River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Selasa, 19 April 2022

Hanny' The Name Given By Minister Siti For Baby Proboscis Monkeys In Banjarmasin

BANJARMASIN - Indonesian Minister of Environment and Forestry Siti Nurbaya Bakar gave the name "Hanny" to the baby proboscis monkey who was born at the Proboscis Monkey Rescue Center Banjarmasin, South Kalimantan on March 10, 2021.

Bayi Bekantan Pulau Curiak

"Alhamdulillah, the LHK Minister is pleased to give a name for the birth of this new proboscis monkey," said Amalia Rezeki, Chairperson of the Indonesian Proboscis Monkeys Foundation (SBI), in Banjarmasin, as reported by Antara, Wednesday, March 30.

The name "Hanny" was officially stated on the certificate of naming signed by the Minister of Environment and Forestry for the female proboscis monkey.

According to Amel, Amalia Rezeki's nickname, the minister appreciated SBI's performance in efforts to conserve proboscis monkeys in South Kalimantan.

Moreover, the birth of a baby proboscis monkey in a proboscis monkey care center this time is a rare event and is an achievement in itself for the conservation world, especially for SBI and BKSDA South Kalimantan.

Why not, in the midst of the threat of the proboscis monkey population due to land conversion, forest fires and poaching, it turns out that there is still hope for an ex-situ increase in the proboscis monkey population, especially those deposited that can give birth.

The Minister of Environment and Forestry previously released a female proboscis monkey named Lola Amalia on Bakut Island, Barito Kuala Regency, South Kalimantan on February 18 2017. The name Lola Amalia was given by Siti Nurbaya as a form of appreciation for the dedication of Amalia Rezeki as the chairman of the Indonesian Bekantan Friends who have been carrying out efforts to save proboscis monkeys in South Kalimantan.

Amel was even sent by the Ministry of LHK to attend a meeting of the environmental youth forum among ASEAN countries and at the same time won the 2019 ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) which was held in Cambodia.

Amel also explained that Hanny was born to the mother pair of Mimin (female) and Pedro (male). The two animals were handed over from the community which were kept since they were babies and when they were adults they were handed over to SBI to be rehabilitated because their natural behavior had disappeared. During treatment, the two proboscis monkeys showed symptoms of lust until they were combined to mate and finally gave birth.

Kamis, 14 April 2022

Seekor bayi bekantan lahir di luar kawasan konservasi Pulau Curiak

Banjarmasin (ANTARA) - Seekor bayi bekantan lahir di luar kawasan konservasi Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel), yang dikelola Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan pemerintah daerah setempat.

Bayi Bekantan

Lahir dalam kawasan Stasiun Riset Bekantan dari seekor bekantan betina dewasa kelompok alpha, kata founder Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Foundation Amalia Rezeki di Banjarmasin, Sabtu. Ia mengatakan peristiwa langka itu merupakan kelahiran pertama bayi bekantan di kawasan Stasiun Riset Bekantan sepanjang tahun 2022. Sebelumnya, tahun 2019 telah lahir tujuh ekor bekantan, sehingga total delapan ekor bekantan yang dilahirkan sejak stasiun riset itu diresmikan tahun 2018. 

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kelahiran bayi bekantan merupakan sebuah capaian yang luar biasa. Di kawasan pulau kecil yang dikelola dan dijaga oleh SBI serta masyarakat nelayan setempat telah berhasil menyumbang penambahan populasi bekantan di Indonesia. 

Amel berharap semua pemangku kepentingan bisa saling membantu satu sama lain menyelamatkan bekantan di kawasan tersebut dengan menjaga habitatnya yang tersisa agar tidak beralih fungsi yang dapat merusak habitat bekantan dan ekosistem hutan mangrove rambai. Tidak saja bagi upaya penyelamatan bekantan, tetapi juga nasib nelayan tradisional yang bergantung pada sungai serta hutan mangrove sebagai tempat bagi ikan air tawar yang menjadi penghidupan nelayan sekitar. 

Untuk menyelamatkan bekantan yang tersisa di kawasan Pulau Curiak, Amel dan tim di SBI melakukan tiga program penting dan strategis di bidang konservasi. 

Pertama, membangun greenbelt (sabuk hijau) sebagai kawasan penyangga habitat bekantan. 

Kedua, program buy back land atau membeli kembali lahan yang telah beralih fungsi. 

