River Safari Cruis

Bekantan are native to the wetland forest. They are living among trees. So while on river safari cruise.

Summer course Program

Proboscis monkey conservation in Bekantan Research Station Curiak Island South Kalimantan

Donation for Bekantan Conservation

WA 0812 5826 2218 (SBI Official) | Paypal ID Saveproboscismonkey| BNI ACC 0339933396

Observation

Observation Proboscis Monkey Habitat in Curiak Island South Kalimantan

Endangered Species

Support and Help Amalia Rezeki and Her SBI Foundation For Bekantan Conservation in South Kalimantan - Indonesia

Rabu, 03 September 2025

Selamatkan Spesies Langka, Indonesia–Kanada Tanam 100 Pohon Ulin di Kalimantan Selatan

Dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia, akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bersama University of Montreal, Kanada, melaksanakan aksi nyata pelestarian lingkungan dengan menanam 100 bibit pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) di kawasan Taman Biodiversitas Hutan Hujan Tropis Lembah Bukit Manjai, Mandiangin Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Tanam Ulin


Penanaman berlangsung pada Minggu dan dilakukan secara simbolis oleh Valerie Preseault dari Universitas Montreal, disaksikan serta diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi ULM di bawah arahan Dr. Amalia Rezeki dan Luthfiana Nurtamara, M.Pd.

“Alhamdulillah, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami bahwa tim akademisi dari Kanada bisa turut serta dalam rangkaian peringatan Hari Bumi Sedunia di Kalimantan Selatan,” ujar Amalia di Banjarmasin.

Amalia, yang akrab disapa Amel, menekankan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menanam pohon, tetapi juga mengajak masyarakat menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya menjaga bumi. Ia mendorong mahasiswa untuk menyebarkan semangat pelestarian lingkungan melalui media sosial, agar semakin banyak pihak terinspirasi melakukan aksi serupa.

Pemilihan pohon ulin sendiri bukan tanpa alasan. Ulin merupakan spesies langka yang sudah masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Pohon ini memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari penyedia habitat bagi satwa liar hingga berperan sebagai penyerap karbon dioksida yang signifikan dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Bibit pohon langka tersebut berasal dari Botanical Private Garden milik Chendrawan Sugianto, seorang pegiat konservasi pohon langka di Banjarmasin sekaligus pemilik PT Bandangan Tirta Agung, perusahaan pengolahan air murni.

Sementara itu, Valerie Preseault mengaku sangat senang dapat terlibat dalam aksi penanaman pohon ulin ini. Baginya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus pertama kalinya ikut serta dalam kegiatan Hari Bumi di Indonesia. Sebelumnya, Valerie juga sempat berbagi pengetahuan dalam kuliah tamu hukum pidana di kampus ULM Banjarmasin.

Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April menjadi momen refleksi global akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan seluruh ekosistem yang ada di dalamnya.

SBI Tanam 4.000 Bibit Rambai untuk Pulihkan Mangrove Pulau Curiak

Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) kembali melakukan upaya pemulihan ekosistem mangrove dengan menanam sebanyak 4.000 bibit pohon rambai (Sonneratia caseolaris) di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Tanam Mangrove


Founder SBI Foundation, Dr. Amalia Rezeki, menyampaikan bahwa kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari PT Toyota Astra Motor (TAM) bersama mitra Benih Baik yang turut hadir dari Jakarta. Menurutnya, langkah ini menjadi kontribusi nyata dalam mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus menjaga kelestarian lahan basah yang juga menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar sungai.

Selain itu, Pulau Curiak dikenal sebagai habitat bekantan, primata endemik Kalimantan yang statusnya dilindungi oleh Undang-Undang. “Kami sangat mengapresiasi komitmen TAM yang konsisten mendukung konservasi bekantan dan rehabilitasi mangrove riparian di Pulau Curiak,” ucap Amel, sapaan akrabnya.

Amel, yang juga dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menjelaskan bahwa mangrove memiliki peran strategis dalam menyerap emisi karbon. Kapasitas penyimpanan karbon pohon mangrove bahkan tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan hutan tropis pada umumnya.

Pada kesempatan yang sama, SBI juga melaksanakan kegiatan Sekolah Konservasi yang diikuti 25 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Selatan. Para peserta belajar mengenai konservasi keanekaragaman hayati, melakukan pengamatan satwa langsung di alam, hingga ikut menanam pohon rambai.

Perwakilan TAM, Suranywaty Tjandrasa, mengaku terkesan dengan perkembangan program restorasi mangrove dan konservasi bekantan di Pulau Curiak. “Kami berharap inisiatif ini terus berlanjut, karena bekantan adalah ikon fauna Kalimantan Selatan dan hanya hidup di Kalimantan,” ungkapnya.

Sebelumnya, pada 2023 TAM bersama SBI dan Benih Baik juga telah menanam 11.000 bibit rambai yang kini tumbuh subur dan menjadi bagian penting dari ekosistem setempat, termasuk sebagai sumber pakan bekantan.

Sementara itu, Co-Founder Yayasan Benih Baik Indonesia, Khristiana Anggit Mustikaningrum, menilai pembangunan ekosistem di Pulau Curiak sangat menginspirasi. Ia juga menekankan pentingnya program sekolah konservasi sebagai sarana menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pelestarian lingkungan.

Senin, 01 September 2025

25 Mahasiswa Ikuti Sekolah Konservasi Alam Sahabat Bekantan Indonesia


Barito Kuala, Kalsel
– Global Nature Conservation School Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) kembali menggelar Sekolah Konservasi Alam pada Jumat, 29 Agustus 2025 di Stasiun Riset Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kegiatan ini diikuti sekitar 25 mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan komunitas pecinta alam di Kalsel.

Sekolah Konsrvasi

Koordinator Sekolah Konservasi, Dewita, menjelaskan bahwa kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Dr. Amalia Rezeki, seorang biologist conservation dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus pendiri Sahabat Bekantan Indonesia, serta Ramadhan Jayusman, S.Si, perwakilan dari Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark.

Menurut Dewita, Sekolah Konservasi merupakan wahana edukasi yang memfasilitasi proses pembelajaran untuk membangun semangat kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Program ini diberi nama Global Nature Conservation School, yang digagas oleh Dr. Amalia Rezeki. Ia dikenal sebagai akademisi ULM dan praktisi konservasi yang telah lama mengabdikan diri pada pelestarian bekantan, primata endemik sekaligus maskot Kalimantan Selatan.

“Melalui sekolah konservasi ini, kami ingin menanamkan spirit peduli lingkungan kepada generasi muda, agar mereka bisa menjadi bagian dari gerakan pelestarian alam yang berkelanjutan,” tutur Dewita.

Terselenggaranya kegiatan ini tidak lepas dari dukungan PT Toyota Astra Motor (TAM) dan mitra Yayasan Benih Baik dari Jakarta. Kolaborasi ini memperkuat komitmen berbagai pihak dalam mendukung upaya konservasi alam di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, Khristiana Anggit Mustikaningrum, Co-Founder Yayasan Benih Baik Indonesia, menekankan pentingnya peran sekolah konservasi dalam mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

“Anak-anak muda adalah kunci masa depan. Melalui sekolah konservasi, mereka bisa belajar langsung dari para pakar sekaligus terlibat dalam aksi nyata menjaga bumi,” ungkapnya.

Dengan semangat kolaborasi dan edukasi, Sekolah Konservasi Alam diharapkan mampu melahirkan agen-agen muda konservasi yang siap menjaga warisan alam Kalimantan Selatan untuk generasi mendatang.

Minggu, 22 Juni 2025

Sekolah konservasi di Pulau Curiak

Banjarmasin (ANTARA) - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar sekolah konservasi di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala.

"Sekolah konservasi diikuti 50 mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Barito Kuala," kata Founder SBI Foundation, Amalia Rezeki di Banjarmasin, Rabu

Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, berbagi pengalaman dan berharap generasi muda dapat mendukung program pemerintah terkait upaya perbaikan lingkungan dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Terutama melindungi habitat alami satwa liar yang berada di luar kawasan konservasi, khususnya bekantan yang merupakan maskot kebanggaan Provinsi Kalimantan Selatan.

"Kita harus memuliakan alam secara harmoni melalui pemulihan ekosistem lahan basah dan hutan tropis lainnya secara terpadu berbasiskan penguatan kapasitas masyarakat," ujarnya.

Peraih Youth ASEAN Eco Champion Award 2019 di Kamboja ini menekankan upaya menyelamatkan hutan dan keragaman hayati berarti telah menyelamatkan peradaban manusia.

