Bekantan (Nasalis larvatus) Fauna Maskot Provinsi Kalimantan Selatan

Jika tidak ada upaya penyelamatan, Bekantan diperkirakan akan punah 14 tahun lagi akibat Rusaknya Habitat serta perburuan.

Donasi

Dukung Upaya Pelestarian Bekantan Dan Selamatkan Dari Ancaman Kepunahan

Kegiatan Observasi Bekantan

Salah Satu Agenda Rutin Sahabat Bekantan adalah Pengamatan Bekantan (Nasalis larvatus)

Kegiatan Sosialisasi dan Donasi

Sosialisasi sekaligus penggalangan dana "Save Our Mascot"

Rabu, 15 Maret 2017

Mentri LHK Bersama SBI Lepas Liarkan Lola Amalia

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel)- Lola Amalia adalah nama seekor bekantan betina dewasa yang turut dilepas liarkan diantara empat ekor lainnya  oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya bersama-sama dengan Walikota Banjarmasin, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan,Ketua Sahabat Bekantan Indonesia dan Bupati Batola, serta disaksikan oleh Direktur Jenderal PPKL, Direktur Jenderal PDASHL, dan Direktur Jenderal PSLB3.


Nama Lola Amalia diberikan oleh ibu Siti Nurbaya sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Amalia Rezeki selaku ketua Sahabat Bekantan Indonesia, yang selama ini melakukan upaya penyelamatan bekantan di Kalimantan Selatan. Bekantan yang dilepasliarkan terdiri dari jantan dan betina,sebanyak empat ekor. Bekantan tersebut memiliki nama Lucky Boy (jantan usia 7 tahun), Mantuil (betina usia 3.5 tahun), Titik (betina usia 5 tahun), dan Lola Amalia (betina usia 5 tahun).
“ Saya sangat salut dan mengapresiasi bu Amalia Rezeki dari Sahabat Bekantan Indonesia yang telah berupaya membantu melestarikan bekantan di Kalimantan Selatan. Untuk itu salah satu bekantan betina yang akan kita lepas liarkan ini, saya beri nama “ Lola Amalia “, saya ambil dari nama Amalia Rezeki “, jelas ibu Siti Nurbaya ketika akan melakukan pelepas liaran bekantan tersebut.

Bekantan yang dilepasliarkan adalah merupakan hasil upaya penyelamatan (rescue) konflik satwa dengan masyarakat karena adanya alih fungsi  lahan,kebakaran hutan dan lahan serta hasil serahan masyarakat Sebelumnya, upaya penyelamatan Bekantan dilakukan oleh Tim Rescue Sahabat Bekantan Indonesia  bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan. 

Sementara itu Amalia Rezeki merasa terharu, atas pencapaian perjuangan Sahabat Bekantan Indonesia, yang selama 26 tahun sejak ditetapkannya sebagai maskot Kalimantan Selatan, baru sekarang mendapat perhatian khusus, baik dari pemerintah provinsi maupun sampai ketingkat kementrian, dengan ditandai kehadiran bu Mentri LHK pada acara puncak pelepas liaran bekantan di Pulau Bakut  Barito Kuala. 

“ Saya sangat terharu dan berterimakasih sekali kepada ibu Siti Nurbaya selaku Menteri LHK dan Jajaran Pemerintah Daerah serta semua stake holder didaerah sampai pusat, yang bersatu padu untuk menyelamatkan serta melestarikan bekantan yang keberadaannya terancam punah, terlebih bekantan adalah merupakan spesies kunci dan endemik Kalimantan “. Tutur Amalia Rezeki yang juga merupakan dosen pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat.

Selanjutnya menurut Amalia Rezeki, SBI selama tahun 2015 dan hingga  2017, sudah sekitar 27 kali  melakukan evakuasi bekantan. Sementara yang sudah dilepasliarkan berjumlah 20 ekor, yang sedang dirawat 7 ekor, serta tiga ekor tidak dapat tertolong akibat luka bakar yang cukup serius.Seperti diketahui, bekantan dilindungi berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No 134 dan No 266 jo UU No 5 Tahun 1990. Berdasarkan lembaga konservasi Internasional, bekantan termasuk dalam daftar merah IUCN Bekantan dikategori terancam, dimana populasi satwa berada diambang kepunahan. 