Ketiga, restorasi mangrove rambai dengan menanam kembali pohon mangrove, khususnya jenis pohon rambai yang merupakan tegakan dan pakan utama bekantan. Stasiun Riset Bekantan merupakan role model pengelolaan kawasan habitat bekantan di luar kawasan konservasi yang telah berhasil merestorasi habitat bekantan dan melakukan penambahan populasi monyet berwarna oranye dan berhidung panjang secara alami mencapai 100 persen lebih dalam kurun waktu 5 tahun. 

Awalnya pada tahun 2016, populasi bekantan yang menjadi maskot fauna Kalimantan Selatan di Pulau Curiak sekitar 14 ekor. Kemudian sampai bulan April 2022 ini telah bertambah menjadi 31 ekor.

Pewarta: Firman Editor: Bambang Sutopo 

Menteri LHK beri nama "Hanny" si bayi bekantan di Banjarmasin

Banjarmasin (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya Bakar memberikan nama Hanny untuk si bayi bekantan yang lahir di bekantan Rescue Center Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 10 Maret 2021 lalu. 

Menteri LHK Namai Bayi Bekantan Hanny

Alhamdulillah ibu Menteri LHK berkenan memberikan nama untuk kelahiran anak bekantan terbaru ini, kata Ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Amalia Rezeki di Banjarmasin, Rabu. 

Nama Hanny pun tertuang resmi pada sertifikat pemberian nama yang ditandatangani Menteri LHK untuk bekantan berjenis kelamin betina itu.

Bayi Bekantan "Hanny"

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, sang menteri mengapresiasi kinerja SBI dalam upaya pelestarian bekantan selama ini di Kalimantan Selatan. Apalagi kelahiran bayi bekantan di tempat perawatan bekantan sementara kali ini adalah kejadian langka dan merupakan prestasi tersendiri bagi dunia konservasi, terutama bagi SBI dan BKSDA Kalsel. Betapa tidak, di tengah keterancaman populasi bekantan akibat akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan dan perburuan liar, ternyata masih ada harapan penambahan populasi bekantan secara ex-situ, terutama hasil titipan yang bisa melahirkan.

Sertifikat pemberian nama bayi bekantan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya Bakar. Menteri LHK sebelumnya juga pernah melepasliarkan bekantan betina bernama Lola Amalia di Pulau Bakut, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan pada 18 Februari 2017 lalu.

Nama Lola Amalia diberikan oleh Siti Nurbaya sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Amalia Rezeki selaku ketua Sahabat Bekantan Indonesia yang selama ini melakukan upaya penyelamatan bekantan di Kalimantan Selatan. Bahkan Amel pernah diutus oleh Kementerian LHK mengikuti pertemuan forum pemuda lingkungan hidup antar negara ASEAN dan sekaligus meraih penghargaan ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) 2019 yang dilaksanakan di negara Kamboja. 

Amel menjelaskan pula Hanny lahir dari pasangan induk Mimin (betina) dan Pedro (pejantan). Kedua satwa tersebut serahan dari masyarakat yang dipelihara sejak bayi dan setelah dewasa diserahkan ke SBI untuk direhabilitasi karena prilaku alaminya telah hilang. Selama dalam perawatan kedua bekantan tersebut menunjukkan gejala birahi hingga digabungkan untuk kawin dan akhirnya melahirkan.​​​​​​ 

Menteri LHK teken Sertifikat Bekantan Awards 2022

Banjarmasin (ANTARA) - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) menyebutkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar telah meneken Sertifikat Bekantan Awards 2022 yang nantinya diberikan kepada penerima anugerah saat peringatan HariBekantan pada 28 Maret 2022.

Menteri LHK apresiasi Sahabat Bekantan Indonesia

"Alhamdulillah Ibu Menteri berkenan menandatangani langsung Sertifikat Awards-nya sebagai wujud dukungan nyata Beliau dalam upayakonservasi bekantan," kata pendiri SBI Foundation Amalia Rezeki di Banjarmasin, Minggu.

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, Menteri LHK menyambut baik perhelatan Bekantan Awards 2022 yang diselenggarakan oleh Yayasan SBI bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Menteri LHK memberi apresiasi atas upaya penganugerahan bagi insan yang peduli dan berdedikasi tinggi melestarikan bekantan dan lingkungan.

"Ibu Menteri berharap momentum penganugerahan Bekantan Awards menjadi inspirasi positif dan motivasi dalam upaya pelestarian bekantan dan lingkungan karena menyelamatkan bekantan berarti menyelamatkan peradaban manusia," kata Amel mengutip pernyataan Menteri LHK.

Bagi Siti Nurbaya, konservasi bekantan adalah keharusan demi menyelamatkan maskot fauna Kalimantan Selatan itu dari ancaman kepunahan.