Koordinator aksi lingkungan sekolah konservasi, Dewita menjelaskan kegiatan itu mencakup penanaman bibit mangrove di kawasan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak.

Temasuk aksi bersih-bersih sampah plastik di area sungai sekitar dan aksi konservasi keragaman hayati.

Dia menyebut sekolah konservasi merupakan bagian dari upaya generasi muda turut dalam memulihkan ekosistem mangrove sekaligus mendukung agenda keberlanjutan lingkungan secara berkelanjutan.

Sementara itu Ketua IMM Barito Kuala Nadia Afsari mengatakan kegiatan tour de ecology IMM dengan tema Wujudkan Moralitas Lingkungan Beroriantasi Keislaman yang dikemas dalam sekolah konservasi tersebut dalam rangkaian Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang diperingati setiap 22 Mei.

"Kami ingin meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya keanekaragaman hayati bagi keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan di bumi," ucapnya.

Hadir pada acara tersebut, Helda, sebagai Duta Bekantan dan Raudah Putri selaku Pariwisata Kalsel 2024, serta Ramadhan Jayusman dari Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark sebagai narasumber.

Sumber artikel : https://www.antaranews.com/berita/4863725/sahabat-bekantan-indonesia-gelar-sekolah-konservasi-di-pulau-curiak


Minggu, 18 Mei 2025

Dr. Amalia Rezeki sambut wisatawan kapal pesiar Australia di Stasiun Riset Bekantan

Sekitar 46 wisatawan minat khusus mancanegara dari berbagai negara, seperti Australia, Switzerland dan Amerika Serikat yang menaiki Kapal Pesiar Coral Geographer, Selasa (7/1) berkunjung di Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak,  Kalimantan Selatan untuk melihat sanctuary alami Bekantan (Nasalis larvatus) yang dikelola oleh Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) foundation. 

Dr. Gary L.Shapiro - President and Co-Founder Orangutan Republic Foundation

Kedatangan rombongan wisatawan mancanegara di Stasiun Riset Bekantan yang juga merupakan kawasan destinasi Site 8 Rute Barat Geopark Meratus ini, disambut oleh Dr. Amalia Rezeki founder SBI foundation bersama beberapa crewnya. 

Dikatakannya, ia sangat senang, kawasan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak dikunjungi oleh beberapa wisatawan minat khusus, yang peduli dengan lingkungan dan satwa liar. 

“Mereka sangat tertarik dan appreciate dengan story telling tentang perjuangan kami dalam upaya pelestarian bekantan dan memulihkan ekosistem lahan basah di kawasan Pulau Curiak," jelas Amel sebutan akrab Dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat.

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Oswald Huma - Executive Director at Signature Papua Tours and Travel, yang mendampingi wisatawan Kapal Pesiar Coral Geographer.

Dia mengaku terkesan dengan pengelolaan kawasan Pulau Curiak. Story telling tentang histori kawasan dari upaya kawan kawan NGO Sahabat Bekantan Indonesia dalam menyelamatkan bekantan dan pemulihan ekosistemnya dilakukan dengan baik.

Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan minat khusus yang berkunjung.

"Saya sebagai orang tours and travel sangat berminat menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata minat khusus secara berkelanjutan," ucapnya.

Sementara itu peneliti senior orangutan Dr. Gary L.Shapiro - President and Co-Founder Orangutan Republic Foundation berkebangsaan Amerika Serikat, dengan berbahasa Indonesia yang cukup fasih, mengaku senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang bekerja disini dengan semangat yang kuat. 

"Saya harap banyak orang yang akan datang dan support yayasan ini, dan punya visi yg sama," jelasnya.

Pekerjaan pionirnya di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan, dari tahun 1978 hingga 1981, meliputi pengajaran bahasa isyarat kepada orangutan pasca direhabilitasi dihabitat aslinya.

Sedangkan Anne - guest lecture - dari coral expedition, mengatakan sangat terkesan atas kunjungannya kali ini di Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak dan ia sangat menyayangkan waktunya terlalu pendek.

“I think this place is wonderful, it's really inspirational what has been done in a really short time," ucapnya.

Wisatwan yang berkunjung ke Pulau Curiak diajak oleh Amel berjalan ditrek titian ulin mengelilingi kawasan restorasi mangrove rambai (Sonneratia caseolaris), sambil mengamati perilaku bekantan, serta satwa liar khas lahan basah lainnya. 

Kemudian berkunjung ke green house pembibitan pohon mangrove, sekaligus diajak berpartisipasi menanam pohon mangrove.

Artikel Asli : https://kalsel.antaranews.com/amp/berita/447002/dr-amalia-rezeki-sambut-wisatawan-kapal-pesiar-australia-di-stasiun-riset-bekantan

Dr Amalia Rezeki Terima Kunjungan Peneliti dari Utsunomiya University Jepang di Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak

Banjarmasin, Kalimantanpost- Dr Amalia Rezeki, Founder Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) foundation menerima kunjungan delegasi dari Utsunomiya University, Jepang yang dipimping langsung oleh Futoshi Ishiguri, selaku Associate Professor dengan  didampingi Ikumi Nezu dan Hikari Yokohama, serta Prof Sunardi, PhD Kepala LPPM Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Stasiun Riset Bekantan dan Ekosistm Lahan Basah Pulau Curiak, Anjir Muara Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel), Minggu (11/5/2025).

Sahabat Bekantan Indonesia

Kedatangan Futoshi Ishiguri ke Pulau Curiak, untuk melihat langsung stasiun riset yang dikelola oleh SBI dengan bekerjasama ULM dan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala serta melihat bekantan (Nasalis larvatus), primata monyet besar dari dunia lama, yang menjadi ikon Provinsi Kalsel. 

Futoshi Ishiguri, peneliti dari Utsonimya  University, mengatakan sangat tertarik dengan Stasiun Riset Bekantan & Ekosistem Lahan Basah, Serta Upaya pemulihan Ekosistem yang dilakukan Dr Amalia Rezeki bersama timnya

Futohsi Ishiguri


"Tempat ini sangat menarik, karena saya melihat banyak sekali pohon yang ditanam dan pohon-pohon membuat habitat dan mengundang satwa liar. Jadi ini adalah hal yang sangat penting, saya percaya manusia berkontribusi untuk menjaga kondisi ekologi di sini. Jadi, saya sangat tertarik di sini," ujarnya.

Disisi lain, Prof Sunardi, PhD kepala LPPM ULM, mengatakan sangat terkesan melihat Stasiun Riset Bekantan dan luar biasa, baik fasilitasnya maupun ekosistem lahan basahnya yang terjaga dengan baik.

"Saya bersama Prof Futoshi Ishiguri dari Utsunomiya University. Janu sabfat senang Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan ULM memiliki stasiun riset bekantan. Ini sangat penting, untuk menjaga lingkungan kita baik flora maupun fauna yang sebagian hampir punah, dan ini kewajiban kita untuk melindungi," katanya dengan semangat.

Lebih lanjut Prof.Sunardi berjanji Insyaalah bersama Utsunomiya  University akan kolaborasi riset dan mengembangkan apa yang sudah ada di sini, yang sudah diinisiasi dan dipelopori oleh SBI dan ULM.

Artikel asli : https://kalimantanpost.com/2025/05/dr-amalia-rezeki-terima-kunjungan-peneliti-dari-utsunomiya-university-jepang-di-stasiun-riset-bekantan-pulau-curiak



Kagum pada Konservasi Bekantan, Dosen Kanada Jadi Relawan di Kalimantan Selatan

Dosen kriminologi dari Kanada, Valerie Preseault, terpukau oleh upaya konservasi bekantan di Kalimantan Selatan dan menjadi relawan untuk membantu pelestarian primata langka tersebut.

Sahabat Bekantan Indonesia

Seorang dosen kriminologi dari Universitas Montreal, Kanada, Valerie Preseault, mengungkapkan kekagumannya terhadap upaya konservasi bekantan di Pulau Curiak, Kalimantan Selatan. Valerie, yang telah mengagumi bekantan sejak usia 9 tahun, terkesima dengan dedikasi Dr. Amalia Rezeki dan timnya dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove sebagai habitat primata unik ini. Kunjungannya ke Indonesia merupakan puncak dari impiannya selama tiga tahun untuk berkontribusi langsung dalam pelestarian bekantan.

Kepuasan Valerie terlihat jelas saat ia menyatakan apresiasinya terhadap kerja keras Dr. Amalia Rezeki dan timnya. "Saya sangat kagum dan apresiasi yang tinggi atas dedikasi Dr. Amalia Rezeki dan timnya dalam upaya pelestarian bekantan di Indonesia," ujarnya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu lalu. Keinginan kuat untuk berkontribusi pada pelestarian bekantan ini mendorongnya untuk relawan dan membantu sebisa mungkin.