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan pada tahun 1987 jumlah populasi bekantan di Pulau Kalimantan masih cukup banyak mencapai 250.000 ekor dan 25.000 ekor berada di kawasan konservasi (MacKinnon,1978). Kemudian menyusut drastis pada tahun 1995, hanya berjumlah sekitar 114.000 ekor dan hanya tersisa 7.500 ekor di kawasan konservasi (Bismark,1995). 

Sehingga dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir populasi bekantan di Pulau Kalimantan berkurang sekitar 50 persen. Sedangkan di Kalimantan Selatan melalui penelitian yang dilaksanakan tahun 2013 oleh BKSDA Kalsel hanya berjumlah sekitar 3.600 sampai lima ribu ekor, namun sekarang diperkirakan sudah tidak sampai 2500 ekor lagi.

Selasa, 10 Januari 2017

Proboscis Monkey the Natural Swimmers

Proboscis monkey might be best known for their giant, bulbous noses, but scientists are sniffing out another of these monkey’s unique attributes: their swimming abilities.

To discover more about these water-loving primates, conservation biologist Amalia Rezeki recently spent a few weeks on Indonesian Borneo’s Bakut island filming the animal and their behavior in mangrove forests. (read about swimming pings and other surprising animals that love water).
“The main primates in the area that people think of are orangutans. We thought that a video about these monkey’ swimming abilities would help bring some positive attentions.” Says Rezeki. Who works with Sahabat bekantan Indonesia, a nonprofit that works to protect proboscis monkey, also called bekantan.

Due to loss of their mangrove habitat and hunting, proboscis monkey are listed as endangered, with fewer 7.000 animal left in the wild.
Rezeki’s expedition discovered several monkeys on the island, suggesting the species is still hanging on.
Natural Swimmers
Proboscis monkey likely took to the water becaouse ”it’s hard to live in a swamp without being able to swim.” Says Lee Harding, chief scientist at SciWrite Environmental Sciences and an expert in proboscis monkey (read more about mangroves, forest the tide, in National Geographic magazine).
For these primates, swimming serves a practical function: to get food. The animal have to travel fat and wide to find the young, tender leaves that make up the bulk of their diet-and swimming gets the job done faster.
Propelled by partially webbed fingers and toes, the monkeys can even swim underwater-although no one knows exactly how long they can hold their breath, according to Liz Bennett, vice precident of species conervation an the Wlidlife Conservation Society in New York city. (read more about the monkey with the outlandish nose).
“The extent that they swimm is quite unusual, especially since its close relative don’t swim,” she adds.
Monkey Business
Harding, who wasn’t involved in the recent expedition, has long been fascianated by the species, which live in harems with one territorial male and around eight females. (see an intimate portrait of a proboscis monkey in captivity).
On this first visit to Borneo with his brother several decades ago, they found out the hard way how males mark their territory and intimidate those who encroach on their land.
“This big male, he was in a tree by the river, and he just started urinating on my brother,” Harding says.
But swimming isn’t fun and games for proboscis monkeys. Traveling by water is risky: Crocodiles, phyton, and monitor lizards often prey on the swimming primates.
Vanishing Forest
Another danger to the species is Borneo’s disappearing mangroves. Between one-third and one-half of these forest have already disappeared due to timber harvesting and drainage for oil palm plantation, according to the Mangrove Actions Project. (See more pictures of mangroves from around the world).
More and more of Borneo’s growing population is moving to the same lowland areas where the monkey live.
“That proximity-as well as the animals’ habit of sleeping in exposed tress –makes the animals particularly vulnurable to sport hunters,” Harding says.
Though the goverment has set aside some areas as refuges for proboscis monkeys, they’re still vulnurable to hunting.
“They’re becoming more and more threatened, and humans are their biggest threat.” Says the Wildlife Conservation Society’s Bennett. “We need to do a better job of protecting them.”

Carrie Arnold (November 11, 2016 7;00 PM)

SBI Berharap Bekantan dengan Kaki Tertembak Bisa Pulih

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bekantan jantan dengan kaki tertembak yang diselamatkan di Barabai dibawa ke Pusat Rehabilitasi Bekantan - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Kalsel, Selasa (3/1) malam lalu.

