada areal konservasi di Pulau Curiak, pesisir Sungai Barito di Kabupaten Barito Kuala,"  kata Dr Abdi Fithria selaku ketua tim penanaman, Sabtu.

Tanam Rambai

Dijelaskan dia, kegiatan tersebut menyertakan para mahasiswa yang didampingi dosen pengampu mata kuliah Konservasi Flora-Fauna. Hal ini dimaksudkan agar program studi kehutanan dapat lebih mengambil andil dalam kegiatan pelestarian lingkungan flora dan fauna yang ada di Kalimantan Selatan. Selain itu juga memberikan pengalaman dan juga membuka hubungan kerja sama dengan organisasi

Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) ke depannya bisa saling bekerja sama dalam pelestarian wilayah konservasi bekantan yang merupakan hewan endemik pulau Kalimantan tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai.

Abdi menjelaskan lahan konservasi mangrove rambai menjadi salah satu makanan pokok bekantan. Disamping itu, mangrove rambai juga berfungsi mencegah erosi pada bantaran sungai dan membantu agar air laut yang pasang tidak masuk ke persawahan warga di dekat wilayah konservasi.

Diungkapkan dia pula, luas lahan untuk konservasi bekantan terutama sebagai wilayah ekosistem sangatlah kurang. Untuk itu, perlunya konservasi lahan mangrove untuk keberlangsungan kehidupan dari jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan itu.

Diakui Abdi, perhatian dari masyarakat umum untuk membantu lahan konservasi bekantan juga terbilang minim. Termasuk kurangnya minat kaula muda untuk membantu baik sebagai relawan ataupun juga anggota dari Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) untuk membangun wilayah konservasi tersebut.

Diketahui selama ini SBI harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan swasta untuk membeli lahan-lahan warga yang berada di bantaran Sungai Barito sekitar Pulau Curiak yang menjadi wilayah konservasi bekantan. Perusahaan membeli lahan untuk menyandarkan kapal-kapal pengangkut batubara.

Amalia Rezeki selaku founder SBI foundation mengatakan pihaknya melakukan penggalangan dana yang secara mandiri, urun dana hingga adanya bantuan dari berbagai pihak untuk bisa menebus lahan agar menambah luas areal konservasi bekantan.

"Selain bekantan, banyak hewan yang hampir punah juga hidup di kawasan Pulau Curiak. Di antaranya elang jawa, elang brontok, elang tikus dan berbagai jenis burung air serta reptil yang berada di lingkungan Sungai Barito," katanya.

Artikel  : Antaranews

Foto : Sahabat Bekantan Indonesia

Senin, 15 Februari 2021

Komisi III DPRD Kalteng kunjungi Stasiun Riset Satwa Pulau Curiak

KUNJUNGAN anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah dari komisi III di Stasiun Riset ini, merupakan bagian kegiatan kunjungan kerja mereka yang bertempat di gedung serba guna Kecamatan Anjir Muara.

kunjungan anggota DPRD Kalteng ke stasiun riset bekantan


Di Stasiun Riset pulau curiak ini anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, bisa mempelajari bagaimana melestarikan habitat satwa bekantan yang kini statusnya mulai langka, sebagaimana di tempat mereka juga terdapat satwa yang di lindungi salah satunya Urang Utan.

Mereka juga bisa mempelajari tentang bagaimana melestarikan alam, seperti dengan melestarikan mangrove rambai dan pepohonan lainnya untuk mahluk hidup yang ada disekitarnya.

Dalam kesempatan ini anggota komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Juga menyerahkan bibit pohon mangrove rambai yang merupakan pakan utama satwa bekantan pada Sahabat Bekantan Indonesia (SBI ) yang diterima oleh Camat Anjir Muara sebagai kenang-kenangan.

Demikian pula Camat Anjir Muara dan Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Kunjungi Stasiun Riset satwa salah satu habibtat satwa bekantan yang merupakan maskotnya Provinsi Kalimantan Selatan Di Pulau Curiak Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Batola. Selasa (15/12/20).