Ketertarikan Valerie pada bekantan, yang juga dikenal sebagai monyet Belanda, telah lama tertanam. Melalui berbagai media, ia terus mengikuti perkembangan informasi seputar primata endemik Kalimantan ini. Pencarian informasi tersebut membawanya menemukan sosok Dr. Amalia Rezeki, seorang ahli konservasi bekantan dari Universitas Lambung Mangkurat, yang kemudian menjadi inspirasi bagi kunjungannya ke Indonesia.

Pengalaman Tak Terlupakan di Pulau Curiak

Selama hampir seminggu, Valerie mengikuti berbagai kegiatan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) di Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak dan Pusat Transit Bekantan. Ia aktif berpartisipasi dalam restorasi hutan mangrove, menanam dan merawat pohon mangrove, serta melakukan monitoring populasi bekantan. Selain itu, Valerie juga terlibat dalam sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat nelayan setempat tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove dan melindungi bekantan.

Pengalamannya di Pulau Curiak bukan hanya sebatas kegiatan konservasi. Valerie juga berbagi ilmu sebagai dosen tamu di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (ULM), memberikan kuliah yang dihadiri sekitar 150 mahasiswa. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga baginya, sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dipadukan dengan berbagai bidang keahlian.

Sebagai President of the comity of admission of OPCQ (Ordre professionnel des criminologues du Québec), Valerie memiliki latar belakang yang berbeda dari bidang konservasi. Namun, kecintaannya pada bekantan telah menghubungkannya dengan Dr. Amalia Rezeki dan membuka kesempatan untuk berkontribusi dalam pelestarian satwa langka ini. Dedikasi dan kerja kerasnya dalam bidang yang berbeda menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat datang dari berbagai latar belakang.

Apresiasi atas Upaya Konservasi Bekantan

Dr. Amalia Rezeki, founder dari Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), menyambut baik kedatangan Valerie. Ia merasa bangga dan senang atas kontribusi sukarela Valerie yang datang dari jauh untuk membantu pelestarian bekantan di Indonesia. Kehadiran Valerie menjadi bukti nyata bahwa upaya konservasi bekantan di Indonesia mendapatkan perhatian internasional dan dukungan dari berbagai kalangan.

Kunjungan Valerie Preseault menjadi inspirasi bagi upaya konservasi bekantan di Indonesia. Kerja sama internasional seperti ini sangat penting untuk menjaga kelestarian primata langka ini dan ekosistemnya. Dukungan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, sangat dibutuhkan untuk memastikan keberhasilan upaya konservasi jangka panjang.

Keberhasilan konservasi bekantan di Pulau Curiak menjadi contoh nyata bagaimana upaya pelestarian satwa langka dapat dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk relawan dari luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu diwujudkan melalui aksi nyata.

Melalui kerja sama dan kolaborasi yang kuat, upaya pelestarian bekantan dan ekosistem mangrovenya dapat terus berlanjut, memastikan kelangsungan hidup primata unik ini untuk generasi mendatang. Semoga kisah Valerie Preseault dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk terlibat dalam upaya konservasi lingkungan.

Baca juga di artikel : https://planet.merdeka.com/amp/hot-news/kagum-pada-konservasi-bekantan-dosen-kanada-jadi-relawan-di-kalimantan-selatan-384681-mvk.html

Sabtu, 09 Maret 2024

Dunia Sambut Gembira Kelahiran Bayi Bekantan Di Stasiun Riset Bekantan - Situs Geopark Meratus

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Awal tahun ini, bertepatan peringatan World Wildlife Day, 3 Maret 2024. Dr Amalia Rezeki founder Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) kembali menyambut kelahiran tiga ekor bayi bekantan, di Stasiun Riset Bekantan di kawasan Pulau Curiak yang juga merupakan situs Geopark Meratus di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Bayi Bekantan di Pulau Curiak

Amel, sapaan akrab Doktor Konservasi Bekantan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini, mengatakan bayi bekantan yang belum teridentifikasi jenis kelaminnya itu lahir dari tiga indukan bekantan betina yang berbeda dari kelompok alpha. Kelahiran bayi bekantan tersebut terjadi dengan rentang waktu satu bulan. Yang pertama lahir akhir bulan januari dan yang kedua serta yang ketiga lahir pada awal bulan maret 2024 ini.

Dua Bayi bekantan di Pulau Curiak

“Alhamdulillah, kelahiran bayi-bayi bekantan ini, adalah merupakan anugerah terindah dari kerja keras SBI yang berupaya memulihkan ekosistem mangrove rambai di kawasan penyangga habitat bekantan yang awalnya hanya 14 individu di tahun 2016, dan kini populasinya bertambah menjadi 46 individu,” jelas Amel dengan gembira, Senin (4/3/2024).

SBI

Sementara itu Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Kalsel menyambut gembira atas kelahiran bayi bekantan di Stasiun Riset Bekantan – Pulau Curiak, dan mengapresiasi upaya mitra binaannya SBI dalam turut mendukung program pemerintah terhadap pelestarian bekantan di Indonesia.

“Saya menyambut gembira atas kelahiran bayi bekantan tersebut. Itu menunjukkan habitat populasi bekantan disana bagus, kondisi pakannya, dan
Kemudian kondisi lingkungannya nyaman, karena bekantan ini jika berada di lingkungan yang tidak nyaman bisa menyebabkan stres,” kata M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si, Plt Kepala BKSDA Kalsel.

Disisi lain, Prof. Tim Roberts dari University of New Castle – Australia, yang namanya diabadikan dikawasan riset dan konservasi bekantan ini ( Camp Tim Roberts ). Ia senang mendengar berita kelahiran bayi bekantan dan mengapresiasi kerja keras tim SBI dalam upaya pelestarian bekantan.

“ Thanks so much for this great news. Very exciting to hear the troop is growing. It is a testament to your hard work. I look forward to seeing you again in Indonesia “, puji Prof. Tim Roberts pada Amel sebagai founder SBI yang mengelola kawasan Camp Tim Roberts.

Sedangkan Prof. Charles Lee, peneliti bekantan dari University of New Castle – Singapure, yang juga ikut terlibat membantu pengembangan Stasiun Riset Bekantan serta upaya pelestarian bekantan. Merasa senang dan bangga bisa turut berkontribusi nyata.

“Congratulations to SBI for giving me such an opportunity to be involved in this life long project. I feel very privileged to contribute only a very small part of this journey,” jelas Prof. Charles Lee. (ful/KPO-3)

Rabu, 05 Juli 2023

Kerja Keras SBI Selamatkan Bekantan dan Habitatnya

Keberadaan satwa liar sering menjadi parameter kondisi lingkungan atau habitat tempat mereka tinggal. Semakin rusak habitat, semakin besar kemungkinan satwa liar berkurang populasinya atau punah.

bekantan

Di Kalimantan Selatan, bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa endemik yang dilindungi dan menjadi maskot daerah tersebut. Primata berhidung mancung dan dikenal pemalu ini berstatus terancam punah (Endangered) terutama akibat kerusakan dan alih fungsi habitat, kebakaran hutan, perburuan liar, dan perubahan iklim.

Kondisi tersebut mendorong Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) untuk menyelamatkan bekantan dan habitatnya di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala. Setelah berjalan hampir sepuluh tahun, jerih payah komunitas ini berbuah manis. Pada Juli 2022, SBI menerima penghargaan Kalpataru 2022 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atas dedikasinya dalam meningkatkan populasi bekantan dan menambah luas lahan hutan mangrove rambai.

Amalia Rezeki

Membeli kembali lahan

SBI didirikan oleh Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia). Sejak awal, komunitas ini mengusung misi ‘Save Our Mascot’ dengan menggalakkan sosialisasi, perlindungan habitat, dan penghentian perburuan bekantan.

Untuk menyelamatkan bekantan dan melestarikan habitatnya, SBI menjalankan tiga program, yakni:

  1. Buy back land atau membeli kembali lahan yang telah atau sempat dialihfungsikan.
  2. Restorasi mangrove rambai.
  3. Pemberdayaan masyarakat. 

Untuk program yang pertama, SBI membeli kembali sejengkal demi sejengkal lahan yang semula merupakan hutan mangrove dan habitat bekantan serta keanekaragaman hayati lahan basah lainnya untuk direstorasi dan ditanami pohon mangrove rambai. Lahan tersebut sempat dibeli oleh pengusaha dan dialihfungsikan menjadi kawasan industri dan pemukiman.

