River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Sabtu, 18 April 2020

SBI berjuang selamatkan bekantan dari COVID-19

Banjarmasin (ANTARA) - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) tengah mengalami permasalahan pengelolaan rescue center, beberapa satwa yang masih dirawat sebelum dilepasliarkan ke alam, khususnya dalam hal perawatan bekantan dan satwa liar lainnya yang dilindungi, sebagai akibat merebaknya wabah virus Corona.
Amalia Rezeki

"Sejak merebaknya pandemi COVID-19 dan kebijakan pemerintah terkait social distancing, membuat ruang gerak kita terbatas," kata Ketua Sahabat Bekantan Indonesia Amalia Rezeki, Jumat.

Suplai pakan bekantan di pasaran mulai berkurang dan Alat Pelindung Diri (APD) bagi crew SBI yang merawat bekantan pun turut menghilang di pasaran akibat aksi borong yang berlebihan, sehingga terpaksa menggunakan APD seadanya.

"Kami juga sadar bahwa permasalahan ini hampir sama dirasakan oleh lembaga lain yang bergerak di bidang konservasi, tidak saja di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia," ucapnya.

Kondisi ini ditambah dengan menurunnya pemasukan untuk membiayai operasional kegiatan penyelamatan bekantan. Selama ini biaya operasional SBI didanai oleh kegiatan wisata minat khusus ke Stasiun Riset Bekantan di kawasan Pulau Curiak dan relawan berbayar, serta donasi tidak mengikat dari berbagai pihak.

Banyak agenda kegiatan yang sudah terjadwal setahun lalu untuk kegiatan tahun 2020 tertunda, bahkan dibatalkan akibat adanya pandemi ini, seperti Summer Course, Internship dan volunteer berbayar dari Australia, Finlandia, Singapura, dan negara Eropa lainnya terpaksa harus dijadwal ulang dan kemungkinan besar dibatalkan. Belum lagi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang akan mengikuti kegiatan yang sama.

"Kami berharap kondisi ini cepat berlalu dan kita semua terhindar dari mara bahaya pandemi. Langkah selanjutnya, kami akan koordinasikan dengan pihak terkait, khususnya BKSDA Kalsel dalam rangka mencari solusi terbaik bagi upaya penyelamatan bekantan yang saat ini berada di tempat rehabilitasi sementara," kata peraih penghargaan Internasional ASEAN Youth Eco Champion - 2019.

Ia berharap ditemukan solusi yang baik dan bijak agar upaya penyelamatan bekantan bisa berjalan terus, mengingat sudah banyak pencapaian yang luar biasa dan mendapat apresiasi secara internasional.

Lebih lanjut, Amel sebutan akrab dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengatakan bahwa keberadaan Pusat Transit Penyelamatan Bekantan ini sudah cukup dikenal di kalangan dunia konservasi di mancanegara.

Tidak sedikit teman-teman dari lembaga pegiat konservasi di dunia yang telah berkunjung dan saling bertukar pengalaman, walaupun fasilitas yang ada di Tanah Air sangat terbatas, tapi di situlah mereka mengagumi dedikasi dan perjuangan dari SBI.

Menyikapi permasalahan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel menggelar rapat bersama Sahabat SBI via aplikasi zoom terkait dampak wabah virus Corona terhadap kegiatan rehabilitasi bekantan di kandang rehabilitasi SBI.

Sementara itu, Zulfa Asma Vikra, Ketua Forum Konservasi Flora & Fauna Kalsel sependapat dengan arahan Kepala Balai KSDA, Mahrus Aryadi untuk segera melepasliarkan bekantan yang dinyatakan siap rilis.

"Saya sependapat dan mendukung kebijakan dari Kepala BKSDA Kalsel dan pengelola SBI, untuk segera melepasliarkan bekantan yang sudah siap untuk dikembalikan ke alam. Upaya ini penting untuk menyelamatkan satwa maskot kita sekaligus melindungi risiko keeper yang kekurangan APD akibat pandemi corona “, ujar Zulfa Asma Vikra yang juga anggota DPRD Provinsi Kalsel.

Sementara itu, Yayasan SBI yang berpusat di Banjarmasin, Kalsel merupakan mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) di bidang pelestarian dan penyelamatan Bekantan (Nasalis larvatus) monyet besar berhidung mancung yang juga merupakan maskot Provinsi Kalimantan Selatan dan primata endemik Kalimantan.