Kunjungan anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah dari komisi III di Stasiun Riset ini, merupakan bagian kegiatan kunjungan kerja mereka yang bertempat di gedung serba guna Kecamatan Anjir Muara.

Di Stasiun Riset pulau curiak ini anggota DPRD Provinsi Kalimantan tengah, bisa mempelajari bagaimana melestarikan habitat satwa bekantan yang kini statusnya mulai langka, sebagaimana di tempat mereka juga terdapat satwa yang di lindungi salah satunya urang Utan.

Mereka juga bisa mempelajari tentang bagaimana melestarikan alam, seperti dengan melestarikan mangrove rambai dan pepohonan lainnya untuk mahluk hidup yang ada disekitarnya.

Dalam kesempatan ini anggota komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, juga menyerahkan bibit pohon mangrove rambai yang merupakan pakan utama satwa bekantan pada Sahabat Bekantan Indonesia (SBI ) yang diterima oleh camat anjir muara sebagai kenang-kenangan.

Demikian pula camat anjir muara dan ketua sahabat bekantan indonesia, juga menyerahkan boneka satwa bekan dan buka tentang pengetahuan pelestarian satwa bekantan dan hutan mangrove.

Ketua komisi III DPRD Prov.Kalteng Duwel rawing mengatakan, kunjungan ini juga merupakan untuk melihat pulihnya sektor wisata di kalimantan selatan, salah satunya objeknya pelestarian satwa yang dilindungi yaitu satwa bekantan. Dan di daerah juga ada satwa yang dilindungi yaitu Urang Utan.

Selanjut pihaknya akan memberi masukan pada pemerintah provinsi kalteng, yaitu tentang pengeloan tempat wisata yaitu objek wisata alam yang lebih maju selangkah dari tempat mereka, tambahnya.

Ketua sahabat bekantan indonesia, Amalia Rezeki mengungkapkan, adanya kunjungan komisi III Provinsi Kalimantan Tengah, merupakan silaturahmi yang bagus untuk mengembangkan parawisata yang bagus salah satunya tentang hewan primata. Dimana wilayah mereka mengembangkan orang hutan dan di kalsel bekantan, jadi sama-sama belajar untuk dunia wisata,Ungkapnya.ketua sahabat bekantan Indonesia, juga menyerahkan boneka satwa bekan dan buka tentang pengetahuan pelestarian satwa bekantan dan hutan mangrove.

Ketua komisi III DPRD Prov.Kalteng Duwel rawing mengatakan, kunjungan ini juga merupakan untuk melihat pulihnya sektor wisata di kalimantan selatan, salah satunya objeknya pelestarian satwa yang dilindungi yaitu satwa bekantan. Dan di daerah juga ada satwa yang dilindungi yaitu Urang Utan.

Selanjut pihaknya akan memberi masukan pada pemerintah Provinsi Kalteng, yaitu tentang pengeloan tempat wisata yaitu objek wisata alam yang lebih maju selangkah dari tempat mereka, tambahnya.

Ketua sahabat bekantan indonesia, Amalia Rezeki mengungkapkan, adanya kunjungan komisi III Provinsi Kalimantan Tengah, merupakan silaturahmi yang bagus untuk mengembangkan parawisata yang bagus salah satunya tentang hewan primata. Dimana wilayah mereka mengembangkan orang hutan dan di kalsel bekantan, jadi sama-sama belajar untuk dunia wisata, ungkapnya.***

artikel dari : Suara Banua 


Sabtu, 18 April 2020

SBI berjuang selamatkan bekantan dari COVID-19

Banjarmasin (ANTARA) - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) tengah mengalami permasalahan pengelolaan rescue center, beberapa satwa yang masih dirawat sebelum dilepasliarkan ke alam, khususnya dalam hal perawatan bekantan dan satwa liar lainnya yang dilindungi, sebagai akibat merebaknya wabah virus Corona.
Amalia Rezeki

"Sejak merebaknya pandemi COVID-19 dan kebijakan pemerintah terkait social distancing, membuat ruang gerak kita terbatas," kata Ketua Sahabat Bekantan Indonesia Amalia Rezeki, Jumat.

