River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Jumat, 16 November 2018

SBI Perbaiki Habitat Bekantan Pulau Curiak




"melestarikan pohon rambai dan menanamnya kembali, akan meyelamatkan kehidupan nelayan yang mencari ikan serta pertanian warga sekitarnya. Rusaknya hutan rambai akan berakibat hilangnya ikan serta terganggunya sistem pertanian pasang surut "
Kotabaru, (Antaranews Kalsel) - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Banjarmasin, melakukan perbaikan habitat bekantan di Pulau Curiak Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

"Upaya yang kami lakukan adalah dengan mengadakan pembebasan lahan, melakukan perbaikan habitat bekantan melalui program restorasi mangrove rambai dan menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan stasiun riset bekantan," kata Ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia, Amalia Rezeki, Senin.

Dikatakan, sejak 2014 SBI sudah mengadakan riset terhadap populasi bekantan, dan ragam tegakan di Pulau Curiak, untuk mengetahui daya dukung kawasan tersebut.

Seperti diketahui dari tahun ke tahun populasi bekantan di Kalimatan Selatan selalu mengalami penurunan sangat drastis, terutama yang berada diluar kawasan konservasi.

"Menyadari akan keterancaman populasi bekantan di luar kawasan konservasi, kami berusaha menyelamatkan habitat bekantan dengan melakukan program restorasi mangrove rambai," ujar Amalia yang juga dosen Biologi di Universitas Lambung Mangkurat.

Melalui kegiatan penanaman pohon rambai untuk perbaikan habitat bekantan dan ekosistem lahan basah, serta sebagai pilot projectnya di sekitar kawasan pulau Curiak, Barito Kuala yang juga dijadikan stasiun riset bekantan.

Mengapa pohon rambai.? Karena pohon rambai ini sangat penting bagi keberadaan bekantan, tegakannya merupakan habitat bekantan, sedangkan pucuk daunnya adalah sumber pakan utama bekantan.

Melestarikan hutan rambai berarti melestarikan bekantan serta kehidupan liar lainnya, termasuk melestarikan ekosistem sungai yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Disisi lain, menurut Amalia Rezeki, melestarikan pohon rambai dan menanamnya kembali, akan meyelamatkan kehidupan nelayan yang mencari ikan serta pertanian warga sekitarnya. Rusaknya hutan rambai akan berakibat hilangnya ikan serta terganggunya sistem pertanian pasang surut.

"Bagi kami, meyakini menanam pohon sama dengan menghidupkan bumi dan memberi kehidupan bagi penghuninya. Kami menjadikan menanam pohon bukan hanya semata terkait dengan wilayah duniawi, melainkan juga erat kaitannya dengan wilayah keimanan dan ibadah," tamah Amalia.

Dengan menanam pohon bukan hanya menjadikan bumi yang dipijak ini menjadi hidup, namun juga sebagai bentuk ketaatan dan ketundukan kami kepada Allah SWT".

Sementara itu, berdasarkan Redlist IUCN (the International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), bekantan termasuk dalam kategori Genting (Endangered).

Bekantan juga termasuk primata yang terdaftar di dalam Appendix I dari CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti tidak boleh diperdagangkan.

Upaya penyelamatan bekantan semestinya, upaya penyelamatan habitatnya, karena ancaman terbesar terhadap berkurangnya populasi bekantan adalah hilangnya habitat mereka, terutama oleh alih fungsi lahan.

Dalam konteks kebijakan, terutama Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, dan aturan ikutan lainnya, maka kebijakan yang kita miliki hanya berfokus pada pelarangan kegiatan penangkapan, pemeliharaan, pembunuhan dan perdagangan bekantan. Inipun belum dilaksanakan dengan semestinya.

Namun seperti kita ketahui, kebijakan tersebut ternyata belum menyentuh pada pelarangan kegiatan perusakan habitat bekantan, yang justru menjadi ancaman terbesar mereka. Tidak semua bekantan hidup di kawasan dilindungi, sebagian besar justru berada diluar kawasan konservasi.