Setelah dilakukan restorasi, luas Pulau Curiak yang semula hanya 2,4 hektare, kini bertambah menjadi 4,01 hektare. Sejak 2015, lahan di seberang Pulau Curiak dihutankan kembali dengan penanaman 10.000 pohon mangrove rambai (Soneratia caseolaris) sebagai zona penyangga habitat bekantan.

Pohon-pohon tersebut tumbuh dengan baik dan kini membentuk pulau delta baru di kawasan Sungai Barito yang sekarang dihuni oleh sekelompok bekantan. Selain sebagai habitat bekantan, hutan mangrove rambai juga dapat menyerap karbon dioksida empat kali lebih banyak dari hutan tropis lainnya.

Di samping itu, SBI juga menyediakan program Adopsi Bekantan. Program ini menyelamatkan bekantan yang tadinya dipelihara oleh masyarakat. Berkat restorasi hutan mangrove rambai dan adopsi bekantan, populasi bekantan di pulau tersebut berangsur-angsur meningkat, dari 14 ekor pada  tahun 2016 menjadi 38 ekor saat ini. Sepanjang 2022, delapan ekor bayi bekantan lahir di kawasan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak dan satu ekor lahir di Bekantan Rescue Center Banjarmasin.

“Menyelamatkan bekantan tidak mungkin tanpa menyelamatkan habitatnya. Untuk itulah, kami tim SBI berusaha sekuat tenaga berupaya memenuhi daya dukung bagi habitat bekantan,” kata Amalia Rezeki, pendiri SBI yang juga dosen Pendidikan Biologi di Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Kembangkan desa wisata

Tidak hanya menyelamatkan bekantan dan habitatnya, SBI juga mengembangkan desa wisata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Desa wisata dibuka dengan memanfaatkan bentang alam kawasan Pulau Curiak serta kearifan lokal masyarakat desa setempat.

Untuk mendukung pengembangan desa wisata tersebut, SBI memberikan berbagai pelatihan kepada masyarakat tentang kepariwisataan dan bisnis pendukungnya, dan membangun Rumah UMKM dengan dukungan dari PT Pertamina. Promosi digencarkan dengan membangun Bekantan Corner di Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarbaru dan berhasil menarik wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri untuk berkunjung.

Dalam menjalankan semua inisiatif tersebut, SBI tidak sendirian. Komunitas ini mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak, di antara ULM, lembaga pemerintah pusat, BUMN, pemerintah daerah, swasta, dan juga media massa.

Apa yang dilakukan oleh SBI merupakan contoh praktik baik yang dapat diadaptasi atau dikembangkan di daerah-daerah lain di Indonesia dalam rangka mendukung upaya penyelamatan satwa liar sekaligus melestarikan lingkungan untuk memitigasi dampak perubahan iklim. Kerja sama atau partisipasi semua pihak, terutama para pemangku kepentingan, merupakan hal penting untuk mendukung inisiatif semacam ini.


sumber  : greennetwork.id

Selasa, 04 Juli 2023

Raih Penghargaan Kalpataru Tahun 2022, Gubernur Kalsel Apresiasi Yayasan SBI

BANJARBARU – Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) berhasil meraih penghargaan Kalpataru tahun 2022, dalam kategori Penyelamat Lingkungan Hidup.

SBI dan Kalpataru

Penyerahan penghargaan dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong, di Jakarta, Rabu (20/7).

Ketua Yayasan SBI, Amalia Rezeki (kanan), saat menerima penghargaan Kalpataru dari Wakil Menteri LHK, Alue Dohong (kiri)

Melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup provinsi Kalimantan Selatan, Hanifah Dwi Nirwana, Sahbirin mengaku bangga atas pencapaian yang telah diraih oleh yayasan yang telah berdiri sejak 2012 lalu tersebut.

“Bapak Gubernur mengucapkan selamat atas diraihnya penghargaan Kalpataru yang didapatkan oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia,” ucapnya.

Yayasan SBI lanjut Hanifah, terpilih dari 184 usulan oleh 18 provinsi, yang terdiri dari 63 kategori perintis, 25 kategori pengabdi, 57 kategori penyelamat, dan 39 kategori pembina.

“Sahabat Bekantan Indonesia adalah salah satu dari tiga penerima penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan hidup pada tahun ini, dari 25 usulan di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Hanifah menuturkan, sejak 2012 lalu Yayasan SBI telah memberikan perhatian serius pada program perlindungan dan pelestarian Bekantan sebagai hewan endemik Kalsel yang kawasan konservasinya hampir punah.

Pemprov Kalsel sendiri diakuinya, sebelumnya juga telah memberikan penghargaan “Sasangga Banua” kepada Pimpinan Yayasan SBI, sebagai pejuang lingkungan kategori perorangan, atas kepedulian, komitmen, prakarsa dan motivasi yang secara terus menerus untuk lingkungan.

“Selain itu SBI juga mendapatkan berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri atas kiprah konservasi yang dilakukan,” tuturnya.

Hanifah menambahkan, Gubernur Kalsel juga mengajak seluruh masyarakat, untuk ikut memberikan perhatian dan berpartisipasi nyata dalam pelestarian lingkungan hidup Banua.

“Mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, mulai sekarang juga,” tutupnya. (SYA/RDM/RH)


sumber :

https://abdipersadafm.co.id/2022/07/21/raih-penghargaan-kalpataru-tahun-2022-gubernur-kalsel-apresiasi-yayasan-sbi/

SBI makin semangat jaga kelestarian bekantan usai raih Kalpataru

Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) memastikan makin semangat menjaga kelestarian kera hidung panjang khas di tanah Borneo, yakni bekantan usai meraih penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Amalia rezeki

Ketua Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Amelia Rizki saat menerima hadiah peraih Kalpataru dari Gubernur Kalsel pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2022 di halaman Kantor Gubernur Kalsel di Kota Banjarbaru, Selasa, menyatakan rasa syukurnya atas penghargaan tertinggi nasional tersebut.

Pihaknya akan menerima secara resmi piala penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan dari pemerintah pusat yang acaranya bertempat di Bogor pada Kamis ini. 

"Kami sudah menerima surat resminya atas penghargaan Kalpataru ini, ini merupakan hasil kerja keras bersama, bukan perorangan, harapannya jadi semangat bagi generasi muda daerah ini untuk ikut menjaga kelestarian bekantan," tuturnya.

Amalia menyatakan, bahwa kehidupan hewan endemik bekantan sudah sangat terancam, karena kawasan konservasinya sudah mulai punah.

"Karenanya ini jadi sorotan pemerintah pusat," ujarnya.

Pihaknya di SBI, ucap Amelia, terus berupaya agar kehidupan bekantan dan wilayah tempat tinggalnya dapat tetap lestari, karena kera hidung panjang ini hanya ada di hutan Kalimantan.

Memang, kata dia, tempat konservasi bekantan yang khusus saat ini di Pulau Curian di daerah Kabupaten Barito Kuala, Kalsel.

Pihaknya berupaya terus memperluas ke wilayah lain di provinsi Kalsel ini hingga daerah di provinsi tetangga.

"Kita melakukan rescue itu bahkan lintas Kalsel hingga Kalimantan Tengah (Kalteng)," ujarnya.

Amelia juga menyatakan, SBI juga menjalin komunikasi dengan 3 provinsi lainnya, Kaltim, Kalbar dan Kaltara.

"Ini semua untuk penyelamatan bekantan, memang untuk penyelamatan mangrove atau hutan bakau di Pulau Curik, ini diharap jadi contoh untuk daerah lainnya, karena sebaran habitat bekantan itu banyak juga di luar lahan konservasi," ujar Amelia.

Dia pun menyampaikan, populasi bekantan sesuai data BKSDA pada 2013 sekitar 5 ribu ekor di wilayah Kalsel 

"Sekarang 50 persen menurun, karena banyak faktor eksternalnya," ungkap Amelia.

Di antaranya, tutur dia, kebakaran hutan, perburuan liar.

"Karena juga ada masyarakat yang masih memakan daging bekantan," ujarnya.


https://kalsel.antaranews.com/amp/berita/330945/sbi-makin-semangat-jaga-kelestarian-bekantan-usai-raih-kalpataru


Selamatkan mangrove rambai demi Bekantan

Sekelompok bekantan nampak asik bergelantungan di atas batang pohon rambai yang menjadi tumbuhan mangrove (bakau) di atas lahan basah perairan Sungai Barito kawasan Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Sel
atan. 


Bekantan

Sebagian ada yang sedang memakan buahnya sembari menggendong anak Bekantan di pangkuan sang induk betina.

