River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Rabu, 07 Maret 2018

Amalia Rezeki dan Upaya Penyelamatan Bekantan

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sosok Amalia Rezeki bukanlah sosok asing lagi di Kalimantan Selatan. Kiprahnya di dunia pelestarian khususnya satwa endemik Kalimantan, bekantan sudah tidak perlu ditanya. Amel, sapaan akrabnya mengaku sudah dikenalkan dengan binatang khas Kalimantan ini sejak dari kecil.

Berikut cuplikan wawancara Banjarmasin Post dengan Amalia Rezeki:

Anda sekarang lebih dikenal sebagai aktivis di bidang konservasi hewan khususnya Bekantan, apa yang melatarbelakangi Anda terjun di bidang ini?
Sebenarnya sudah dari kecil dikenalkan ayah sama bekantan. Dulu seringlah dibawa jalan ke taman maskot, depan kantor Banjarmasin Post. Setelah itu waktu kuliah, penelitian di akhir masa perkuliahan mendapati sebuah fakta, bahwa bekantan, satwa yang menjadi ikon Provinsi Kalimantan Selatan dan sedang berada diambang kepunahan, justru tidak mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah daerah. Lalu saya berinisiatif mendirikan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).


Apa saja yang sudah dikerjakan terkait konservasi Bekantan?
Sebenarnya banyak. Sudah beberapa kali kegiatan kami lakukan dalam upaya pelestarian Bekantan. Tidak hanya kami sendiri tapi banyak menggandeng berbagai pihak, mulai dari kepolisian, pemerintah daerah dan lainnya. Saat ini kami juga dirikan basecamp sebagai tempat transit Bekantan sebelum dilepasliarkan.

Menyelamatkan bekantan bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu ia menjalin kemitraan dengan berbagai pihak khususnya dengan lembaga pemerintah, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, melalui BKSDA Kalimantan Selatan untuk bersama-sama berkontribusi melestarikan bekantan yang juga merupakan satwa endemik Kalimantan yang saat ini masuk dalam daftar merah “endangered species” oleh lembaga konservasi internasional IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dan masuk dalam kategori appendix I oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), sebagai satwa yang terancam punah.

Apa saja tantangannya?
Tidak mudah mengubah mindset seseorang untuk peduli terhadap lingkungan khususnya pelestarian bekantan itu sendiri, untuk itulah kami melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Betapa pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati, terlebih bekantan yang merupakan spesies kunci, punahnya spesies kunci akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang berdampak pada kehidupan manusia.

Project apa yang saat ini sedang dikerjakan?
Kami sedang membangun Pusat Penyelamatan Bekantan, yang mungkin merupakan satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia. Kemudian kita juga dirikan Sekolah Konservasi, pendidikan non formal yang fokus dalam pendidikan dan pelatihan di bidang konservasi.

Disamping itu, dalam rangka mengembangkan pariwisata daerah, kita juga menggagas berdirinya ekowisata konservasi bekantan di kawasan Pulau Bakut dan sekitarnya yang saat ini cukup mendunia dengan banyaknya kunjungan wisatawan asing untuk menyaksikan ekowisata konservasi bekantan tersebut.

Pengalaman menarik terkait kegiatan Anda sekarang?
Banyak pengalaman menarik baik suka maupun duka ketika melakukan kegiatan pengamanan kawasan konservasi dan melakukan rescue-evakuasi satwa yang dilindungi. Salah satunya, ketika kami menyelamatkan bekantan yang menjadi korban kebakaran hutan, dimana kami harus melakukan evakuasi beberapa ekor bekantan yang terluka akibat sekujur tubuhnya terbakar, dan ini memerlukan penanganan khusus baik secara medis maupun terapi psikologisnya untuk menghilangkan trauma bekantan yang cukup tinggi.

Kegembiraan yang luar biasa bagi kami ketika kami dapat menyelamatkan bekantan dan merawatnya dengan baik dan melepasliarkannya kembali ke alam. Sering, kami terduduk tak menyangka dan sujud syukur atas keberhasilan upaya penyelamatan bekantan tersebut, karena kami yakin tanpa sentuhan tangan Allah bukanlah hal yang mudah untuk menyembuhkan bekantan yang terluka dan mengalami trauma berat.

Apa yang masih jadi cita-cita, khususnya terkait bidang yang Anda geluti sekarang?
Cita-cita dan harapan kami ke depan di bidang konservasi bekantan ini, tentunya dengan berdirinya Sanctuary alami yang saat ini dalam proses pembangunan bisa segera terwujud, demi tercapainya upaya peningkatan populasi bekantan yang saat ini terancam punah. Dan ini membutuhkan semangat kebersamaan dari semua pemangku kepentingan.

Kemudian, ada satu cita-cita lain yakni berdirinya kawasan ekowisata konservasi bekantan yang dikelola secara profesional yang diharapkan kedepan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan asli daerah maupun perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Kegiatan atau aktivitas apa saja yang digeluti lainnya saat ini?
Saat ini saya mengajar sebagai dosen muda di Pendidikan Biologi, FKIP. Ya ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan adik-adik di kampus, khususnya di bidang penyelamatan lingkungan satwa endemik Kalimantan, Bekantan. (rmd)


Biofile
Nama: Amalia Rezeki SPd MPd
Tanggal Lahir : Banjarmasin, 25 Februari 1988
Orangtua: H Ambran Asit-Hj Helyati
Pekerjaan: Dosen S-1 Pend. Biologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Pendidikan: 
- SD Negeri Karang Mekar2 Banjarmasin 1994 - 2000
- MTsN Mulawarman 364 Banjarmasin 2000 - 2003
- MA Negeri 1 Banjarmasin 2003 - 2006 
- S1 Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Lambung Mangkurat 2006-2010
- S2-Pendidikan Biologi,Program Pascasarjana ULM 2012-2013