Sangat ironis. Ini berarti bekantan dilindungi, tapi sebenarnya juga tidak terlindungi.


Editor: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kamis, 08 November 2018

35 Times Evacuated Bekantan



Bekantan Research Station



Bekantan Research Station; Bekantan Research Station is located on Curiak Island - Anjir Muara - Barito Kuala, South Kalimantan. The idea was established on April 22, 2015 by Ferry F. Hoesain and Amalia Rezeki from the Indonesian Center for Biodiversity Studies and Conservation - Lambung Mangkurat University, who is also the founder of Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) - Banjarmasin. 

Then on December 22, 2017 began to be realized physically by conducting land acquisition for the construction of its research station facilities. This development is funded by Sahabat Bekantan Indonesia Foundation and non-binding donors. At the beginning of its establishment, the station was intended as a rehabilitation location for bekantan and research centers. since then Curiak Island has been used as a center for bekantan research and wetland ecosystems. While the bekantan rehabilitation place is in Banjarmasin. 

Bekantan Research Station was inaugurated by Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., ULM Chancellor was accompanied by Professor Professor Roberts Timothy Kilgour, Professor Matthew Warrington and Professor Michael Joseph of New Castle University Australia. For the first time it was marked by Summer Course activities with ULM students and New Castle students - Australia.
 Now, the Bekantan Research Station is a special natural laboratory. Become a special attraction for domestic and foreign researchers, especially bekantan and their wetland ecosystems.


Mangrove Arboretum



Mangrove arboretum is a mangrove pilot forest which contains various kinds of mangrove species which are useful as a place of education and introduction of mangrove species to students, researchers and the community. The mangrove arboretum of Curiak Island is located in Anjir Muara, Barito Kuala regency.
The forerunner of the mangrove arboretum This is a less productive tidal rice field behind the Bekantan Research Station. Formerly this area was a mangrove forest, bekantantan habitat and other wildlife typical of wetlands

Since the end of 2017, SBI has tried to build it slowly and surely. With its mangrove production, breeding, planting, refining, maintenance and data collection programs, it was finally the beginning of September 2018, the land that was previously abandoned and considered unproductive, became a place for mangrove education and research for students from within and outside the country.
Despite being far from perfect, the arboretum, which has an area of approximately one hectare, contains no fewer than dozens of plants that grow well. This Arboretum is also equipped with track paths for pedestrians to observe mangrove ecosystems and the nameplate of mangrove species from ironwood boards.
The arboretum area is also used as a conservation school by SBI. Throughout the year, every four months, conservation schools are held, not only students from within the country, but also students from various countries. They are taught about conservation, especially wild life in wetland ecosystems.

Summer Course Planting Mangrove


 Summer Course Program Planting Mangrove
(University Of Newcastle - Australia)



A LOT of 20 students and three professors from the University of Newcastle, Australia, took part in the action of planting mangrove trees on Curiak Island, in the middle of the Barito River, Barito Kuala Regency, South Kalimantan.


The mangrove planted is rambai (Sonneratia caseolaris) which is a source of food for long nose monkey proboscis monkey (Nasalis larvatus). The mangrove tree planting action was carried out with the University of Lambung Mangkurat (ULM) and Sahabat Bekantan Indonesia Foundation (SBI). 


The presence of students from Australia is part of the New Colombo Plan; Biodiversity Proboscis Monkey and Orang Utan Program in Borneo. They conducted research related to the behavior and habitat of bekantan in South Kalimantan. Chairman of the SBI foundation, Amalia Rezeki, said that this activity was an opportunity for South Kalimantan to further socialize the importance of preserving the native habitat of the endemic Borneo primates. "We together plant the Rambai tree, which is a Bekantan habitat to live and breed," said Amalia, Friday (6/7). Prof. Michael from the University of Newcastle Australia, said it had come to Kalimantan to see the habitat of the original bekantan. "Mangrove forests are the original habitat of Bekantan. We together build native habitats for bekantan," he said. University of Newcastle Australia student Tiara said, the mangrove forests that grow in the area of Curiak Island must be preserved, so that proboscis monkeys can breed well. (Media Indonesia.