Lima tahun lalu, Yayasan SBI yang dikomandoi Amalia Rezeki melepasliarkan seekor bekantan yang diberinya nama Lola Amalia.

Nama Lola itu sendiri menurut dia adalah Batola, tempat atau lokasi pelepasliaran bekantan. Sedangkan Amalia diambil dari nama sang pelestari bekantan Amalia Rezeki, perempuan peraih ASEAN Youth Eco Champion 2018 di Cambodia atas dedikasinya terhadap pelestarian bekantan.

Tahun 2022 ini merupakan peringatan Hari Bekantan yang ketujuh. Hari bekantan adalah gerakan moral di bidang konservasi yang diprakarsai Amalia Rezeki bersama komunitas pecinta lingkungan di Kalimantan Selatan untuk menggalang kepedulian terhadap upaya konservasi monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna cokelat kemerahan tersebut.

Tanggal 28 Maret dipilih karena pada hari itu DPRD menetapkan bekantan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan yang kemudian disahkan berdasarkan SK Gubernur Kalsel No 29 Tahun 1990 tanggal 28 Maret 1990.

Peringatan Hari Bekantan tahun 2022 ini diisi dengan rangkaian acara aksi penanaman mangrove rambai di kawasan Stasiun Riset Bekantan dan puncaknya pada Senin (28/3) diisi seminar internasional menghadirkan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Alue Dohong, Ph.D sebagai pembicara utama.

Selain itu Rektor ULM Prof Sutarto Hadi, Prof Timothy Robert Kilgour dari University of New Castle, Australia, Prof Hadi Sukadi Alikodra peneliti senior bekantan dari IPB dan Amyra Atheefa Sandiaga Uno selaku Youth Internasional Ambassador of Bekantan di New York, Amerika Serikat.


Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2785313/yayasan-sbi-menteri-lhk-teken-sertifikat-bekantan-awards-2022

Dunia Sambut Kelahiran 3 Bayi Bekantan di Pulau Curiak

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Bayi bekantan dari indukan yang berbeda, lahir dalam waktu yang hampir bersamaan dengan Hari Hak Asasi Hewan sedunia di Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan.

Tiga bayi bekantan di pulau curiak

Hal ini tidak hanya disambut gembira oleh masyarakat peduli lingkungan, peneliti satwa liar serta pegiat konservasi lokal, tetapi turut mengundang perhatian dan apreseasi dari berbagai negara di belahan dunia.

Dari informasi yang diperoleh  Banjarmasinpost.co.id, Sabtu (17/10/2020), kelahiran tiga ekor bekantan tersebut turut dikomentari oleh Prof. Tim Roberts dari University Of New Castle, Australia. 

Ia mengapresiasi kerja keras dari tim Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) atas keberhasilannya dalam menjaga dan merawat habitat bekantan di luar kawasan konservasi yang setiap tahunnya terus meningkat populasinya. 

Prof Tim Roberts yang pernah berkunjung ke Stasiun Riset Bekantan 2 tahun lalu ini mengungkapkan Apreseasi yang dikirim melalui email dan diterima oleh Founder Yayasan Sahabat Bekantan Indinesia (SBI).

“This is wonderful News. My colleague Amalia Rezeki sent me This wonderful photo of Probocis Monkey succesfully breeding on Curiak Island, a reserve that she has established in Barito River in an attempt to save this magnificent animal from extinction," ungkapnya kepada Founder Yayasan Sahabat Bakantan Indinesia (SBI).

Apresiasi juga datang dari Andy Laister, Volunteer Konservasi asal Hungaria yang merespons positif setelah membaca berita dari  Banjarmasinpost.co.id tentang kelahiran tiga Bakantan tersebut.

Prof Tim Roberts yang pernah berkunjung ke Stasiun Riset Bekantan 2 tahun lalu ini mengungkapkan Apreseasi yang dikirim melalui email dan diterima oleh Founder Yayasan Sahabat Bekantan Indinesia (SBI).

Prof Tim Roberts

“This is wonderful News. My colleague Amalia Rezeki sent me This wonderful photo of Probocis Monkey succesfully breeding on Curiak Island, a reserve that she has established in Barito River in an attempt to save this magnificent animal from extinction," ungkapnya kepada Founder Yayasan Sahabat Bakantan Indinesia (SBI).

Apresiasi juga datang dari Andy Laister, Volunteer Konservasi asal Hungaria yang merespons positif setelah membaca berita dari  Banjarmasinpost.co.id tentang kelahiran tiga Bakantan tersebut.