Suplai pakan bekantan di pasaran mulai berkurang dan Alat Pelindung Diri (APD) bagi crew SBI yang merawat bekantan pun turut menghilang di pasaran akibat aksi borong yang berlebihan, sehingga terpaksa menggunakan APD seadanya.

"Kami juga sadar bahwa permasalahan ini hampir sama dirasakan oleh lembaga lain yang bergerak di bidang konservasi, tidak saja di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia," ucapnya.

Kondisi ini ditambah dengan menurunnya pemasukan untuk membiayai operasional kegiatan penyelamatan bekantan. Selama ini biaya operasional SBI didanai oleh kegiatan wisata minat khusus ke Stasiun Riset Bekantan di kawasan Pulau Curiak dan relawan berbayar, serta donasi tidak mengikat dari berbagai pihak.

Banyak agenda kegiatan yang sudah terjadwal setahun lalu untuk kegiatan tahun 2020 tertunda, bahkan dibatalkan akibat adanya pandemi ini, seperti Summer Course, Internship dan volunteer berbayar dari Australia, Finlandia, Singapura, dan negara Eropa lainnya terpaksa harus dijadwal ulang dan kemungkinan besar dibatalkan. Belum lagi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang akan mengikuti kegiatan yang sama.

"Kami berharap kondisi ini cepat berlalu dan kita semua terhindar dari mara bahaya pandemi. Langkah selanjutnya, kami akan koordinasikan dengan pihak terkait, khususnya BKSDA Kalsel dalam rangka mencari solusi terbaik bagi upaya penyelamatan bekantan yang saat ini berada di tempat rehabilitasi sementara," kata peraih penghargaan Internasional ASEAN Youth Eco Champion - 2019.

Ia berharap ditemukan solusi yang baik dan bijak agar upaya penyelamatan bekantan bisa berjalan terus, mengingat sudah banyak pencapaian yang luar biasa dan mendapat apresiasi secara internasional.

Lebih lanjut, Amel sebutan akrab dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengatakan bahwa keberadaan Pusat Transit Penyelamatan Bekantan ini sudah cukup dikenal di kalangan dunia konservasi di mancanegara.

Tidak sedikit teman-teman dari lembaga pegiat konservasi di dunia yang telah berkunjung dan saling bertukar pengalaman, walaupun fasilitas yang ada di Tanah Air sangat terbatas, tapi di situlah mereka mengagumi dedikasi dan perjuangan dari SBI.

Menyikapi permasalahan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel menggelar rapat bersama Sahabat SBI via aplikasi zoom terkait dampak wabah virus Corona terhadap kegiatan rehabilitasi bekantan di kandang rehabilitasi SBI.

Sementara itu, Zulfa Asma Vikra, Ketua Forum Konservasi Flora & Fauna Kalsel sependapat dengan arahan Kepala Balai KSDA, Mahrus Aryadi untuk segera melepasliarkan bekantan yang dinyatakan siap rilis.

"Saya sependapat dan mendukung kebijakan dari Kepala BKSDA Kalsel dan pengelola SBI, untuk segera melepasliarkan bekantan yang sudah siap untuk dikembalikan ke alam. Upaya ini penting untuk menyelamatkan satwa maskot kita sekaligus melindungi risiko keeper yang kekurangan APD akibat pandemi corona “, ujar Zulfa Asma Vikra yang juga anggota DPRD Provinsi Kalsel.

Sementara itu, Yayasan SBI yang berpusat di Banjarmasin, Kalsel merupakan mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) di bidang pelestarian dan penyelamatan Bekantan (Nasalis larvatus) monyet besar berhidung mancung yang juga merupakan maskot Provinsi Kalimantan Selatan dan primata endemik Kalimantan.