Kamis, 08 Maret 2018

Penyelamatan dan Konservasi Bekantan di Kalimantan Selatan

SAHABAT BEKANTAN INDONESIA ( PENYELAMATAN & KONSERVASI BEKANTAN DI KALIMANTAN SELATAN )

" Ada dua hal yang perlu diwariskan kepada anak cucu kita ; Ilmu pengetahuan dan kelestarian alam. Kita semua harus bergerak menyelamatkan tumbuhan dan satwa liar ". (Joko Widodo - Presiden RI)

Bekantan adalah primata endemik Pulau Kalimantan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah RI, Nomor 7 tahun 1999, dan masuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional - International Union for Conservation of Nature and Natural Resources ( IUCN ) dan Appendix I CITES ( Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora ). Disamping itu bekantan merupakan fauna identitas " Maskot " kebanggan Provinsi Kalimantan Selatan. 
Alih fungsi lahan, kebakaran hutan, perburuan serta perdagangan liar telah membuat bekantan diambang kepunahan, bahkan pada sebagian kawasan telah terjadi kepunahan lokal. Setiap satu dekade terjadi penurunan hingga 50% dari jumlah populasinya.

Dalam rangka mendukung dan membantu program pemerintah dibidang pelestarian bekantan, serta pengembangan pariwisata, khususnya ekowisata di Kalimantan Selatan 
Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia ( SBI ) sebuah lembaga non profit yang didirikan oleh Amalia Rezeki seorang biologist conservation yang juga dosen Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin - Indonesia, bersama rekan-rekannya yang bermitra dengan Universitas Lambungmangkurat dalam bidang Penelitian, Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat serta dibawah binaan Kementerian Negara Lingkungan Hidup Dan Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA ) Kalimantan Selatan, membangun Pusat Penyelamatan Bekantan, yang bergerak dibidang ;1. Sosialisasi & Edukasi Pelestarian Bekantan, 2. Rescue & Evakuasi Bekantan, 3. Rehabilitasi Bekantan, 4. Perbaikan Habitat Bekantan, dan 5. Program pelepasliaran bekantan ke habitatnya. 6. Laboratorium Riset Bekantan yang pertama di Indonesia, bahkan didunia.

Yang kemudian dalam rangka mendukung program pemerintah dibidang pariwisata serta meningkatkan Perekonomian Masyarakat, PAD serta Devisa Negara, SBI bersama BKSDA Kalsel mengembangkan kegiatan dibidang Ekowisata Konservasi Bekantan di Kalimantan Selatan, dan telah dilaunching oleh Walikota Banjarmasin, yang dihadiri oleh Perwakilan Pemerintah Provinsi Kalsel, Ketua DPRD Kalsel, BKSDA Kalsel, Rektor ULM serta tokoh masyarakat dan undangan lainnya, pada tanggal 27 Maret 2016. Dengan didukung oleh jaringan relawan serta ekspert konservasi dari luar negeri. Akhirnya gaung tentang keberadaan Pulau Bakut sebagai kawasan ekowisata konservasi bekantan mulai mendunia. Untuk itu kemudian SBI membangun kemitraan dengan berbagai pihak, dalam turut mendukung pengembangan kawasan tersebut. Namun demikian harapan SBI, perlu adanya dukungan semua stake holder yang ada terutama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, untuk turut bersama-sama dalam mengembangkan kawasan Pulau Bakut sebagai kawasan perlindungan dan pelestarian bekantan maskot kebanggaan provinsi Kalimantan Selatan tersebut, serta pengembangan potensi ekowisatanya yang mulai diminati wisatawan dunia. Saat ini SBI telah membangun jaringan diempat negara, seperti Prancis, Jerman, Kanada dan Australia dalam mempromosikan ekowisata konservasi bekantan sebagai salah satu andalan pariwisata nasional yang telah dicanangkan Presiden RI.