Volunteer konservasi asal Hungaria yang pernah berkunjung ke Yayasan Sahabat Bakantan Indonesia (SBI) enam tahun lalu ini, mengatakan, "This is great news, the project you start many years ago is a success. I think you, Feri and all your team are doing a great job," ungkapnya.

Volunteer Sahabat Bekantan Indonesia

Sementara itu, dari Cristina Armengol kelahiran Spanyol yang bekerja di Primate Conservation Netherlands dan pernah membantu pengelolaan primata di tempat rehabilitasi bekantan SBI ini, mengatakan, sangat terkejut dan gembira saat membaca berita ini. "Oh my God! This is amazing! Incredible news for the bekantan and for your work! ," katanya penuh kegembiraan.

Kemudian dari Finnish Association for Nature Conservation, Prof Hannu Klemola, asal Finlandia mengatakan bahwa SBI layak menjadi duta alam dan pemulihan habitat.

“Great to learn wonderful news; bekantan babies are so cute. I put a great value your and your team work and you are a real ambassador of nature and restoration of habitats," ungkapnya.

Tidak ketinggalan juga, donatur tetap Program Konservasi Bekantan di SBI, Fabiola Felix, dari Antwerp, Belgia.

“Wishes you success with the proboscis monkey conservation program and the birth of the 3 proboscis monkeys," jelasnya.

Sedangkan David Arthur Breckenridge yang juga pernah menjadi relawan konservasi bekantan SBI dari Kanada, sangat gembira mendengar kabar kemajuan populasi bekantan di Stasiun Riset Pulau Curiak. 

“The total population of both groups together has nearly doubled since 2016. Safe to say it was a wise choice to focus your efforts on Curiak, because it is clearly a very supportive habitat. Lovely to hear someone concerned that the population of proboscis monkeys may be growing too fast, for once! music to my ears. People of South Borneo please recognize this asset, and the pioneering individuals behind it. Congratulations from your long-nose friends in Canada," ujarnya.

Sementara itu, tanggapan Founder SBI, Amalia Rezeki, saat ditemui  Banjarmasinpost.co.id, mengatakan, sangat merasa terharu atas perhatian dan apresiasi masyarakat dari berbagai belahan dunia, terhadap keberhasilan upaya pelestarian bekantan di stasiun riset bekantan pulau Curiak. 

“Alhamdulillah. Saya ucapkan terima kasih dan puji syukur atas perhatian serta apresiasi teman-teman dari berbagai belahan dunia yang peduli akan kerja keras kita bersama dalam menjaga alam dengan melestarikan bekantan. Ini semua adalah kerja keras dari semua pihak, terutama pemangku kepentingan yang peduli terhadap bekantan dinegeri ini," jelasnya.

Perempuan peraih penghargaan internasional ASEAN, Youth Eco Champion Bidang Lingkungan tahun lalu ini mengatakan terima kasih juga kepada  Banjarmasinpost.co.id yang telah memperkenalkan dan menayangkan berita ini, sehingga mengugah komentar serta perhatian dan Apreseasi dari para pemerhati konservasi lingkungam di belahan dunia.

"Kini, bekantan tidak hanya milik Kalsel atau Indonesia saja, akan tetapi sudah menjadi milik dunia dan merupakan salah satu primata ikonik yang unik dan eksotik. Keberadaannya di alam mulai terancam punah. Untuk itu Lembaga Konservasi Internasional IUCN ( International Union for Conservation of Nature and Natural Resources ) memasukannya dalam daftar merah, sebagai Endangered Spesies, yang keberadaannya di alam liar terancam punah serta dilindungi," tegasnya.

Hal yang sama diungkapkan Ketua Forum Konservasi Flora dan Fauna Kalsel, Zulfa Asma Vikra, SH, MH. Dikatakan, perhatian mata dunia tentang keberhasilan dalam menjaga alam dan melestarikan bekantan adalah sesuatu yang positif dan menepis stigma sebagai negara perusak alam, khususnya hutan.

"Saya mengapresiasi keberhasilan dari tim SBI dalam upaya pelestarian bekantan di Kalsel ini. Ini merupakan angin segar yang dapat menumbuhkan semangat kita untuk terus menjaga dan merawat alam demi keberlangsungan peradaban manusia yang selaras antara manusia dan lingkungannya, sekaligus mendukung program pembangunan pemerintah yang berkelanjutan serta lestari," lanjutnya.


Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul Dunia Sambut Gembira Kelahiran 3 Ekor Bekantan di Pulau Curiak Kalsel, https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/10/17/dunia-sambut-gembira-kelahiran-3-ekor-bekantan-di-pulau-curiak-kalsel?page=3.