SBI adalah satu-satunya lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian dan penyelamatan bekantan. Sejak 2015, sekitar 40 kali melakukan penyelamatan bekantan bersama BKSDA Kalsel dan sebagian besar sudah dilepasliarkan kembali ke alam, setelah melalui perawatan di pusat rehabilitasi sementara dan sisanya masih dalam perawatan.


Editor: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2020


BKSDA Kalsel Lepasliarkan Maskot Kalimantan Selatan Bersama Sahabat Bekantan Indonesia

Banjarbaru, 14 April 2020 – Pagi hari, proses lepasliar empat individu bekantan di Suaka Margasatwa Pulau Kaget berhasil dilaksanakan. SM Pulau Kaget merupakan salah satu kawasan konservasi bertipe ekosistem mangrove yang menjadi site monitoring bekantan dari empat kawasan konservasi di Kalsel sejak Tahun 2015. Kegiatan realese berjalan dengan baik hasil kerjasama tim Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) dengan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI). Turut serta pula Bapak Zulfa Asma Zikra Anggota DPRD Kalsel yang peduli terhadap lingkungan hidup dan Polairud Banjarmasin mendampingi dalam pelepasliaran.
Amalia rezeki

Keempat bekantan tersebut merupakan satwa yang diselamatkan dari luar kawasan konservasi akibat konflik satwa maupun dampak kebakaran hutan dan lahan. Sebelum dilakukan lepasliar, satwa yang diberi nama Marry (2 th), Dara (5 th), Julia (10 th), dan Wandi (7 th) tersebut telah melalui proses penyelamatan (rescue), perawatan di SBI, pemeriksaan kesehatan, serta telah dinyatakan tidak mempunyai gejala penyakit tertentu dan masih memiliki perilaku liar (aktif, lincah, agresif).

“SM Pulau Kaget yang masih memiliki ketersediaan pakan cukup memadai dan kepadatan bekantan yang masih cukup rendah merupakan alasan kami memilih lokasi ini” ujar Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M,Sc. Kepala Balai KSDA Kalsel. “Upaya ini juga sebagai tindak lanjut atas dampak covid-19 terhadap rehabilitasi bekantan di kandang rehabilitasi SBI terkait persediaan pakan dan obat-obatan yang semakin susah”, tambah Mahrus.

Julia dan Wandi merupakan korban konflik dengan warga karena dianggap hama dan merusak tanaman perkebunan mereka. Sementara Dara merupakan korban kecelakaan akibat kebakaran lahan, dan Marry merupakan bekantan yang diselamatkan warga akibat hanyut di sungai dengan kondisi yang cukup lemah. “Kami telah merehabilitasi 4 ekor bekantan tersebut kurang lebih 4-5 tahun, mulai dari kondisi yang cukup parah hingga saat ini sehat pulih kembali untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya, tentu sesuai pertimbangan medis dan juga sesuai arahan BKSDA Kalsel. Di tengah keterbatasan pandemi corona ini, kita berharap semangat konservasi terus terbangun untuk menyelamatkan maskot kebanggaan banua. Semoga setiap tahun juga semakin berkurang kasus konflik antara bekantan dan manusia akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan, ataupun perburuan liar.” Jelas Amalia Rezeki, Ketua Sahabat Bekantan Indonesia.

Mahrus kembali menyampaikan bahwa edukasi memang masih perlu terus dilakukan khususnya terhadap warga yang hidup berdampingan dengan habitat bekantan untuk tidak menganggap mereka hama dan tidak semakin mempersempit ruang gerak mereka. “Alih fungsi hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi bekantan di Wilayah Kalimantan Selatan. Hilangnya hutan membuat tidak ada lagi cukup ruang bagi bekantan untuk bertahan hidup”, jelasnya. Semoga dengan sinergi multi pihak, kejadian konflik bekantan dengan manusia, maupun kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir dan kelestarian bekantan di Kalimantan Selatan terus terjaga. (ryn).