SBI adalah satu-satunya lembaga non-profit yang bergerak di bidang pelestarian dan penyelamatan bekantan. Sejak 2015, sekitar 40 kali melakukan penyelamatan bekantan bersama BKSDA Kalsel dan sebagian besar sudah dilepasliarkan kembali ke alam, setelah melalui perawatan di pusat rehabilitasi sementara dan sisanya masih dalam perawatan.


Editor: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2020


BKSDA Kalsel Lepasliarkan Maskot Kalimantan Selatan Bersama Sahabat Bekantan Indonesia

Banjarbaru, 14 April 2020 – Pagi hari, proses lepasliar empat individu bekantan di Suaka Margasatwa Pulau Kaget berhasil dilaksanakan. SM Pulau Kaget merupakan salah satu kawasan konservasi bertipe ekosistem mangrove yang menjadi site monitoring bekantan dari empat kawasan konservasi di Kalsel sejak Tahun 2015. Kegiatan realese berjalan dengan baik hasil kerjasama tim Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) dengan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI). Turut serta pula Bapak Zulfa Asma Zikra Anggota DPRD Kalsel yang peduli terhadap lingkungan hidup dan Polairud Banjarmasin mendampingi dalam pelepasliaran.
Amalia rezeki

Keempat bekantan tersebut merupakan satwa yang diselamatkan dari luar kawasan konservasi akibat konflik satwa maupun dampak kebakaran hutan dan lahan. Sebelum dilakukan lepasliar, satwa yang diberi nama Marry (2 th), Dara (5 th), Julia (10 th), dan Wandi (7 th) tersebut telah melalui proses penyelamatan (rescue), perawatan di SBI, pemeriksaan kesehatan, serta telah dinyatakan tidak mempunyai gejala penyakit tertentu dan masih memiliki perilaku liar (aktif, lincah, agresif).

“SM Pulau Kaget yang masih memiliki ketersediaan pakan cukup memadai dan kepadatan bekantan yang masih cukup rendah merupakan alasan kami memilih lokasi ini” ujar Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M,Sc. Kepala Balai KSDA Kalsel. “Upaya ini juga sebagai tindak lanjut atas dampak covid-19 terhadap rehabilitasi bekantan di kandang rehabilitasi SBI terkait persediaan pakan dan obat-obatan yang semakin susah”, tambah Mahrus.

Julia dan Wandi merupakan korban konflik dengan warga karena dianggap hama dan merusak tanaman perkebunan mereka. Sementara Dara merupakan korban kecelakaan akibat kebakaran lahan, dan Marry merupakan bekantan yang diselamatkan warga akibat hanyut di sungai dengan kondisi yang cukup lemah. “Kami telah merehabilitasi 4 ekor bekantan tersebut kurang lebih 4-5 tahun, mulai dari kondisi yang cukup parah hingga saat ini sehat pulih kembali untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya, tentu sesuai pertimbangan medis dan juga sesuai arahan BKSDA Kalsel. Di tengah keterbatasan pandemi corona ini, kita berharap semangat konservasi terus terbangun untuk menyelamatkan maskot kebanggaan banua. Semoga setiap tahun juga semakin berkurang kasus konflik antara bekantan dan manusia akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan, ataupun perburuan liar.” Jelas Amalia Rezeki, Ketua Sahabat Bekantan Indonesia.

Mahrus kembali menyampaikan bahwa edukasi memang masih perlu terus dilakukan khususnya terhadap warga yang hidup berdampingan dengan habitat bekantan untuk tidak menganggap mereka hama dan tidak semakin mempersempit ruang gerak mereka. “Alih fungsi hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi bekantan di Wilayah Kalimantan Selatan. Hilangnya hutan membuat tidak ada lagi cukup ruang bagi bekantan untuk bertahan hidup”, jelasnya. Semoga dengan sinergi multi pihak, kejadian konflik bekantan dengan manusia, maupun kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir dan kelestarian bekantan di Kalimantan Selatan terus terjaga. (ryn).

Senin, 25 November 2019

SBI dan BKSDA Kalsel Tanda Tangani Kerjasama Dibidang Konservasi dan Riset Bekantan

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARBARU - Bertempat di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) Kalimantan Selatan, digelar agenda Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi antara BKSDA Kalsel dengan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Sahabat Bekantan dan BKSDA
Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc dan Amalia Rezeki Saat Melakukan Penandatanganan Kerjasama

Acara penandatanganan dilakukan oleh Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc selaku Kepala BKSDA Kalsel dengan Amalia Rezeki, SPd, MPd sebagai ketua SBI, dengan dihadiri oleh unsur pimpinan kedua belah pihak berserta para undangan, kemarin.

