River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Jumat, 18 Juli 2014

SBI Kukuhkan Duta Bekantan Untuk Amerika dan Australia

Sahabat Bekantan - Upaya mengenalkan satwa langka dan maskot Kalimantan Selatan, Bekantan oleh Sahabat Bekantan Indonesia rupanya tidak hanya gencar di lakukan di dalam negeri tetapi juga hingga ke mancanegara. Salah satu bentuk konkrit upaya mengenalkan satwa endemik tersebut di laur negeri ialah dengan mengukuhkan duta Bekantan  di beberapa negara diantaranya Amerika dan Australia. 
Dr. H. M. Zaini, M.Pd Bersama Ketua Biodiversitas Indonesia
Duta Bekantan Untuk Luar Negeri dan Politisi Hijau

Sebagai Duta sekaligus agen sosialisasi Bekantan di Amerika adalah Annisa Amalia, yang di kukuhkan langsung oleh pembina SBI Dr. H. M. Zaini, M.Pd yang bertempat di Gedung Pasca Sarjana Unlam pada 16 Juli 2014 lalu. Untuk menjalankan tugasnya, Annisa Amalia telah menyusun beberapa agenda diantaranya dengan mengenalkan Nasalis larvatus pada teman-teman kampusnya di Cornis Collage, sekolah serta Persatuan Pelajar Indonesia terutama di Seattle, Amerika.

Prof. Dr.Ir.H.M. Arief Soendjoto, M.Sc penasehat SBI
Bersama Ketua Biodiversitas Indonesia dan Duta Bekantan Untuk Amerika
Anissa mengaku tertarik terhadap si "Hidung Panjang" lantaran satwa tersebut unik dan hanya terdapat di Kalimantan, terlebih sebagai warga Indonesia Ia merasa terpanggil untuk turut peduli terhadap kekayaan biodiversitas Indonesia terutama untuk flora dan fauna yang terancam punah. Ia berharap apa yang dilakukannya (sebagai Duta Bekantan untuk Amerika) bisa bermanfaat bagi pelestarian Bekantan. 

Selain mengukuhkan Annisa Amalia (Duta Bekantan untuk Amerika), SBI juga mengukuhkan Duta Bekantan Untuk Australia, Karina Sarah Kusumadewi dan rencananya akan disusul Duta Bekantan untuk Belgia dan Belanda. 

Pembina Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Dr. H. M. Zaini, M.Pd menjelaskan, pengukuhan Duta Bekantan di luar negeri ini adalah langkah yang diambil guna memperluas gaung terhadap perlindungan dan pelestarian Bekantan.  

source : Radar Banjarmasin Edisi 18 Juli 2014 hal 16.

Sabtu, 12 April 2014

Bekantan Kesetrum Listrik di Kota

Artikel dan foto dari Pontianak Post Online

PONTIANAK- Warga jalan Adi Sucipto Pontianak Tenggara dihebohkan dengan penemuan seekor Bekantan (Kera Belanda) yang jatuh dari pohon di Jalan Adi Sucipto Pontianak Tenggara, Minggu (6/4) pukul 15.00.wib. Diduga akibat tersengat aliran listrik.Menurut Edi (50), warga Gang Transmigrasi Jalan Adi Sucipto mengatakan, Bekantan tersebut jatuh setelah terdengar percikan listrik dari salah satu kabel listrik di jalan tersebut. Lama setelah itu kera dengan hidung panjang ini jatuh. “Saya pun kaget. Pas saya lihat ternyata seekor kera,” kata Edi, yang juga Ketua RW 13 Kelurahan Bangka Belitung Laut.

Seekor Bekantan dalam keadaan kritis akibat kesetrum

Dijelaskan Edi, kera berbulu coklat kemerahan itu pun dievakuasi tak jauh dari lokasi terjatuhnya kera tersebut. “Saya ambil dan saya bawa ke sini. Saya pikir kera ini sudah mati. Setelah kami siram pakai air, kera ini pun hidup kembali. Tapi tak bisa bergerak lagi,” lanjutnya.Setelah itu, lanjut Edi. Agar tak lepas, kera itupun di ikat tangannya. “Rencannya kera ini mau saya bawa ke dokter hewan. Biar bisa diobati. Kasian liatnya,” kata edi miris.