Aktivitas kehidupan Bekantan di pohon rambai ini menjadi pemandangan menarik bagi para wisatawan minat khusus berkunjung ke Pulau Curiak yang kini jadi pusat riset dan konservasi bekantan di luar kawasan konservasi oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Populasi Bekantan di Pulau Curiak mengalami peningkatan jumlah dari 14 individu selama 2016 menjadi 38 ekor pada 2023 yang dicatat SBI.

Menurut Amalia Rezeki, pendiri sekaligus CEO SBI foundation, peningkatan populasi Bekantan seiring dengan peningkatan restorasi mangrove rambai yang menjadi tempat hidup sosok primata endemik Pulau Kalimantan tersebut.

Sejak 2017, SBI telah melakukan penanaman lebih dari 15 ribu bibit pohon rambai dan pada tahun ini rencananya ditambah 10 ribu batang tersebar di kawasan Stasiun Riset Bekantan dan Mangrove Rambai Center di Anjir Muara Pulau Curiak dan sekitarnya.

Restorasi mangrove rambai merupakan program yang untuk pertama kalinya dicanangkan oleh Amel, sebutan akrab Amalia Rezeki sang doktor konservasi Bekantan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Baginya untuk menyelamatkan Bekantan, mesti menyediakan habitat berupa hutan mangrove rambai.

Di sisi lain memulihkan habitat Bekantan, berarti memulihkan ekosistem lahan basah berupa hutan mangrove rambai, yang juga menjadi upaya mitigasi bencana iklim akibat pemanasan global.

Selain penguatan kapasitas masyarakat lokal dalam upaya pelestarian mangrove, SBI juga sudah membangun "green house" mangrove rambai sebagai pusat pembibitan tumbuhan rambai.

Green house yang dibangun cukup menampung sekitar 10.000 bibit rambai yang disemai secara generatif dan dikelola oleh Kelompok Nelayan Peduli Lingkungan  Mangrove Rambai Lestari binaan SBI sejak lima tahun lalu.

Amel pun bertekad Pulau Curiak menjadi role model pemulihan ekosistem kawasan lahan basah terutama mangrove rambai di dunia.

Tekad Amel ini didukung sepenuhnya berbagai pihak yang peduli terhadap upaya konservasi Bekantan dan ekosistem, salah satunya PT Pamapersada Nusantara Banjarbaru yang menyokong pembangunan green house di Pulau Curiak.

Deputy BBSO Head Pamapersada Nusantara Arif Cahyadi mengatakan pembangunan green house adalah bentuk keberlanjutan komitmen pihaknya yang telah menjalin kerja sama dengan SBI selama lima tahun mendukung upaya pelestarian satwa endemik Kalimantan, serta pemulihan ekosistem mangrove, terutama jenis tumbuhan rambai yang memiliki dampak positif bagi penyerap karbon untuk penanganan perubahan iklim.

Sahabat Bekantan Indonesia bersama tim peneliti Universitas Lambung Mangkurat berupaya menyelamatkan keberadaan pohon rambai terbesar dan tertua di kawasan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak.

Memiliki tinggi sekitar 25 meter dan lingkar batang hingga mencapai 2,71 meter, pohon rambai yang berada tepat di samping bangunan Camp Research Tim Roberts yang menjadi pusat studi dan penelitian bekantan serta ekosistem lahan basah itu kini terus dipelihara secara alami.

Secara ilmiah pada umumnya pohon rambai memiliki usia tumbuh antara 25 hingga 30 tahun hingga memasuki fase akhir dengan ditandai daun yang luruh serta pelapukan batang pohon dan kemudian mati.

Pohon rambai atau pidada merah merupakan salah satu jenis tanaman mangrove (bakau) yang tumbuh pada substrat dari kombinasi dominan lumpur dan pasir dengan kedalaman berkisar antara 18 hingga 22 centimeter serta selalu tergenang air.

Amel mengemukakan rencana menjadikan tempat tumbuh pohon rambai tua tersebut sebagai objek konservasi dan sekaligus wisata minat khusus, selain wisata konservasi bekantan yang telah dikelola sebagai Pusat Riset Ekosistem Lahan Basah di Kalimantan Selatan.

Alhasil, wisatawan bisa mendapat pengetahuan tentang pohon rambai raksasa dan pentingnya menjaga keberadaan pohon secara lestari bagi planet bumi.

Adapun perubahan iklim yang ekstrem, bencana alam dan peningkatan suhu panas bumi adalah salah satu akibat dari kerusakan alam karena berkurangnya pohon di muka bumi.

Sudah saatnya membangun mata rantai kepedulian bersama dengan melakukan aksi nyata dalam menyelamatkan peradaban di bumi melalui upaya sederhana dengan menanam pohon sebagai masa depan dan peradaban masyarakat di dunia.

Untuk itulah, Amel mewajibkan setiap pengunjung ke kawasan Pulau Curiak untuk menanam pohon, terutama pohon rambai agar tetap terjaga populasinya dan lestari.

Pulau Curiak yang kini resmi ditetapkan sebagai salah satu situs Geopark Meratus di rute barat dengan tema "Pesona susur sungai orang Banjar" terus menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung.

Letaknya yang berada tak jauh dari Pulau Bakut sebagai pulau di bawah Jembatan Barito, jembatan sepanjang 1.082 meter melintasi Sungai Barito akses Jalan Trans Kalimantan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Tengah.

Pulau Bakut merupakan kawasan konservasi bekantan yang dijaga kelestarian oleh pemerintah dan terlarang bagi masyarakat mengambil dan memperjualbelikan satwa dilindungi yang ada di dalamnya.

Sementara Pulau Curiak diinisiasi SBI untuk dijadikan konservasi bekantan di luar kawasan konservasi.

Bagi wisatawan yang ingin ke Pulau Curiak, cukup menumpangi kapal kecil atau perahu bermesin dari dermaga di bawah Jembatan Barito dengan jarak tempuh sekitar 30 menit menyusuri sungai.

Dalam wisata minat khusus yang dikembangkan SBI bertajuk "Bekantan Ecotour", pengunjung diajak menyusuri trek hutan mangrove atau bakau hasil restorasi.

Objek wisata minat khusus banyak dimanfaatkan sejumlah sekolah dan perguruan tinggi untuk edukasi serta penelitian keragaman hayati khas lahan basah.

Bahkan setiap bulan ada pelajar dan mahasiswa yang berkunjung ke Stasiun Riset Bekantan baik lokal maupun manca negara.

"Bulan Juni lalu ada wisatawan dari Jepang dan Hongkong berjumlah sekitar 20 orang, serta bulan Juli ini rencananya 40 mahasiswa dari Australia," kata Amel.

Mengedepankan wisata alam yang ramah lingkungan, Pulau Curiak siap berkontribusi menciptakan kelestarian alam bersama 54 situs lainnya di Kalimantan Selatan yang membentang di kawasan Pegunungan Meratus sebagai Geopark Nasional Indonesia dan kini dalam penilaian menjadi UNESCO Global Geopark.

https://kalsel.antaranews.com/amp/berita/377853/selamatkan-mangrove-rambai-demi-bekantan

Senin, 20 Maret 2023

SBI Terima Kalpataru

Banjarmasin – Penyelamtan bekantan yang terancam punah di Kalimantan Selatan oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) berbuah Kalpataru 2022 yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan dari Pemerintah Republik Indonesia.

Amalia rezeki

“Alhamdulilah Kalpataru ini untuk semua orang yang peduli terhadap pelestarian bekantan sebagai maskot fauna Kalimantan Selatan,” kata Ketua SBI Amalia Rezeki di Banjarmasin.

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, menyelamatkan bekantan tidaklah mungkin tanpa menyelamatkan habitat alaminya. Untuk itu, dia memulai dengan program wakaf lahan melalui aksi beli kembali lahan.

Sejengkal demi sejengkal lahan bekas habitat bekantan yang telah beralih fungsi, dibeli kembali oleh SBI kemudian direstorasi melalui penanaman pohon mangrove (bakau) reparian jenis rambai yang jadi pakan utama bekantan.

Selain sebagai habitat bekantan, kata Amel, hutan mangrove rambai mampu menyerap karbon empat kali lipat lebih besar dari hutan tropis lainnya. Hal ini penting bagi mitigasi pemanasan global yang memicu perubahan iklim dan bencana iklim.

“Untuk itulah kata kunci kami adalah selamatkan bekantan selamatkan peradaban manusia,” tuturnya.