Jumat, 05 Juli 2019

Proboscis Monkey Conservation Seminar

Proboscis Monkey Conservation
Amalia Rezeki Biologist Conservation

Proboscis Monkey Conservation Seminar, Wednesday 19Th, June. 4.30PM - 7 PM University Of Newcastle - Australia.

Rabu, 09 Januari 2019

Relawan Italia Bantu Bangun Titian Rumah Mangrove

Bekantan.org - Alhamdulillah kemarin (9 januari 2019), pembangunan jembatan titian rumah mangrove rambai di Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak Barito Kuala akhirnya rampung. Selesainya pembangunan titian ini tentunya tidak lepas dari bantuan banyak pihak baik materi maupun tenaga. Menariknya, salah satu bantuan tersebut berasal dari relawan dari Benua Eropa, yakni Italia. 

Memasang Titian

aktivitas SBI
Dua Relawan Italia Membantu Pemasangan Titian Rumah Mangrove
Bersama SBI, dan Warga Lokal
 Selama dua hari relawan Italia bersama warga lokal dan crew SBI bahu-membahu mengerjakan  pembangunan titian. Antusias dan semangat relawan ini patut diacungi jempol, mereka begitu bersemangat dan tetap bekerja bahkan tidak memperdulikan hujan lebat yang mengguyur kawasan ini. 

jembatan mangrovetitian mangrove

Dua orang dari Italia ini bukan satu-satunya relawan yang turut andil dalam upaya konservasi Bekantan, ada banyak relawan dari berbagai negara yang sudah pernah mengikuti kegiatan bersama Sahabat Bekantan Indonesia di antaranya Canada, Brazil, Australia, Jepang, Amerika, Jerman, Swedia dan negara-negara lainnya. Tidak hanya akan memberikan pengalaman seru dan unik, kegiatan ini tentunya sangat positif terutama untuk pelestarian Bekantan.  Kapan giliran anda?

Rabu, 07 Maret 2018

Kunjungan dan monitoring Kepala BKSDA Kalsel Ke Pusat Rehabilitasi Bekantan

Kunjungan Kepala BKSDA Kalsel dalam rangka monitoring dan silaturahmi dengan jajaran pengurus di basecamp Sahabat Bekantan Indonesia.




Sabtu, 24 Desember 2016

20 Times Evacuated Bekantan

Banjarmasin, South Kalimantan (Antaranews Kalimantan) - Environmentalist organization Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) had about 20 times evacuated proboscis during 2015 and up to April 2016.
"Some 12 bekantan (proboscis) have been released, seven are being treated, but the other three could not be saved due to serious burns," said SBI Chairman Amalia Rezeki in Banjarmasin on Wednesday.
She said the seven proboscis monkeys still in treatment, including two proboscis newly taken from the village of Sungai Kali, Barito Kuala (Batola), after previously rescued by SBI and South Kalimantan Natural Resources Conservation Agency (BKSDA).

SBI hopes a mother and a baby proboscis in treatment to be immediately released considering bekantan better adapt and undergo stress recovery process in nature, because medically no serious injuries found.

As is known, proboscis monkeys are protected animals under the Wild Animals Protection Ordinance 1931 No. 134 and No. 266 in conjunction with Law No. 5 of 1990.

Based on international conservation organizations, proboscis are included in the IUCN red list. Proboscis categorized under threat, because these wildlife populations are on the verge of extinction.
They sustainability increasingly threatened by the increasing proliferation of land use changes and habitat made narrower.

The condition is exacerbated by poaching and illegal wildlife trade. That led to the long-nosed monkey population dwindling, added Amalia who also known as a young lecturer at the University of Lambung Mangkurat.

According to Amalia based on study in 1987, the population of proboscis in Kalimantan island reached 250,000 and 25,000 of which were in protected areas (MacKinnon, 1978).

