River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Sabtu, 08 Oktober 2016

DONATION PROGRAM

Sahabat Bekantan Program is a program of Sahabat Bekantan Indonesia Foundation to raise funds from society to increase awareness of protection and conservation of proboscis monkey. As we know, proboscis monkey is the endemic animal that is protected by the government, because proboscis monkey is listed by IUCN as endangered species and categorized by CITES as Apendix 1. Every year the proboscis monkey population decrease due the habitat loss, forest fire and illegal trade.

Everybody can join us, just for IDR 100.000 per month of donation. Every donation will used for proboscis monkey conservation activities in short and longterm, such as rescue, patrol area, education about proboscis monkey conservation and restoration of their habitat.

Every donors that has joined us will get a merchandise and bekantan news bulletin every 2 months, and an appreciation certificate of proboscis monkey conservation.
Donation transfer through Bank account of BNI - 0339933396 - Sahabat Bekantan Indonesia

PROGRAM INTERNSHIP - Mahasiswi TU Dresden Jerman Ikuti Internship Di SBI

Sahabat Bekantan Indonesia - Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia - Universitas Lambung Mangkurat Bangun Kemitraan Dengan TU Dresden University Germany.



Dalam rangka penelitian pengembangan ekosistem lahan basah, untuk konservasi bekantan (Nasalis larvatus) yg merupakan primata endemik Kalimantan dan juga ikon provinsi Kalimantan Selatan yang saat ini keberadaannya terancam punah oleh kerusakan hutan, terutama hutan lahan basahnya yang menjadi habitat utama bekantan.
Baru- baru ini Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia - Universitas Lambung Mangkurat ( ULM ) melalui Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bangun kemitraan dengan TU Dresden University Germany. Melalui program internship, TU Dresden University mengirimkan mahasiswinya untuk magang, sekaligus meneliti bekanta di Pusat Penyelamatan Bekantan di bawah naungan Pusat Studi &
Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia melalui Sahabat Bekantan Indonesia yang merupakan binaan Universitas Lambung Mangkurat, sejak 5 - 30 September 2016.

" Kemitraan yang kami bangun dengan TU Dresden University - Germany, terutama program internship ini juga merupakan bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi, baik dibidang Pendidikan, Penelitian maupun Pengabdian Masyarakat. Saat ini kami menerima mahasiswi TU Dresden University yang melakukan magang, dan menjadi asisten dosen di Laboratorium Biologi ULM serta Laboratorium Riset Bekantan di Pusat Penyelamatan Bekantan ", kata Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd., Ketua Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia, yang juga dosen Fakultas Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat.

Mary Ann Bellinda Davenport - mahasiswi cantik dari fakultas biologi TU Dresden University ini selama satu bulan berada di Universitas Lambung Mangkurat dan  Pusat Penyelamatan Bekantan. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. H. M. Arief Soendjoto, M.Sc., selaku penasehat Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia yang juga Guru Besar dari Universitas Lambung Mangkurat, serta  Prof.Dr.Klaus Reinhardt - Guru besar fakultas biologi TU Dresden University - Germany. Pada kesempatan ini Mary juga melakukan penelitian tentang bekantan dengan judul " A Comparison of Daily Activity of Proboscis Monkeys in Conservation Area Bakut Island and in Sahabat Bekantan Indonesia Rehabilitation Center ". 

Sementara itu Rektor Universitas Lambung Mangkurat Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si.,M.Sc,sangat menyambut baik atas kemitraan yang dibangun selama ini oleh Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia dengan pihak perguruan tinggi di luar negeri, seperti dengan TU Dresden University, yang merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jerman melalui program internship ini, sesuai dengan program Tridharma Perguruan Tinggi  Universitas Lambung Mangkurat. Harapan kedepan ini bisa lebih ditingkatkan lagi, sekaligus dapat dijadikan salah satu kredit poin dalam peningkatan akreditasi ULM kita yang sedang berlangsung.

Sejak didirikan tahun 2013 lalu Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia melalui Program Pengembangan Ekosistem Lahan Basah dalam Rangka konservasi Bekantan di Kalimantan Selatan telah menerima lebih kurang 50 orang asing dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri melalui program internship maupun volunteer. Pada umumnya mereka dari Australia, Kanada, Inggris, Amerika, Perancis dan Jerman

Sabtu, 20 Agustus 2016

SBI Peringati Hari Konservasi Tahun 2016

Bekantan.org - Dalam Rangka memperingati Hari Konservasi, 10 Agustus 2016 - Pk. 10.00 - 16.00 Wita. Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia, menyelengarakan kegiatan Dialog Interaktif " Konservasi Bekantan " bersama Kompas TV di ruang terbuka Pusat Penyelamatan Bekantan. Pembicara dr Kementerian L&H - BKSDA Kalsel, SBI & Pemerhati Konservasi dari Kanada serta Australia.
Dialog interaktif Konservasi Bekantan
Penanaman Pohon Rambai


Pelepasliaran Satwa dilindungi
Selain kegiatan dialog interaktif, peringatan hari konservasi ini juga di isi dengan beberapa kegiatan lainnya seperti pemaparan hasil penelitian Bekantan di Pulau Bakut dan Pulau Curiak, Penanaman Pohon Rambai serta Pelepasliaran satwa dilindungi.