Penandatanganan perjanjian kerjasama dengan SBI ini menurut Dr Ir H Mahrus Aryadi, MSc merupakan kelanjutan dari kemiteraan konservasi dengan SBI yang sudah terbangun sejak tahun 2015 lalu dan dilakukan peningkatan lagi dibidang penelitian dan pengembangan.

“Kami sangat mengapresiasi SBI yang selama ini membangun komitmen bersama dalam implementasi kemitraan konservasi melalui kegiatan pelestarian bekantan dan pemulihan ekosistem habitat bekantan di Kalsel ", jelas Mahrus.



Kerjasama yang akan berlangsung selama 5 tahun ini meliputi kawasan konservasi habitat bekantan di Kalsel. Teknis kegiatan disusun dalam Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT).


"Semoga dalam ruang lingkup kerjasama yang disepakati memberikan dampak positif bagi bagi upaya pelestarian bekantan di Kalsel, dan menumbuhkan kepedulian serta partisipasi semua pemangku kepentingan untuk turut berkontribusi dalam pelestarian bekantan," katanya.


Sementara itu Amalia Rezeki ketua SBI menyampaikan bentuk kerjasama antara SBI dan BKSDA Kalsel merupakan sinergisitas positif yang terbangun antara masyarakat dan pemerintah.



"Kami berterimakasih selama ini selalu dibina dalam setiap kegiatan terkait konservasi baik satwa liar maupun pemulihan habitat", kata Amalia Rezeki peraih penghargaan dibidang lingkungan ASEAN Youth Eco Champion Award 2019 di Cambodia, Selasa (19/11/2019).


Saat ini SBI bangun kawasan Stasiun Riset Bekantan dan Ekosistem Lahan Basah di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala,_Kalsel. Untuk itu dalam klausal perjanjian kerjasama ini tidak hanya dibidang konservasi bekantan dan pemulihan habitat, tapi juga dibidang riset


Penulis: Syaiful Anwar

Primatolog Spanyol Terpukau dengan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak Barito Kuala

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARMASIN - Stasiun Riset Bekantan atau yang juga dikenal sebagai stasiun riset ekosistem lahan basah yang dikelola bersama antara Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin memiliki peran penting sebagai tempat penelitian ilmiah ekosistem lahan basah.
stasiun riset bekantan
Amalia Rezeki bersama Elena dan Christ di Stasiun Riset Bekantan
Terutama dengan keberadaan monyet si hidung panjang Bekantan (Nasalis larvatus) dan primata lainnya seperti Lutung kelabu (Trachypithecus cristatus) serta monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Keberadaan primata endemik pulau Kalimantan seperti Bekantan ini, telah menarik dua pegiat konservasi primata dari Spanyol, Elena dan Chris adalah peneliti primata yang juga pegiat dalam konservasi primata di Spanyol dan Belanda.

Kedatangannya ke Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Barito Kuala ini atas rekomendasi teman- temannya yang sedang meneliti monyet Yaki di Sulawesi.

"Amazing.Stasiun Riset ini sederhana, tapi menyimpan keragaman hayati yang cukup banyak, baik Primata, Mamalia dan berbagai jenis burung air serta nektar. Tempat yang bagus untuk melakukan penelitian dan konservasi. Kami salut dengan SBI bersama Universitas Lambung Mangkurat membangun kawasan ini sebagai sarana riset dan konservasi," jelas Elena, Rabu (13/11/2019).

Menurut Amalia Rezeki, founder dari SBI foundation, sejak diresmikan sebagai Stasiun Riset oleh Prof Dr H Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc yang juga Rektor ULM bersama Prof.Tim Roberts dari University Of New Castle - Australia 2018 lalu, telah menghasilkan lebih dari 12 karya ilmiah yang dipublikasikan, baik secara Nasional maupun Internasional.



"Penelitian tersebut berkontribusi penting bagi ilmu pengetahuan tentang ekosistem lahan basah, yang menjadi visi-misi ULM. Sebagai perguruan tinggi terkemuka dan berdaya saing dibidang Lahan Basah," kata Amalia yang juga dosen Pendidikan Biologi ULM.


Lebih lanjut, perempuan peraih ASEAN Eco Champion Award 2019 ini, menerangkan kehadiran Elena dan Chris bagi SBI cukup penting, karena membangun kolaborasi dalam upaya pelestarian primata. Mengingat mereka memiliki pengalaman yang cukup dan bekerja disebuah lembaga konservasi Internasional yang berusia hampir 40 tahun.