The population was then dropped sharply in 1995 to about 114,000 head and left only 7,500 in the conservation area (Bismark, 1995). This means that within the last ten years the population of proboscis monkeys in Kalimantan was reduced by about 50 percent.

Meanwhile, in South Kalimantan a research conducted by BKSDA in 2013 found bekantan amounted to only about 3,600 to five thousand.

With the rise of land use, trade in wildlife and forest fires, their population is expected declines very drastic.

Pewarta: Hasan Zainuddin
edited by mahdani

Sabtu, 20 Agustus 2016

SBI Peringati Hari Konservasi Tahun 2016

Bekantan.org - Dalam Rangka memperingati Hari Konservasi, 10 Agustus 2016 - Pk. 10.00 - 16.00 Wita. Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia, menyelengarakan kegiatan Dialog Interaktif " Konservasi Bekantan " bersama Kompas TV di ruang terbuka Pusat Penyelamatan Bekantan. Pembicara dr Kementerian L&H - BKSDA Kalsel, SBI & Pemerhati Konservasi dari Kanada serta Australia.
Dialog interaktif Konservasi Bekantan
Penanaman Pohon Rambai


Pelepasliaran Satwa dilindungi
Selain kegiatan dialog interaktif, peringatan hari konservasi ini juga di isi dengan beberapa kegiatan lainnya seperti pemaparan hasil penelitian Bekantan di Pulau Bakut dan Pulau Curiak, Penanaman Pohon Rambai serta Pelepasliaran satwa dilindungi.

Kamis, 02 Juni 2016

Stop Perdagangan Satwa Liar

Sahabat Bekantan Indonesia - Masih maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar khususnya Bekantan membuat Amalia Rezeki Ketua Sahabat Bekantan Indonesia semakin gencar melakukan sosialisasi. Termasuk saat menjadi pembicara pada Seminar Hari Lingkungan Hidup Dunia 2016 di Aula Sasangga Banua Pemprov. Kalsel, Kamis (2/6/2016) kemarin. 

Dalam paparannya Amalia menegaskan, bahwa bekantan adalah satwa langka dan dilindungi undang-undang. Acaman hukumannya tidak main-main bagi yang memburu dan memperjual belikannya adalah kurungan penjara dan denda seratus juta rupiah. 

Amalia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak memburu satwa endemik maskot Provinsi Kalimantan Selatan ini hanya karena masih percaya mitos misalnya dagingnya dikonsumsi untuk obat kuat lelaki. Hal tersebut menurutnya sangat memprihatinkan oleh karenanya Ia mengajak peserta seminar yang berasal dari berbagai daerah di Kalsel untuk turut menjadi relawan dalam mensosialisasikan perlindungan terhadap Bekantan dari perusakan habitat, perburuan dan perdagangan.


Selain Amalia dari Sahabat Bekantan Indonesia, dan Syahbuddin dari STKIP PGRI seminar Lingkungan Hidup 2016 yang bertemakan "Stop Perdagangan Satwa Liar, Selamatkan Keanekargaman Hayati Indonesia" juga menghadirkan pembicara tamu dari luar negeri yakni Alastair Galpin dari University of Auckland. 

Dalam kesempatan tersebut, Mr Al (sapaan Alastair Galpin), mengingatkan masyarakat Indonesia untuk tidak serakah terhadap alam. Banyak perbuatan manusia yang saat ini tidak ramah dengan lingkungan misalnya masih maraknya penggunaan kantong plastik, eksploitasi yang berlebihan dan alih fungsi habitat. Al juga mengingatkan agar manusia hanya mengambil seperlunya saja dari alam. " Take What Only You Need From Nature" tegasnya. 