Rabu, 07 Maret 2018

Kunjungan dan monitoring Kepala BKSDA Kalsel Ke Pusat Rehabilitasi Bekantan

Kunjungan Kepala BKSDA Kalsel dalam rangka monitoring dan silaturahmi dengan jajaran pengurus di basecamp Sahabat Bekantan Indonesia.




Amalia Rezeki dan Upaya Penyelamatan Bekantan

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sosok Amalia Rezeki bukanlah sosok asing lagi di Kalimantan Selatan. Kiprahnya di dunia pelestarian khususnya satwa endemik Kalimantan, bekantan sudah tidak perlu ditanya. Amel, sapaan akrabnya mengaku sudah dikenalkan dengan binatang khas Kalimantan ini sejak dari kecil.

Berikut cuplikan wawancara Banjarmasin Post dengan Amalia Rezeki:

Anda sekarang lebih dikenal sebagai aktivis di bidang konservasi hewan khususnya Bekantan, apa yang melatarbelakangi Anda terjun di bidang ini?
Sebenarnya sudah dari kecil dikenalkan ayah sama bekantan. Dulu seringlah dibawa jalan ke taman maskot, depan kantor Banjarmasin Post. Setelah itu waktu kuliah, penelitian di akhir masa perkuliahan mendapati sebuah fakta, bahwa bekantan, satwa yang menjadi ikon Provinsi Kalimantan Selatan dan sedang berada diambang kepunahan, justru tidak mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah daerah. Lalu saya berinisiatif mendirikan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).


Apa saja yang sudah dikerjakan terkait konservasi Bekantan?
Sebenarnya banyak. Sudah beberapa kali kegiatan kami lakukan dalam upaya pelestarian Bekantan. Tidak hanya kami sendiri tapi banyak menggandeng berbagai pihak, mulai dari kepolisian, pemerintah daerah dan lainnya. Saat ini kami juga dirikan basecamp sebagai tempat transit Bekantan sebelum dilepasliarkan.

Menyelamatkan bekantan bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu ia menjalin kemitraan dengan berbagai pihak khususnya dengan lembaga pemerintah, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, melalui BKSDA Kalimantan Selatan untuk bersama-sama berkontribusi melestarikan bekantan yang juga merupakan satwa endemik Kalimantan yang saat ini masuk dalam daftar merah “endangered species” oleh lembaga konservasi internasional IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dan masuk dalam kategori appendix I oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), sebagai satwa yang terancam punah.

Apa saja tantangannya?
Tidak mudah mengubah mindset seseorang untuk peduli terhadap lingkungan khususnya pelestarian bekantan itu sendiri, untuk itulah kami melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Betapa pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati, terlebih bekantan yang merupakan spesies kunci, punahnya spesies kunci akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang berdampak pada kehidupan manusia.

Project apa yang saat ini sedang dikerjakan?
Kami sedang membangun Pusat Penyelamatan Bekantan, yang mungkin merupakan satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia. Kemudian kita juga dirikan Sekolah Konservasi, pendidikan non formal yang fokus dalam pendidikan dan pelatihan di bidang konservasi.

Disamping itu, dalam rangka mengembangkan pariwisata daerah, kita juga menggagas berdirinya ekowisata konservasi bekantan di kawasan Pulau Bakut dan sekitarnya yang saat ini cukup mendunia dengan banyaknya kunjungan wisatawan asing untuk menyaksikan ekowisata konservasi bekantan tersebut.