Selasa, 14 Juni 2016

Lagi, Bekantan di Bunuh dan dipertontonkan

Bekantan.org - Belum hilang dari ingatan kita kasus Novtamaputra yang mendapat kecaman dari masyarakat khususnya pengguna media sosial lantaran mengunggah foto seekor Bekantan hasil buruan di akun instagramnya. 


Kini kasus serupa kembali terjadi, pemilik akun facebook Uchu 'adam Doang mengunggah foto seekor Bekantan yang diduga hasil buruan. Dalam foto tersebut tampak beberapa orang sedang berfoto dengan seekor Bekantan yang diperkirakan sudah mati. 


Seperti dilansir dari newsdetik.com, belakangan diketahui ke enam orang yang ada di foto tersebut adalah  "Adam (dalam gambar bertopi koboi hitam dan yang mengupload foto), Apri (dalam gambar telanjang dada bercelana merah), Ato (dalam gambar berkaos putih celana biru), Inal (dalam gambar memakai topi terbalik berkaos hijau), Intat (dalam gambar telanjang dada bercelana hitam), dan, Bayong (dalam gambar berjaket bergaris putih), kesemuanya berasal dari Dusun Semantir, Desa Mekar Sekuntum, Kec. Galing, Kab. Sambas," jelas Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Sustyo Iriono, Jumat (10/6/2016).

Mengetahui hal ini,  tim BKSDA bersama personel Reserse dan Intel Polsek Teluk Keramat, Sambas melakukan penelusuran dan melacak keberadaan ke enam pelaku perburuan primata endemik yang hanya ada di pulau Kalimantan tersebut. 

Setelah kurang lebih sepekan akhirnya BKSDA Kalbar berhasil mengamankan ke enam pelaku. Sebagaimana dilansir dari halaman facebook BKSDA Kalbar ;

"Kabar Terkini (Selasa, 14 Juni 2016) dari Kepala BKSDA Kalimantan Timur : Ahamdullilah-Puji Tuhan, Sekitar pukul 11 Wita ke-6 (enam) orang pelaku penganiayaan terhadap satu individu Bekantan (Nasalis larvatus"

Mereka ditangkap disalah satu perusahaan perkayuan sektor Senoni, Desa Lebak Silong, Kecamatan Sebuluh, Kabupaten Kutai Kertanegara.  Berdasarkan pengakuan mereka, satwa tersebut dibunuh dan dikonsumsi.

Saat ini mereka diamankan untu diperiksa/ disidik lebih lanjut oleh PPNS di Mako SPORC Brigade Enggang, dengan tetap berkoordinasi dengan Polres dan Kejaksaan setempat. Barang Bukti sementara berupa HP dan senjata tajam.

Kita berharap kedepan semoga tidak ada Novtama dan Uchu berikutnya. Bagaimanapun menyakiti, dan memperlakukan hewan secara tidak pantas bukanlah hal yang dibenarkan, terlebih-lebih mempertontonkannya. Apalagi Bekantan (Nasalis larvatus) adalah hewan yang dilindungi tidak saja secara hukum nasional tetapi juga internasional.

Kamis, 02 Juni 2016

Stop Perdagangan Satwa Liar

Sahabat Bekantan Indonesia - Masih maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar khususnya Bekantan membuat Amalia Rezeki Ketua Sahabat Bekantan Indonesia semakin gencar melakukan sosialisasi. Termasuk saat menjadi pembicara pada Seminar Hari Lingkungan Hidup Dunia 2016 di Aula Sasangga Banua Pemprov. Kalsel, Kamis (2/6/2016) kemarin. 

Dalam paparannya Amalia menegaskan, bahwa bekantan adalah satwa langka dan dilindungi undang-undang. Acaman hukumannya tidak main-main bagi yang memburu dan memperjual belikannya adalah kurungan penjara dan denda seratus juta rupiah. 

Amalia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak memburu satwa endemik maskot Provinsi Kalimantan Selatan ini hanya karena masih percaya mitos misalnya dagingnya dikonsumsi untuk obat kuat lelaki. Hal tersebut menurutnya sangat memprihatinkan oleh karenanya Ia mengajak peserta seminar yang berasal dari berbagai daerah di Kalsel untuk turut menjadi relawan dalam mensosialisasikan perlindungan terhadap Bekantan dari perusakan habitat, perburuan dan perdagangan.


Selain Amalia dari Sahabat Bekantan Indonesia, dan Syahbuddin dari STKIP PGRI seminar Lingkungan Hidup 2016 yang bertemakan "Stop Perdagangan Satwa Liar, Selamatkan Keanekargaman Hayati Indonesia" juga menghadirkan pembicara tamu dari luar negeri yakni Alastair Galpin dari University of Auckland. 

Dalam kesempatan tersebut, Mr Al (sapaan Alastair Galpin), mengingatkan masyarakat Indonesia untuk tidak serakah terhadap alam. Banyak perbuatan manusia yang saat ini tidak ramah dengan lingkungan misalnya masih maraknya penggunaan kantong plastik, eksploitasi yang berlebihan dan alih fungsi habitat. Al juga mengingatkan agar manusia hanya mengambil seperlunya saja dari alam. " Take What Only You Need From Nature" tegasnya.