Ditambahkan Edi, Bekantan ini sudah terlihat oleh warga sejak sebulan lalu. Kera ini terus bergelantungan di pohon-pohon pinggir jalan. Namun hingga akhirnya ditemukan kesetrum, kera ini tidak ada yang menangkap. “Saya pun heran. Kok di kota ada kera. Saya kira kera ini peliharaan orang,” tambahnya.
Kondisi Bekantan tersebut sangat mengenaskan. Diduga ada bagian tulang yang patah akibat terjatuh dari pohon. Sementara kondisi psikologisnya terganggu alias stress. “Menurut analisa saya, ada tulang yang patah. Psikologinya pun lagi stress,” kata drh Huibert yang datang setelah dihubungi warga.
Menurut Huibert, pihaknya tidak bisa melakukan tindakan medis terhadap Bekantan yang malang itu, karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan. “Kalau bisa kita bawa ke ruang penanganan. Karena saya tidak bisa menangani di sini,” jelasnya.

Tak lama setelah itu, drh Dwi Suprapti, WWF Indonesia melakukan evakuasi terhadap Bekantan betina tersebut. Untuk penanganan awal, Bekantan itu dibawa untuk penanganan medis. “Kami sudah berkoordinasi dengan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA). Demi menyelamatkan satwa ini, maka kami boleh memindahkannya dari lokasi penemuan. Dan karena ini bersifat urgent,” terangnya.

Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis.Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Monyet betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai monyet Belanda. 

Bekantan jantan berukuran lebih besar dari betina. Ukurannya dapat mencapai 75cm dengan berat mencapai 24kg. Monyet betina berukuran 60cm dengan berat 12kg. Spesies ini juga memiliki perut yang besar, sebagai hasil dari kebiasaan mengonsumsi makanannya. Selain buah-buahan dan biji-bijian, Bekantan memakan aneka daun-daunan, yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut bekantan jadi membuncit.
Bekantan tersebar dan endemic di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di pulau Borneo (Kalimantan, Sabah, Sarawak dan Brunei). Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Sistem sosial Bekantan pada dasarnya adalah One-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu juga terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. 


Jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaputnya. Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup. Bekantan merupakan mascot fauna provinsi Kalimantan Selatan.Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta sangat terbatasnya daerah dan populasi habitatnya, bekantan dievaluasikan sebagai Terancam Punah di dalam IUCN RED List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I.(arf)

Jumat, 28 Maret 2014

Dua Bekantan Tewas oleh Senapan Pemburu

Perburuan Bekantan rupanya masih marak terjadi, padahal kegiatan alih fungsi habitat khususnya hutan pesisir dan mangrove sudah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan Nasalis larvatus. Entah apa alasannya, perburuan Bekantan tidak dibenarkan karena hewan ini telah masuk daftar yang di lindungi karena populasinya semakin menyusut dan terancam punah.
Kasus perburuan Bekantan
Dua ekor Bekantan dan 1 ekor Kera abu-abu yang tewas oleh senapan angin pemburu

Sebuah laporan Citizen tentang perburuan  yang menewaskan dua ekor Bekantan serta seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di daerah Ketapang, Kalimantan Barat ini hendaknya tidak terulang lagi. Mari berpartisipasi dan laporkan setiap tindakan yang membahayakan kelestarian Maskot Provinsi Kalimantan Selatan ini. Mari bersahabat dengan Bekantan !


"Citizen Reporter
Petrus Kanisius "Pit"

Anggota AMBA sejak tahun 2002, bekerja di Yayasan Palung 

NASIB dua bekantan dan seekor monyet ekor panjang tewas oleh senapan pemburu selang beberapa waktu, Selasa (4/3/2014) siang hari.

Saya mendapat foto yang memperlihatkan nasib dua ekor bekantan (nasalis larvatus) dan seekor monyet ekor panjang (macaca fascicularis) tewas terkapar akibat kalah kuat melawan senapan angin pemburu di sekitar pinggiran Sungai Rangge Sentap, di wilayah Ketapang, Kalimantan Barat.

Rasa iba saya muncul tak kuasa melihat dua bekantan dan seekor monyet ekor panjang tersebut terbujur kaku tak berdaya alias mati. Rasa iba tersebut saya curahkan melalui tulisan ini. Rasa iba saya juga terkait bekantan merupakan salah satu satwa dilindungi dan keberadaannya saat ini terancam punah, demikian juga halnya dengan monyet ekor panjang yang hampir terancam.

Seperti diketahui, bekantan atau orang biasanya menyebut si hidung mancung merupakan salah satu satwa endemik yang hidupnya di sekitar pesisir sungai (tepian sungai) dan hutan rawa gambut.

Adapun sebaran populasi dan habitat bekantan tersebar di beberapa tempat, seperti di Kalimantan/Borneo, Brunai dan Malaysia.