Amel menyebut apa yang pihaknya lakukan selaras dengan program pemerintahan Presiden Joko Widodo di bidang pemulihan ekonomi nasional melalui program restorasi mangrove yang diharapkan meningkatkan pendapatan masyarakat dengan kegiatan pembibitan dan penanaman mangove, budi daya perikanan, ekowisata, dan pengelolaan produk buah yang bisa menjadi kuliner khas daerah setempat.

Makanya selain fokus pada upaya konservasi dan penelitian terhadap primata unik endemik Kalimantan yang keberadaannya terancam punah di Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, tim SBI yang dikomando Amel juga membangun Taman Buah Lokal Mekar Lestari di Desa Wisata Muara Kanoco, Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala.

Di lokasi ini, ditanami aneka jenis buah lokal lahan basah dan pesisir sungai termasuk buah kasturi yang merupakan maskot flora Kalimantan Selatan dan telah dinyatakan punah status konservasinya oleh Lembaga Konservasi Dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature).

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Alue Dohong menyerahkan penghargaan Kalpataru tahun 2022 kepada 10 orang penerima dan penghargaan Nirwasita Tantra tahun 2021 kepada 42 orang kepala daerah.

Salah satu penerimanya Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) di Kalimantan Selatan. SBI berawal dari komunitas yang memberikan perhatian serius pada program perlindungan dan pelestarian bekantan dengan misi “Save Our Mascot” dan tahun 2018 melalui program “Bekantan Goes Global”.

Amel mewakili seluruh tim SBI menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah memberikan penghargaan Kalpataru.

Dia menyatakan Menteri LHK Siti Nurbaya telah memberikan dukungan serta binaan dengan baik, sehingga menjadi inspirasi dan semangat timnya untuk terus bergerak dalam memuliakan alam dan planet bumi ini, dengan cara yang sederhana.

“Kepada Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, semangat beliau melalui revolusi hijaunya telah merasuk dalam jiwa kami. Capaian ini tidak lepas dari peran gubernur Paman Birin,” tuturnya.

Terima kasih juga disampaikannya kepada Walikota Banjarmasin Ibnu Sina serta Hj Noormiliyani AS, Bupati Barito Kuala atas kolaborasi serta dukungan yang luar biasa selama ini.

Dukungan penuh Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Sutarto Hadi dan seluruh civitas akademica terhadap pelestarian monyet hidung panjang itu juga sangat berjasa bagi perjuangan SBI, sehingga Amel dan timnya begitu terbantu.

SBI hanya sebuah perjalanan panjang dari komunitas kecil yang peduli lingkungan dan planet bumi ini. Bergerak dari sekumpulan mahasiswa yang cinta akan negeri ini dan memilih mengabdi di bidang lingkungan dengan cara memuliakan alam.

Kemudian kepada yang warga Desa Marabahan Baru, Anjir Serapat Muara 1 dan Anjir Serapat Muara, Amel sangat berterima kasih.

“Mari kita bangun desa kita dari desa tertinggal menjadi desa maju dan makmur serta lestari. Bersama kita bisa. Salam lestari Indonesiaku,” ucapnya. (Ant)

Jumat, 02 September 2022

Baby Proboscis Monkey Born in Sanctuary in South Kalimantan

TheIndonesia.id - A baby proboscis monkey was born outside the conservation area of Curiak Island, Barito Kuala Regency, South Kalimantan (South Kalimantan), which is managed by the Indonesian Proboscis Monkeys Foundation (SBI) with Lambung Mangkurat University (ULM) and the local government.

Bayi Bekantan

"Born in the Proboscis Monkey Research Station area from an alpha adult female proboscis monkey," said the founder of the Indonesian Proboscis Monkey (SBI) Foundation Amalia Rezeki in Banjarmasin, Saturday, April 9, 2022.

She said that this rare event was the first birth of a proboscis monkey in the Proboscis Monkey Research Station area throughout 2022. Previously, in 2019, seven proboscis monkeys were born, bringing a total of eight proboscis monkeys born since the research station was inaugurated in 2018.

According to Amel, Amalia Rezeki's nickname, the birth of a baby proboscis monkey is an extraordinary achievement. Small island areas managed and guarded by SBI and local fishing communities have succeeded in contributing to the increase in the proboscis monkey population in Indonesia.

Amel hopes that all stakeholders can help each other save proboscis monkeys in the area by maintaining their remaining habitat so that they do not change functions that can damage the proboscis monkey habitat and the rambai mangrove forest ecosystem. Not only for proboscis monkey rescue efforts but also for the fate of traditional fishermen who depend on rivers and mangrove forests as a place for freshwater fish that make a living for local fishermen.

To save the remaining proboscis monkeys in the Curiak Island area, Amel and the team at SBI carried out three important and strategic programs in the field of conservation. First, building a "greenbelt" (green belt) as a buffer zone for proboscis monkeys. Second, the "buyback land" program or buyback land that has changed functions. Third, restoration of the rambai mangrove by replanting mangrove trees, especially the rambai tree species which is the main stand and feed for proboscis monkeys.

The Proboscis Monkey Research Station is a role model for the management of proboscis monkey habitat areas outside the conservation area that has succeeded in restoring proboscis monkey habitat and increasing the population of orange and long-nosed monkeys naturally by more than 100 percent within 5 years.

In 2016, the population of proboscis monkeys which is the fauna mascot of South Kalimantan on Curiak Island was around 14 individuals. Then until April 2022, this has increased to 31 individuals.

This article from theindonesia.id

Meet the Indonesian woman who dedicates her life to saving South Kalimantan’s proboscis monkeys

BANJARMASIN: With a huge nose and reddish-brown skin, the proboscis monkey is not everyone’s favourite animal.

Amalia Rezeki

But Indonesian Amalia Rezeki, conservationist and founder of the friends of proboscis monkey voluntary group, has made it her mission to save the endemic species.

The proboscis monkey is native to Borneo and scattered throughout all five of Indonesia’s provinces on the island it calls Kalimantan.

However, it is in South Kalimantan, whose provincial mascot is the proboscis monkey, where the animals could in the past be found in large numbers. They thrived around the mangroves, swamps and coastal forests.

Bekantan

While there are several conservation centres for endangered animals in South Kalimantan, they mostly take care of other animals like orangutans, said Rezeki.

“That is why we are focusing on the proboscis monkeys, and also because I am a native of South Kalimantan,” she told CNA.

According to the International Union for Conservation of Nature’s Red List of Threatened Species, the proboscis monkey is classified as endangered. 

Its population has decreased by more than 50 per cent in the past 50 years due to ongoing habitat loss and hunting. 

It is estimated there are less than 20,000 proboscis monkeys in the world, surviving mainly on leaves, mangroves and seeds.

According to Rezeki, there were only about 3,200 proboscis monkeys in South Kalimantan two years ago, compared to about 5,000 in 2013.

Concerned with the monkey’s declining numbers, she founded the volunteer group Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) in 2013 while studying biology for her master’s degree. 

Sahabat Bekantan means friends of proboscis monkeys. Bekantan is the Indonesian name for the primate. 

SBI’s goal is to save proboscis monkeys from going extinct. 

“It is our responsibility as citizens. We know there are many foreigners in NGOs (Non-governmental organisations helping in the conservation efforts). 

However, it is our (Indonesia’s) biodiversity, so we should do something,” said Rezeki. 

DEFORESTATION AND CRIME

When SBI first started, Rezeki and other volunteers had to use their own money to run their programmes. Today, the group operates as a foundation.

It has a full time staff of 20 people and up to 200 volunteers who help out at the foundation periodically.

Programmes run by SBI include educating the public about the monkey through visits to schools, short courses, internships and volunteering programmes.

The group also has a proboscis monkey rescue centre in Banjarmasin, the former capital of South Kalimantan.

Speaking to CNA at SBI’s Banjarmasin rescue centre, Rezeki said that the centre helps to rehabilitate proboscis monkeys rescued from forest fires, illegal trade, and conflict with local population who live near forested areas. 

Since 2015, SBI’s volunteers have handled nearly 50 such cases, usually through tip-offs from the public when the monkeys needed to be rescued.

According to Rezeki, there were instances when the monkeys were hit by vehicles, poisoned by local indigenous people who believe their meat is good to consume or to be rescued from people who keep the animal as pets.

“There are many cases. Some suffered from burns, some from physical injuries and trauma.”

If the injury is not too severe, they will be treated at SBI’s rescue centre by a volunteer vet and then released to the wild in a few months, she said.

But when the wound is too severe, they will be treated at an animal clinic.

“Once there was a monkey with a gunshot wound and 11 bullets on his body. So there are various conflicts.

"We also try to educate people that if you keep a monkey as a pet, it is illegal and they can be imprisoned,” Rezeki said.

At the moment, there are four proboscis monkeys at SBI, reflecting a lower number of incidents involving the species. 