Bekantan itu coba dipulihkan dari trauma berat dan luka tembak yang menghujam kaki kanannya. Ketua Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Amalia Rezeki berharap bekantan itu bisa cepat pulih dan sehat kembali.

"Bekantan itu sudah sampai di Pusat Rehabilitasi Bekantan - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) tadi malam. Kondisi bekantannya masih trauma berat pasca penanganan di lapangan dan evakuasi yang menempuh ratusan kilometer. Kami akan berusaha keras agar bekantan itu bisa pulih," kata Amalia. Pihaknya pun terus berkordinasi intens dengan tim medis mengenai penanganan terhadap luka tembak yang dialami bekantan tersebut.

"Data yang kami terima, masih ada empat proyektil yang bersarang di kaki kanan atau tepatnya di bagian dekat paha bekantan itu. Sementara dua sudah berhasil diangkat," bebernya.
Dirinya dan teman-teman dari SBI akan berusaha maksimal untuk merawat bekantan yang mengalami luka tembak itu.

"Lima tahun terakhir, kepedulian masyarakat akan bekantan sudah luar biasa, semoga terus bertambah kepeduliannya dan kami pun salut akan semua kepedulian itu," pungkasnya.
Sebelumnya, warga Desa Tembok Bahalang, Kecamatan Batang Alai Selatan, Barabai, Hulu Sungai Tengah menemukan bekantan yang mengalami luka tembak, Senin (2/1) lalu.

Penyelamatan di TKP penemuan, diketahui dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Polres HST Brigadir Riri Herlianto dan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup, Muhammad Yani dan dua orang relawan dari pencinta alam.

Sumber : http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/01/05/sbi-berharap-bekantan-dengan-kaki-tertembak-bisa-pulih

Bekantan yang Stres dan Terluka di Tembok Bahalang Dibedah Dokter Hewan

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Upaya pengobatan dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap bekantan yang stres dan terluka akibat diberondong peluru senapan angin oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Adalah Bahbinkamtimas Brigadir Riri Herlianto, bersama Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan, Muhammad Yani yang mencari pertolongan.

Setelah mengevakuasi bekantan dari kerumunan warga yang membuat hewan maskot Kalsel tersebut stres dan menjemputnya menggunakan mobil milik BPLH, bekantan di bawa ke RS Damanhuri Barabai dengan tujuan mengeluarkan peluru dari tubuhnya.

Namun, oleh dokter di rumah sakit tersebut ditolak, karena bukan kompetensi mereka membedah hewan. Riri dan Yani sempat kebingungan melakukan penanganan, hingga akhirnya mendapat informasi ada satu satunya dokter hewan di HST.

Bekantan akhirnya dibawa ke rumah dokter hewan Imam Hudari untuk dibedah. Hingga malam ini, bekantan tersebut masih menunggu proses pembedahan untuk mengeluarkan peluru senapan angin di tubuhnya. (*)

Sumber : http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/01/02/bekantan-yang-stres-dan-terluka-di-tembok-bahalang-dibedah-dokter-hewan

Warga Tembok Bahalang Temukan Bekantan Terluka Tembak

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Bekantan tersesat kembali ditemukan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kali ini di Desa Tembok Bahalang, Kecamatan Batangalai Selatan, tepatnya di sawah belakang rumah warga, Senin (2/1/2017)

Sahminan, warga setempat menuturkan, hewan langka berhidung tersebut ditemukan warga dalam kondisi sudah terluka akibat tembakan.

"Karena kesulitan menangkap,kami terpaksa menembaknya dengan senapan angin, dengan tujuan untuk menyelamatkannya dari tembakan-tembakan pihak lain. Jadi tujuankami mengkap untuk menyelamatkannya, dan menyerahkan ke pihak berwenang dalam melindungi binatang ini," kata Sahminal, mewakili warga setempat.

Dijelaskan, penangkapan dilakukan pukul 14.00 wita, dan setelah ditangkap diikat, lalu diletakkan di bawah pohon kersen.

Bekantan itu pun menjadi tontonan warga. Banyak yang mendekat untuk berfoto, sehingga bekantan terlihat stres. Empat luka tembak di kaki dan tangannya terlihat terluka (*)

Sumber :http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/01/02/breaking-news-warga-tembok-bahalang-temukan-bekantan-terluka-tembak