Sejak tahun 2000, badan konservasi memasukan bekantan sebagai satwa dilindungi dan memasukan dalam status Endangered (terancam punah), Bekantan juga masuk dalam daftar CITES sebagai Apendix I (tidak boleh di perjualbelikan/diperdagangkan baik nasional maupun international).

Menurut data tahun 2008, diperkirakan tinggal tersisa sekitar 25000 ekor atau dapat dikatakan jumlahnya semakin menurun drastis dari tahun ke tahun sejak tahun 1987 yang jumlahnya mencapai 260.000 ekor." (sumber : Tribunnews Pontianak)

Sahabat Bekantan Yakin Bisa Lestarikan Maskot Kalsel

Minimnya perhatian terhadap hewan Bekantan menggugah hati sejumlah remaja untuk ikut mengembangkan sekaligus menjaga hewan endemik khas banua itu dari kepunahan.
Sahabat Bekantan
Oleh sebab itulah remaja yang tergabung dalam Sahabat Bekantan itu membentuk komunitas.
Sahabat Bekantan adalah merupakan komunitas pecinta Bekantan Indonesia yang didirikan oleh pusat studi dan konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.

Ketua Sahabat Bekantan, Agustina Ambar Pertiwi, mengatakan komunitas ini dibentuk pada November 2013 lalu dalam rangka membantu pemerintah terhadap perlindungan Bekantan di Kalimantan Selatan.

"Lalu Biodiversitas Indonesia Kalsel membuat program Sahabat Bekantan  dengan misi Save Our Mascot," tandas Alumni Unlam Jurusan Pendidikan Biologi ini.

Program ini bertujuan melakukan sosialisasi untuk perlindungan dan pelestarian Bekantan, Pencegahan dan menghentikan perburuan liar serta perdagangan Bekantan dan kegiatan konservasi yang difokuskan di Pulau Bakut, Barito Kuala.

Selain itu, kata dia, komunitas ini berguna mensosialisasikan sekaligus memperjuangkan kelestarian "Si Pemalu" yang kini populasinya semakin menurun.

Kehadiran Sahabat Bekantan tentunya sangat diharapkan untuk membantu upaya pelestarian hewan yang telah ditetapkan sebagai maskot banua.

Publikasi Tribunnews : http://banjarmasin.tribunnews.com/2014/02/07/sahabat-bekantan-yakin-bisa-lestarikan-maskot-kalsel-ini

Rabu, 26 Maret 2014

Sahabat Bekantan Indonesia

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa endemik pulau Kalimantan yang telah ditetapkan sebagai fauna maskot provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan SK Gubernur Kalsel No. 29 Tahun 1990 tanggal 16 Januari 1990. Sayangnya keberadaan "Si Pemalu" ini kini semakin terancam akibat menyusutnya habitat, perburuan serta perdagangan satwa. Status konservasi Bekantan (Nasalis larvatus) oleh IUCN Redlist sejak tahun 2000 dimasukkan dalam status konservasi kategori Endangered (Terancam Kepunahan) setelah sebelumnya masuk kategori “Rentan” (Vulnerable; VU). Bekantan juga terdaftar pada CITES sebagai Apendix I  atau tidak boleh diperdagangkan secara internasional.
Sahabat bekantan
Sahabat Bekantan (Brosur1)

Duta bekantan
Sahabat bekantan (Brosur2)

Keprihatinan ini mendorong Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) untuk mendirikan Komunitas Sahabat Bekantan Indonesia (SBI). Komunitas ini dibentuk dalam rangka membantu pemerintah dalam upaya perlindungan Bekantan di Kalimantan Selatan. Guna menjalankan misi menyelamatkan fauna maskot provinsi Kalimantan selatan ini, Sahabat Bekantan menunjuk Ambar Pertiwi sebagai Duta Bekantan. 

Duta Bekantan sendiri dikukuhkan oleh Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soenjoto M. Sc, penasehat Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia pada 16-17 November 2013 di saksikan oleh Kementrian Negara Lingkungan Hidup, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan serta pejabat pemerintah. 

Agar Misi “Save Our Mascot“  bisa terealisasi Sahabat Bekantan menggalakan upaya sosialisasi, perlindungan habitat serta pengehentian perburuan Bekantan. Sedangkan kegiatan konservasinya sendiri di pusatkan di Pulau Bakut – Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Seminar Lingkungan serta observasi Bekantan adalah kegiatan rutin yang di laksanakan Sahabat Bekantan khususnya di akhir pekan. Misi menyelamatkan Bekantan dari ancaman kepunahan memang bukanlah pekerjaan mudah. Selain dengan menjalin kemitraan, dukungan para relawan sangat diharapkan untuk membantu terwujudnya misi "Selamatkan Maskot Kita".