Jumat, 01 April 2016

Evakuasi Bekantan Hanyut Di Sungai Barito (1 April 2016)

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Tim Rescue dari Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang langsung dipimpin ketuanya Amalia Rezeki bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) kembali berhasil menyelamatkan bekantan yang hanyut di Sungai Barito dekat kota Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Bekantan Yang Berhasil Di evakuasi oleh Tim Rescue SBI
 Salah satu anggota Tim Rescue SBI, Feri Hosien melalui telepon seluler di Banjarmasin, Jumat, mengatakan kronologis penyelamatan tersebut ketika pihaknya mendapat kabar dari Ahmad Sakidin, anggota Polisi Kehutanan (Polhut) Dinas Lingkungan Hidup & Kehutanan Batola tentang keberadaan bekantan yang hanyut disungai Barito.

Tim Rescue yang dipimpin langsung Ketua SBI Amalia Rezeki setelah berkordinasi dengan BKSDA Kalsel, meluncur ketempat kejadian tepat pukul 19.34 Wita tim tiba di kota Marabahan, Kamis (30/3) untuk melakukan evakuasi bekantan tersebut.
Bekantan jantan dewasa yang diberi nama Untung ini, telah berhasil diamankan warga, yang diduga setelah hanyut dan terbawa tongkang batu bara tersebut, kemudian diserahkan kepada SBI, kemudian diambil tindakan medis dengan menyuntikan penenang serta anti biotik, agar tidak mengalami trauma berat pasca diselamatkan ditengah sungai barito yang cukup luas," kata Amalia.
Menurutnya Sesuai arahan Ir. L Andy Widyarto, MP Kepala BKSDA Kalsel, nantinya bekantan ini jika dinyatakan sudah sehat, maka akan dilepas liarkan kembali kehabitatnya.
"Saat ini bekantan tersebut sudah diamankan oleh Tim SBI dan sedang dicek kesehatannya, baik fisik maupun traumatiknya pasca dilakukan penanganan dilapangan ketika dievakuasi. Dan jika dinyatakan sehat, maka bekantan tersebut, kami minta bersama tim dari BKSDA Kalsel segera dilakukan pelepas liaran kembali kehabitatnya," jelas L Andy Widyarto.
Amalia menjelaskan, seringnya bekantan melakukan migrasi dikarenakan habitatnya terganggu bahkan telah rusak, akibat kebakaran hutan dan alih fungsi lahan. Sepanjang tahun 2015 aja dan sampai sekarang, sudah sekitar 19 kali Tim Rescue dari SBI melakukan evakuasi bekantan dan yang telah dilepas liarkan 10 ekor, yang sedang dirawat 6 ekor serta 3 ekor tidak dapat tertolong dikarenakan luka bakar yang cukup parah.
"Kejadian serupa akan selalu terulang menimpa nasib bekantan di Kalsel, jika tidak diambil tindakan serius dalam melindungi maskot kebanggaan Banua ini. Apalagi tahun 2016 ini kemarau panjang akan terjadi diawal bulan Mei dan tidak menutup kemungkinan kebakaran hutan akan terjadi kembali," tambah Amalia Rezeki yang juga dosen program studi pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat ini.
Ditambahkannya tahun lalu saja diperkirakan ratusan ekor bekantan serta satwa liar lainnya mati terpanggang akibat kebakaran hutan, sisanya eksodus kearea pemukiman dan perladangan warga, yang kemudian rawan terjadi konflik dengan manusia, serta bisa saja makan korban baik dipihak bekantan, maupun manusia,
Luasan hutan yang menjadi habitat bekantan di Kalimantan pada awalnya diperkirakan 29.500 km2, dari luas tersebut, 40 persen diantaranya sudah berubah fungsi dan hanya 41 persen yang tersisa dikawasan konservasi. Kondisi ini diikuti oleh penuruanan populasi bekantan diperkirakan lebih dari 250.000 ekor dan 25.000 ekor diantaranya berada dikawasan konservasi.
Bahkan pada tahun 1994 terjadi penurunan populasi bekantan yang sangat drastis menjadi hanya sekitar 114.000 ekor. Di kalimantan Selatan sendiri diperkirakan sisa sekitar 4.500 - 5000 ekor.
Bekantan yang dikenal dengan istilah ilmiahnya Nasalis larvatus, merupakan primata endemik Kalimantan dan termasuk dalam subfamili Colobinae.Bekantan dilindungi keberdaannya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999, dan secara Internasional termasuk dalam Appendix I CITES.
Dan termasuk dalam katagori terancam punah Endagered Spesies oleh Lembaga International IUCN ( International Union for the Concervation of Nature and Natural Resources) sejak tahun 2000./F