Motto Hidup :
- “KITA MELAKUKANNYA KETIKA ORANG LAIN SEDANG MEMIKIRKANNYA” .
- "DEDIKASI BUKAN UNTUK SEBUAH APRESIASI, TETAPI MEMAKNAI KEIMANAN SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI , TERUSLAH BERBUAT DAN BERBAGI UNTUK KEBAIKAN"



Judul asli : Amalia Rezeki Prihatin Nasib Bekantan 
sumber : Tribunnews

Bekantan Eco Tours

BEKANTAN ECO TOURS is a licensed tour guide under the SBI foundation, based in South Kalimantan. Our business accepts conservation principles and we work hard to support the Bekantan Conservation Program and to promote environmental understanding in our communities. Our advantage to be donated to the preservation of the bekantan.

Trip - Bekantan Islands and Bekantan Rescue Center. Start from Banjarmasin by speed boat - 150 USD for max 5 person.

1. 08.00 - 12.00 Am
2. 14.00 - 18.00 Pm

we can see wild bekantan (Proboscis monkey) living on the island along the Barito river as well as the local wisdom of banjar people on the edge of the river.
if lucky we can watch the sunset.

we can also see how the rescue effort bekantan in the Bekantan Rescue Center.





Buku Profil Sahabat Bekantan Indonesia


 













Jumat, 05 Mei 2017

PROBOSCIS MONKEY CONSERVATION

PROBOSCIS MONKEY CONSERVATION
Sahabat Bekantan Indonesia ( SBI ) Foundation is a nonprofit organization registered under Indonesian Law, dedicated to the conservation of wild Bekantans and their habitat. Founded by Amalia Rezeki a biologist conservation Lambung Mangkurat University at Banjarmasin and associates in 2013.

Bekantan - Proboscis Mongkey is an endemic spesies in Kalimantan - Indonesia, it is also the mascot of South Kalimantan Province. According to IUCN (International Union for Conservation Nature and Natural Resources), the conservation status of Bekantan is endangered and Appendix I by CITES.
" help us in our mission to save bekantans and their habitat ". We need your help to continue its work.
And we need some people who care for donating to reach our target for bekantans care, recovery and release back to the forest! Who wants to help get us over the line?
Sahabat Bekantan Indonesia Foundation - BNI 033 99 333 96 an.Sahabat Bekantan Indonesia.

NATGEO - Watch Monkeys Swim for Their Supper in Rare Video


Watch Monkeys Swim for Their Supper in Rare Video
Indonesia’s proboscis monkeys are as at home in the water as they are in the trees- an unusual combination in primates
Proboscis monkey might be best known for their giant, bulbous noses, but scientists are sniffing out another of these monkey’s unique attributes: their swimming abilities.
To discover more about these water-loving primates, conservation biologist Amalia Rezeki recently spent a few weeks on Indonesian Borneo’s Bakut island filming the animal and their behavior in mangrove forests. (read about swimming pings and other surprising animals that love water).
“The main primates in the area that people think of are orangutans. We thought that a video about these monkey’ swimming abilities would help bring some positive attentions.” Says Rezeki. Who works with Sahabat bekantan Indonesia, a nonprofit that works to protect proboscis monkey, also called bekantan.
Due to loss of their mangrove habitat and hunting, proboscis monkey are listed as endangered, with fewer 7.000 animal left in the wild.
Rezeki’s expedition discovered several monkeys on the island, suggesting the species is still hanging on.
Natural Swimmers
Proboscis monkey likely took to the water becaouse ”it’s hard to live in a swamp without being able to swim.” Says Lee Harding, chief scientist at SciWrite Environmental Sciences and an expert in proboscis monkey (read more about mangroves, forest the tide, in National Geographic magazine).
For these primates, swimming serves a practical function: to get food. The animal have to travel fat and wide to find the young, tender leaves that make up the bulk of their diet-and swimming gets the job done faster.
Propelled by partially webbed fingers and toes, the monkeys can even swim underwater-although no one knows exactly how long they can hold their breath, according to Liz Bennett, vice precident of species conervation an the Wlidlife Conservation Society in New York city. (read more about the monkey with the outlandish nose).
“The extent that they swimm is quite unusual, especially since its close relative don’t swim,” she adds.
Monkey Business
Harding, who wasn’t involved in the recent expedition, has long been fascianated by the species, which live in harems with one territorial male and around eight females. (see an intimate portrait of a proboscis monkey in captivity).
On this first visit to Borneo with his brother several decades ago, they found out the hard way how males mark their territory and intimidate those who encroach on their land.
“This big male, he was in a tree by the river, and he just started urinating on my brother,” Harding says.
But swimming isn’t fun and games for proboscis monkeys. Traveling by water is risky: Crocodiles, phyton, and monitor lizards often prey on the swimming primates.
Vanishing Forest
Another danger to the species is Borneo’s disappearing mangroves. Between one-third and one-half of these forest have already disappeared due to timber harvesting and drainage for oil palm plantation, according to the Mangrove Actions Project. (See more pictures of mangroves from around the world).
More and more of Borneo’s growing population is moving to the same lowland areas where the monkey live.
“That proximity-as well as the animals’ habit of sleeping in exposed tress –makes the animals particularly vulnurable to sport hunters,” Harding says.
Though the goverment has set aside some areas as refuges for proboscis monkeys, they’re still vulnurable to hunting.
“They’re becoming more and more threatened, and humans are their biggest threat.” Says the Wildlife Conservation Society’s Bennett. “We need to do a better job of protecting them.”
Carrie Arnold (November 11, 2016 7;00 PM)