“So it is a good indicator because once there were 14 proboscis monkeys here being treated,” she said. 


WELCOMING A BABY

In March, the rescue centre even welcomed the arrival of Hanny, a baby proboscis monkey whose name was given by Minister of Environment and Forestry Siti Nurbaya Bakar. This was a rare event at the centre.

Hanny’s parents Pedro and Mimin are both being treated at the centre after being kept as pets by locals in separate places.

“Coincidentally we evacuated an adult male monkey and a female adult. They got together, then both had a baby,” said Rezeki.

According to Rezeki, this showed that the centre helped to reduce the trauma experienced by both monkeys, so that they did not feel too stressful to have a baby. 

The family of three is now still there with another rescued proboscis monkey, not part of their family.

There are 12 conservation centres for endangered animals in South Kalimantan but Rezeki believes the proboscis monkeys are still threatened because there are not enough shelters to protect them. 

"The threat to the proboscis monkey population comes from the change of land use, forest fires and others.

“So we are trying to protect the buffer zone here because the threat is very high," said Rezeki, who is now also a biology lecturer at Lambung Mangkurat University in Banjarmasin. 

She said that SBI has set up a research centre at Pulau Curiak, a small island in South Kalimantan, where they can release the monkeys into the rainforests.

When they first started the centre in 2018, there were only 14 proboscis monkeys there. Now, there are 33.

The group has also been restoring mangroves at Curiak island since 2015.

“The key to saving the proboscis monkeys is to save their habitats,” she said.

Rezeki said that the group will try to restore any mangroves where they find proboscis monkeys in the wild.

“Our dream is that humans can live with proboscis monkeys. Don't let them be considered pests.

"Because many people think they are pests when they enter their garden, even though they are just passing through."

ECOTOURISM TO SUPPORT CONSERVATION

When the group realised that it was not sustainable to rely on their own pocket money to run their programmes, Rezeki and her team developed a proboscis monkey ecotourism programme in 2018.

Under the programme, three villages on Curiak island have been developed as tourist destinations which involve the participation of local villagers. 

As proboscis monkeys are sensitive to outsiders including foreign tourists, SBI limits the number of tourists to a maximum of 100 daily. 

Before the COVID-19 pandemic, there were many foreign tourists who were interested in learning about the monkeys, especially from Australia, Europe and the United States. 

But the programme had to be stopped due to the pandemic in 2020 and when all Indonesia’s borders were closed.

When the borders reopened at the end of 2021, SBI decided to pick up where it left off. 

The proboscis monkey, scientifically named as Nasalis larvatus, is a unique creature known to be a prolific swimmer and can dive in the water. 

They are also believed to have many interesting ways of life, including a unique family system which is almost similar to humans, said Rezeki. 

“They have a babysitter system. So when a mother is busy, a younger female will help babysit the baby,” she said.

According to the biologist, a proboscis monkey can live up to 30 years, grow up to around 75cm and weigh 25kg.

Rezeki, however, said there are many aspects of the proboscis monkey that need to be studied further.

She hopes that more people would show their concern for the fate of the monkeys and would want more efforts to be taken to protect the animals. 

This includes efforts to conserve their habitat and surroundings by protecting the environment as a whole.   

“We have to show that Indonesians also have great concern for the environment. 

Don’t let other people label us as environment destroyers,” said Rezeki.   


This artikel from Channelnewasia

Senin, 29 Agustus 2022

4 Ekor Bayi Bekantan Lahir di Pulau Curiak Bertepatan Kedatangan Mahasiswa Summer Course Dari Australia

BANJARMASIN - Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Anjir Muara Kabupaten Barito Kuala, kembali sambut 4 kelahiran bayi bekantan dari 4 indukan betina dari kelompok alpha.  Menurut Founder Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Amalia Rezeki, kemunculan bayi bekantan tersebut, terlihat disaat kunjungan 20 mahasiswa Summer Course 2022 dari Australia.  Hal itu tentunya membawa kabar gembira bagi konservasi, tidak saja di Indonesia, tetapi juga di dunia.  “Kelahiran bayi bekantan ini, merupakan sebuah capaian yang luar biasa. Di kawasan pulau kecil yang dikelola dan dijaga oleh Yayasan SBI, serta masyarakat nelayan setempat telah berhasil menyumbang penambahan populasi bekantan di dunia,“ ungkap Amalia  Perempuan yang sering disapa Amel itu pun berharap, semua pemangku kepentingan bisa saling membantu satu sama lain menyelamatkan bekantan di kawasan tersebut.  "Yakni dengan menjaga habitatnya yang tersisa agar tidak beralih fungsi yang dapat merusak habitat bekantan dan ekosistem hutan mangrove rambai. Yang juga sangat penting bagi mitigasi perubahan iklim akibat pemanasan global yang melanda dunia saat ini," ujarnya.  

Pulau Curiak

Sementara itu, Prof. Timothy Roberts Kilgour pimpinan rombongan kegiatan Summer Course, menyambut gembira kelahiran bekantan dikawasan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak. “Sungguh mengagumkan menyaksikan perkembangan stasiun riset bekantan yang empat tahun lalu saya hadir pada pendiriannya. Ekosistemnya sangat terjaga, sehingga bekantan bisa berkembang biak dengan baik," jelasnya disela kegiatan Summer course.  Dilanjutkannya, pihaknya turut mengapresiasi kerja keras Amalia Rezeki dan tim dari SBI dalam menjaga dan merawat kawasan habitat bekantan yang berada diluar kawasan konservasi.  Untuk itu ia juga membawakan donasi dari mahasiswa alumni Summer Course 2018, berupa perlengkapan medis satwa serta uang tunai untuk membantu kegiatan konservasi SBI.  

Summer course di pulau curiak

Foto bekantan dan bayinya


Diketahui, untuk menyelamatkan bekantan yang tersisa di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak, Amalia Rezeki dan tim di SBI melakukan 3 program penting dan strategis di bidang konservasi.  Pertama, membangun "greenbelt" (sabuk hijau) sebagai kawasan penyangga habitat bekantan. Kedua, program "buy back land" atau membeli kembali lahan yang telah beralih fungsi.  Dan terakhir yakni, restorasi mangrove rambai dengan menanam kembali pohon mangrove, khususnya jenis pohon rambai yang merupakan tegakan dan pakan utama bekantan.  

Artikel dari Hallo Banua

Selasa, 19 April 2022

Hanny' The Name Given By Minister Siti For Baby Proboscis Monkeys In Banjarmasin

BANJARMASIN - Indonesian Minister of Environment and Forestry Siti Nurbaya Bakar gave the name "Hanny" to the baby proboscis monkey who was born at the Proboscis Monkey Rescue Center Banjarmasin, South Kalimantan on March 10, 2021.

Bayi Bekantan Pulau Curiak

"Alhamdulillah, the LHK Minister is pleased to give a name for the birth of this new proboscis monkey," said Amalia Rezeki, Chairperson of the Indonesian Proboscis Monkeys Foundation (SBI), in Banjarmasin, as reported by Antara, Wednesday, March 30.

The name "Hanny" was officially stated on the certificate of naming signed by the Minister of Environment and Forestry for the female proboscis monkey.

According to Amel, Amalia Rezeki's nickname, the minister appreciated SBI's performance in efforts to conserve proboscis monkeys in South Kalimantan.

Moreover, the birth of a baby proboscis monkey in a proboscis monkey care center this time is a rare event and is an achievement in itself for the conservation world, especially for SBI and BKSDA South Kalimantan.

Why not, in the midst of the threat of the proboscis monkey population due to land conversion, forest fires and poaching, it turns out that there is still hope for an ex-situ increase in the proboscis monkey population, especially those deposited that can give birth.

The Minister of Environment and Forestry previously released a female proboscis monkey named Lola Amalia on Bakut Island, Barito Kuala Regency, South Kalimantan on February 18 2017. The name Lola Amalia was given by Siti Nurbaya as a form of appreciation for the dedication of Amalia Rezeki as the chairman of the Indonesian Bekantan Friends who have been carrying out efforts to save proboscis monkeys in South Kalimantan.

Amel was even sent by the Ministry of LHK to attend a meeting of the environmental youth forum among ASEAN countries and at the same time won the 2019 ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) which was held in Cambodia.

Amel also explained that Hanny was born to the mother pair of Mimin (female) and Pedro (male). The two animals were handed over from the community which were kept since they were babies and when they were adults they were handed over to SBI to be rehabilitated because their natural behavior had disappeared. During treatment, the two proboscis monkeys showed symptoms of lust until they were combined to mate and finally gave birth.