Pengalaman menarik terkait kegiatan Anda sekarang?
Banyak pengalaman menarik baik suka maupun duka ketika melakukan kegiatan pengamanan kawasan konservasi dan melakukan rescue-evakuasi satwa yang dilindungi. Salah satunya, ketika kami menyelamatkan bekantan yang menjadi korban kebakaran hutan, dimana kami harus melakukan evakuasi beberapa ekor bekantan yang terluka akibat sekujur tubuhnya terbakar, dan ini memerlukan penanganan khusus baik secara medis maupun terapi psikologisnya untuk menghilangkan trauma bekantan yang cukup tinggi.

Kegembiraan yang luar biasa bagi kami ketika kami dapat menyelamatkan bekantan dan merawatnya dengan baik dan melepasliarkannya kembali ke alam. Sering, kami terduduk tak menyangka dan sujud syukur atas keberhasilan upaya penyelamatan bekantan tersebut, karena kami yakin tanpa sentuhan tangan Allah bukanlah hal yang mudah untuk menyembuhkan bekantan yang terluka dan mengalami trauma berat.

Apa yang masih jadi cita-cita, khususnya terkait bidang yang Anda geluti sekarang?
Cita-cita dan harapan kami ke depan di bidang konservasi bekantan ini, tentunya dengan berdirinya Sanctuary alami yang saat ini dalam proses pembangunan bisa segera terwujud, demi tercapainya upaya peningkatan populasi bekantan yang saat ini terancam punah. Dan ini membutuhkan semangat kebersamaan dari semua pemangku kepentingan.

Kemudian, ada satu cita-cita lain yakni berdirinya kawasan ekowisata konservasi bekantan yang dikelola secara profesional yang diharapkan kedepan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan asli daerah maupun perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Kegiatan atau aktivitas apa saja yang digeluti lainnya saat ini?
Saat ini saya mengajar sebagai dosen muda di Pendidikan Biologi, FKIP. Ya ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan adik-adik di kampus, khususnya di bidang penyelamatan lingkungan satwa endemik Kalimantan, Bekantan. (rmd)


Biofile
Nama: Amalia Rezeki SPd MPd
Tanggal Lahir : Banjarmasin, 25 Februari 1988
Orangtua: H Ambran Asit-Hj Helyati
Pekerjaan: Dosen S-1 Pend. Biologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Pendidikan: 
- SD Negeri Karang Mekar2 Banjarmasin 1994 - 2000
- MTsN Mulawarman 364 Banjarmasin 2000 - 2003
- MA Negeri 1 Banjarmasin 2003 - 2006 
- S1 Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Lambung Mangkurat 2006-2010
- S2-Pendidikan Biologi,Program Pascasarjana ULM 2012-2013

Motto Hidup :
- “KITA MELAKUKANNYA KETIKA ORANG LAIN SEDANG MEMIKIRKANNYA” .
- "DEDIKASI BUKAN UNTUK SEBUAH APRESIASI, TETAPI MEMAKNAI KEIMANAN SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI , TERUSLAH BERBUAT DAN BERBAGI UNTUK KEBAIKAN"



Judul asli : Amalia Rezeki Prihatin Nasib Bekantan 
sumber : Tribunnews

Bekantan Eco Tours

BEKANTAN ECO TOURS is a licensed tour guide under the SBI foundation, based in South Kalimantan. Our business accepts conservation principles and we work hard to support the Bekantan Conservation Program and to promote environmental understanding in our communities. Our advantage to be donated to the preservation of the bekantan.

Trip - Bekantan Islands and Bekantan Rescue Center. Start from Banjarmasin by speed boat - 150 USD for max 5 person.

1. 08.00 - 12.00 Am
2. 14.00 - 18.00 Pm

we can see wild bekantan (Proboscis monkey) living on the island along the Barito river as well as the local wisdom of banjar people on the edge of the river.
if lucky we can watch the sunset.

we can also see how the rescue effort bekantan in the Bekantan Rescue Center.





Buku Profil Sahabat Bekantan Indonesia