Sumber : http://www.antarakalsel.com/berita/35094/sbi-selamatkan-bekantan-hanyut-di-sungai-barito

Selasa, 29 Maret 2016

Pelepasliaran Bekantan ke -10 "David"

Bekantan.org - David the Proboscis monkey was rescued from the river in Banjarmasin town 3 months ago by Sahabat Bekantan Indonesia. He was very weak from starvation and almost drowned through exhaustion. The foundation looked after him at their rehabilitation centre until he was strong enough to be released back into the wild. The local community came together on 27th March to celebrate this event and the great work that the organisation are doing. People from around the world including Holland and England are supporting the foundation through volunteering, raising awareness and giving donations. The organisation are not just saving animals but working hard to educate the people about environmental issues that can put the countries endangered wildlife at risk. - SAVE THE PROBOSCIS MONKEY -   
(Marie Tannetta from England)










Pelepasliaran David di Pulau Bakut
Bertepatan Peringatan Hari Bekantan Minggu 27 Maret 2016


Minggu, 27 Maret 2016

Peringatan Hari Bekantan 27 Maret 2016

Bekantan.org - Dalam rangka menyambut Hari Bekantan 2016, Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) menggelar acara seremonial yang dipusatkan di Siring Menara Pandang, Minggu 27 Maret 2016. Syukuran Hari Bekantan ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Pangeran H (Gt.) Rusdy Effendy AR, selaku pembina SBI didampingi ketua DPRD ibu Hj.Noormiliyani AS.,SH.,  Walikota Bpk Ibnu Sina,S.Pi.,M.Si, dan Kepala BKSDA Kalsel Ir Lukito Andy Widyarto.
Acara Pemotongan Tumpeng
Pada kesempatan yang sama, SBI juga memberikan penghargaan antara lain kepada Emergency Landasan Ulin, Bank Kalsel, dan Tim Pimnas Unlam Duta Cilik Sayang Bekantan sebagai bentuk apresiasi terhadap kepeduliannya dalam pelestarian Bekantan.


Pelepasliaran Bekantan di Pulau Bakut menjadi penutup  rangkaian kegiatan seremonial Hari Bekantan 2016 ini. 

Selasa, 29 Desember 2015

Evakuasi Bekantan Yang Hanyut di Sungai Barito Marabahan

Marabahan - Tim Rescue dari Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) kembali melakukan upaya penyelamatan bekantan yang hanyut di Sungai Barito. Kali ini upaya evakuasi dilakukan terhadap seekor Bekantan berjenis kelamin jantan di desa Basahap, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala - Kalimantan Selatan sekitar pukul 07.00 Wita, Jumat (25/12/2015).
Tim Rescue SBI menerima Bekantan yang diserahkan warga untuk di evakuasi

Menurut penuturan warga, Bekantan tersebut diselamatkan mereka saat hanyut diantara tumpukan eceng gondok. Kemudian mereka lantas menghubungi dan meminta Sahabat Bekantan Indonesia untuk mengevakuasinya.

Mendapati informasi tersebut tim rescue SBI yang dipimpin langsung oleh ketua SBI Amalia Rezeki langsung meluncur ke tempat kejadian. Meski evakuasi berjalan lancar, tindakan medis berupa penyuntikan bius dilakukan untuk menghindari trauma berat.

Bekantan jantan yang diperkirakan berusia 7 tahun ini diberi nama David, adalah merupakan bekantan yang kesepuluh yang berhasil dievakuasi oleh tim rescue SBI sepanjang 2015 ini.

Sumber : Banjarmasinpost.co.id 
editor : mj