Penulis: Stanislaus Sene | Editor: Alpri Widianjono

Senin, 03 Januari 2022

Yusuf Mansur dukung restorasi mangrove rambai lestarikan Bekantan

Banjarmasin (ANTARA) - Ustadz Yusuf Mansur mendukung upaya restorasi mangrove rambai untuk pelestarian satwa bekantan yang jadi maskot Provinsi Kalimantan Selatan.

Ustadz Yusuf mansyur dukung SBI

"Melestarikan hutan rambai berarti melestarikan bekantan serta kehidupan liar lainnya. Mari kita dukung upaya mulia ini," kata Ustadz Yusuf Mansur di Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Kamis.

Kehadiran Ustadz Mansur disambut kawanan bekantan dari kelompok Alpha yang bertengger di pohon rambai pinggiran sungai.

Kejadian ini langka karena walaupun didekati kawanan bekantan tidak menjauh, mereka bercengkrama layaknya sebuah keluarga.

"Masya Allah luar biasa, saya bisa melihat langsung satwa ciptaan Allah yang eksotik ikon Provinsi Kalimantan Selatan. Sungguh mempesona. Saya merasa beruntung bisa melihatnya," ucap pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran dan Pengajian Wisata Hati itu.

Pada kesempatan itu, Ustadz Mansur juga menanam bibit pohon rambai di area restorasi mangrove rambai di Pulau Curiak yang dikelola Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Dia mendoakan SBI yang telah bekerja keras melestarikan bekantan agar mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT untuk mengantar ke surga-Nya.

Sementara pendiri SBI Amalia Rezeki mengaku bersyukur dikunjungi Ustadz Yusuf Mansur. Apalagi sang dai mengajak semua mendoakan agar upaya mulia menyelamatkan bekantan dan alam selalu dalam lindungan dan berkah Allah SWT.

Amel menjelaskan mangrove rambai dipilih untuk memulihkan habitat bekantan dan ekosistem lahan basah kawasan Pulau Curiak karena pohon itu merupakan pendukung aktivitas bekantan dan pucuk daunnya merupakan sumber makanannya.

Termasuk pula melestarikan ekosistem sungai yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Sehingga berfungsi dalam mitigasi bencana iklim akibat pemanasan global.

"Karena hutan mangrove mampu menyerap karbon empat kali lipat lebih banyak, daripada hutan tropis lainnya," jelas kandidat doktor bekantan dari Universitas Lambung Mangkurat itu.

Mengenal PIMR "Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc“

www.bekantan.org - Pusat Informasi Mangrove Rambai  (PIMR) “ Sutarto Hadi “, adalah pilot project pengelolaan hutan lahan basah, khususnya jenis Mangrove Rambai (Sonneratia caseolaris ) secara berkelanjutan dalam satu kawasan Taman Mangrove Rambai yang diharapkan nantinya disamping sebagai kawasan konservasi penyangga habitat bekantan juga berfungsi sebagai tempat edukasi, riset maupun wisata minat khusus.

Pusat Informasi Mangrove Rambai

Lokasi PIMR "Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc“ ini terletak tidak jauh dari kawasan Pulau Curiak yang merupakan kawasan konservasi bagi satwa Endemik sekaligus maskot Provinsi Kalimantan Selatan yaitu Bekantan (Nasalis larvatus).

Secara bertahap di kawasan Pusat Informasi Mangrove Rambai akan dilengkapi dengan berbagai jenis koleksi tanaman khas lahan basah serta diarakahkan untuk menjadi pusat berbagai kegiatan yang terintegrasi dibidang perikanan dan  kehutanan seperti budidaya pembibitan rambai, dan budidaya udang galah.

Aktifitas dan fasilitas yang disuguhkan di kawasan ini antara lain:

Belajar tentang ekosistem lahan basah dan menanam bibit mangrove, perpustakaan alam, observasi  Flora dan Fauna, khususnya burung dan bekantan primata khas lahan basah  endemik Kalimantan.

Aktivitas di Mangrove Rambai Center

Menyaksikan  matahari terbit atau terbenam, mengamati kearifan lokal nelayan sungai Barito, susur sungai berkeliling hutan mangrove dengan perahu, menambah wawasan tentang ekosistem lahan basah yang unik dan menarik.

Lokasi Mangrove Rambai Center

Tidak kalah penting bagi siapapun yang telah ikut berpartisipasi berarti turut memberikan sumbangsih bagi dunia karena kawasan ini adalah miniatur serta role model upaya mitigasi pemanasan global melalui program restorasi mangrovenya.