" Kami sangat mengapresiasi kerja keras Amalia dan timnya yang berjuang tidak saja melestarikan Bekantan, akan tetapi membangun kawasan stasiun riset diluar kawasan konservasi dan merehabilitasi hutan mangrove sebagai habitat beragam satwa dan biota lahan basah. Ini kerja besar dari sebuah tim yang kecil. Kami ingin membantunya dengan ilmu yang kami miliki dan membuka jaringan Internasional," ujar Chris dengan penuh semangat bercampur haru.

Chris sangat terinspirasi karena banyak aspek yang ditangani dalam kegiatan konservasi ini.

"Ini benar-benar project yang menginspirasi dan kegiatan restorasi mangrove yang dilakukan sangat membantu baik untuk bekantan tetapi juga dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal. Kami sangat mendukung Amalia Project," tambahnya.

Menurut Ambar Pertiwi, kepala Stasiun Riset Bekantan, bahwa stasiun riset ini sekarang lebih menjadi laboratorium alam. Serta memiliki daya tarik tersendiri bagi mahasiswa dan peneliti, untuk belajar tentang ekosistem lahan basah untuk kemajuan ilmu pengetahuan, kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat disekitarnya.


Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Elpianur Achmad

Rabu, 30 Oktober 2019

SBI Bentuk Satgas Bekantan Hadapi Darurat Iklim

Maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, membuat aktivis lingkungan berinisiatif membentuk sebuah satuan tugas (satgas) menyelamatkan Bekantan. Tugas satgas ini untuk menyelamatkan satwa dari karhutla.
Zainal Abidin koordinator satgas Bekantan dari yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Banjarmasin mengatakan, satuan yang dipimpinnya untuk menyelamatkan Bekantan atau yang dikenal dalam bahasa ilmiahnya Nasalis larvatus dari ancaman kebakaran hutan dan kabut asap.
“Seperti diketahui, telah terjadi beberapa kali bekantan menjadi korban karhutla di Kalsel. Akibat kebakaran hutan dan kabut asap ditambah lagi musim kering yang cukup panjang, membuat kawanan bekantan stres dan bermigrasi ketempat yang lebih aman,” jelas Zainal Abidin disela kegiatan patroli kawasan disekitar Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Barito Kuala. Belum lama tadi. Namun menurut Zainal, sebagian bekantan ada yang terjebak di kawasan perkebunan dan permukiman.
“Seperti yang terjadi di sungai Rutas di Kabupaten Tapin. Kejadian karhutla seperti tahun 2015 terulang kembali. Seekor bekantan jantan dewasa tertabrak kendaraan ketika menyebrang jalan. Begitu juga di Batulicin, Amuntai dan daerah terdampak lainnya di Kalsel,” ungkapnya.
Saat ini tim satgas bekantan fokus menjaga kawasan Pulau Curiak. Mengingat dikawasan tersebut, walau bukan merupakan kawasan lindung, tetapi dilokasi tersebut berdiri stasiun riset bekantan milik SBI foundation yang di dalamnya terdapat populasi bekantan yang dekat dengan persawahan warga dan sangat rentan kebakaran lahan serta konflik satwa dengan manusia.
“Untuk mengamankan kawasan stasiun riset yang dihuni oleh bekantan ini, kami hampir setiap hari melakukan patroli kawasan bersama tim satgas bekantan. Disamping itu kami juga melakukan sosialisasi serta edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran lahan,” tutur Zainal.
Dikatakan Zainal bahwa sekarang sedikitnya ada sekitar 21 ekor bekantan dan terbagi menjadi dua kelompok yang menghuni kawasan stasiun riset. Disamping itu juga terdapat primata eksotik lainnya yang dilindungi seperti Lutung kelabu ( Trachypithecus cristatus ) dengan populasi tidak kurang dari 15 ekor yang juga menghuni kawasan tersebut.
“Kegiatan ini bersifat internal dari SBI dalam rangka menjaga kawasan, khususnya di stasiun riset bekantan dan sekitarnya,” pungkasnya.
Sementara itu Abdan anggota satgas yang berada di pos stasiun riset menyebut, untuk menghindari upaya migrasi dari kawanan primata ikon kebanggaan provinsi Kalsel ini. Tim satgas menyediakan pakan tambahan difeeding area dan bak air tawar bersih untuk memenuhi asupan kawanan bekantan dan lutung kelabu.
“Ini terpaksa kami lakukan, karena luasan kawasan Pulau Curiak yang kecil dan daya dukung pakannya semakin berkurang akibat pohon rambai sebagai sumber pakan utamanya merangas. Namun kamu bersyukur sudah dua hari ini mulai turun hujan membasahi kawasan stasiun riset,” sebutnya. (apahabar.com, BANJARMASIN)