Kamis, 14 April 2022

Seekor bayi bekantan lahir di luar kawasan konservasi Pulau Curiak

Banjarmasin (ANTARA) - Seekor bayi bekantan lahir di luar kawasan konservasi Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel), yang dikelola Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan pemerintah daerah setempat.

Bayi Bekantan

Lahir dalam kawasan Stasiun Riset Bekantan dari seekor bekantan betina dewasa kelompok alpha, kata founder Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Foundation Amalia Rezeki di Banjarmasin, Sabtu. Ia mengatakan peristiwa langka itu merupakan kelahiran pertama bayi bekantan di kawasan Stasiun Riset Bekantan sepanjang tahun 2022. Sebelumnya, tahun 2019 telah lahir tujuh ekor bekantan, sehingga total delapan ekor bekantan yang dilahirkan sejak stasiun riset itu diresmikan tahun 2018. 

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kelahiran bayi bekantan merupakan sebuah capaian yang luar biasa. Di kawasan pulau kecil yang dikelola dan dijaga oleh SBI serta masyarakat nelayan setempat telah berhasil menyumbang penambahan populasi bekantan di Indonesia. 

Amel berharap semua pemangku kepentingan bisa saling membantu satu sama lain menyelamatkan bekantan di kawasan tersebut dengan menjaga habitatnya yang tersisa agar tidak beralih fungsi yang dapat merusak habitat bekantan dan ekosistem hutan mangrove rambai. Tidak saja bagi upaya penyelamatan bekantan, tetapi juga nasib nelayan tradisional yang bergantung pada sungai serta hutan mangrove sebagai tempat bagi ikan air tawar yang menjadi penghidupan nelayan sekitar. 

Untuk menyelamatkan bekantan yang tersisa di kawasan Pulau Curiak, Amel dan tim di SBI melakukan tiga program penting dan strategis di bidang konservasi. 

Pertama, membangun greenbelt (sabuk hijau) sebagai kawasan penyangga habitat bekantan. 

Kedua, program buy back land atau membeli kembali lahan yang telah beralih fungsi. 

Ketiga, restorasi mangrove rambai dengan menanam kembali pohon mangrove, khususnya jenis pohon rambai yang merupakan tegakan dan pakan utama bekantan. Stasiun Riset Bekantan merupakan role model pengelolaan kawasan habitat bekantan di luar kawasan konservasi yang telah berhasil merestorasi habitat bekantan dan melakukan penambahan populasi monyet berwarna oranye dan berhidung panjang secara alami mencapai 100 persen lebih dalam kurun waktu 5 tahun. 

Awalnya pada tahun 2016, populasi bekantan yang menjadi maskot fauna Kalimantan Selatan di Pulau Curiak sekitar 14 ekor. Kemudian sampai bulan April 2022 ini telah bertambah menjadi 31 ekor.

Pewarta: Firman Editor: Bambang Sutopo 

Menteri LHK beri nama "Hanny" si bayi bekantan di Banjarmasin

Banjarmasin (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya Bakar memberikan nama Hanny untuk si bayi bekantan yang lahir di bekantan Rescue Center Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 10 Maret 2021 lalu. 

Menteri LHK Namai Bayi Bekantan Hanny

Alhamdulillah ibu Menteri LHK berkenan memberikan nama untuk kelahiran anak bekantan terbaru ini, kata Ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Amalia Rezeki di Banjarmasin, Rabu. 

Nama Hanny pun tertuang resmi pada sertifikat pemberian nama yang ditandatangani Menteri LHK untuk bekantan berjenis kelamin betina itu.

Bayi Bekantan "Hanny"

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, sang menteri mengapresiasi kinerja SBI dalam upaya pelestarian bekantan selama ini di Kalimantan Selatan. Apalagi kelahiran bayi bekantan di tempat perawatan bekantan sementara kali ini adalah kejadian langka dan merupakan prestasi tersendiri bagi dunia konservasi, terutama bagi SBI dan BKSDA Kalsel. Betapa tidak, di tengah keterancaman populasi bekantan akibat akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan dan perburuan liar, ternyata masih ada harapan penambahan populasi bekantan secara ex-situ, terutama hasil titipan yang bisa melahirkan.

Sertifikat pemberian nama bayi bekantan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya Bakar. Menteri LHK sebelumnya juga pernah melepasliarkan bekantan betina bernama Lola Amalia di Pulau Bakut, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan pada 18 Februari 2017 lalu.

Nama Lola Amalia diberikan oleh Siti Nurbaya sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Amalia Rezeki selaku ketua Sahabat Bekantan Indonesia yang selama ini melakukan upaya penyelamatan bekantan di Kalimantan Selatan. Bahkan Amel pernah diutus oleh Kementerian LHK mengikuti pertemuan forum pemuda lingkungan hidup antar negara ASEAN dan sekaligus meraih penghargaan ASEAN Youth Eco-champions Award (AYECA) 2019 yang dilaksanakan di negara Kamboja. 

Amel menjelaskan pula Hanny lahir dari pasangan induk Mimin (betina) dan Pedro (pejantan). Kedua satwa tersebut serahan dari masyarakat yang dipelihara sejak bayi dan setelah dewasa diserahkan ke SBI untuk direhabilitasi karena prilaku alaminya telah hilang. Selama dalam perawatan kedua bekantan tersebut menunjukkan gejala birahi hingga digabungkan untuk kawin dan akhirnya melahirkan.​​​​​​ 

Menteri LHK teken Sertifikat Bekantan Awards 2022

Banjarmasin (ANTARA) - Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) menyebutkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar telah meneken Sertifikat Bekantan Awards 2022 yang nantinya diberikan kepada penerima anugerah saat peringatan HariBekantan pada 28 Maret 2022.

Menteri LHK apresiasi Sahabat Bekantan Indonesia

"Alhamdulillah Ibu Menteri berkenan menandatangani langsung Sertifikat Awards-nya sebagai wujud dukungan nyata Beliau dalam upayakonservasi bekantan," kata pendiri SBI Foundation Amalia Rezeki di Banjarmasin, Minggu.

Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, Menteri LHK menyambut baik perhelatan Bekantan Awards 2022 yang diselenggarakan oleh Yayasan SBI bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Menteri LHK memberi apresiasi atas upaya penganugerahan bagi insan yang peduli dan berdedikasi tinggi melestarikan bekantan dan lingkungan.

"Ibu Menteri berharap momentum penganugerahan Bekantan Awards menjadi inspirasi positif dan motivasi dalam upaya pelestarian bekantan dan lingkungan karena menyelamatkan bekantan berarti menyelamatkan peradaban manusia," kata Amel mengutip pernyataan Menteri LHK.

Bagi Siti Nurbaya, konservasi bekantan adalah keharusan demi menyelamatkan maskot fauna Kalimantan Selatan itu dari ancaman kepunahan.

Lima tahun lalu, Yayasan SBI yang dikomandoi Amalia Rezeki melepasliarkan seekor bekantan yang diberinya nama Lola Amalia.

Nama Lola itu sendiri menurut dia adalah Batola, tempat atau lokasi pelepasliaran bekantan. Sedangkan Amalia diambil dari nama sang pelestari bekantan Amalia Rezeki, perempuan peraih ASEAN Youth Eco Champion 2018 di Cambodia atas dedikasinya terhadap pelestarian bekantan.

Tahun 2022 ini merupakan peringatan Hari Bekantan yang ketujuh. Hari bekantan adalah gerakan moral di bidang konservasi yang diprakarsai Amalia Rezeki bersama komunitas pecinta lingkungan di Kalimantan Selatan untuk menggalang kepedulian terhadap upaya konservasi monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna cokelat kemerahan tersebut.

Tanggal 28 Maret dipilih karena pada hari itu DPRD menetapkan bekantan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan yang kemudian disahkan berdasarkan SK Gubernur Kalsel No 29 Tahun 1990 tanggal 28 Maret 1990.

Peringatan Hari Bekantan tahun 2022 ini diisi dengan rangkaian acara aksi penanaman mangrove rambai di kawasan Stasiun Riset Bekantan dan puncaknya pada Senin (28/3) diisi seminar internasional menghadirkan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Alue Dohong, Ph.D sebagai pembicara utama.

Selain itu Rektor ULM Prof Sutarto Hadi, Prof Timothy Robert Kilgour dari University of New Castle, Australia, Prof Hadi Sukadi Alikodra peneliti senior bekantan dari IPB dan Amyra Atheefa Sandiaga Uno selaku Youth Internasional Ambassador of Bekantan di New York, Amerika Serikat.


Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2785313/yayasan-sbi-menteri-lhk-teken-sertifikat-bekantan-awards-2022